SECERCAH HENING
Sabtu, 20 Juli 2024
Mat 12: 14-21
Begegas menanti fajar,
Gapai mimpi tuk dikejar,
Jatuh bangun tuk belajar,
Iklas bakti buang mental makelar.
Hingga berlabuh di ujung senja,
Melayani sebagai hamba,
Tunduk syukur tak terhingga,
Memeluk proses hingga bermakna.
Kegalauan kita hidup di jaman ini, adalah semua kemajuan diukur dari perubahan yg harus terjadi di semua aspek. Secara khusus dibidang industri dan teknologi saat ini, semua orang tengah menyiapkan generasi titanium,atau generasi Indonesia terbaik.Maka semua orang bermimpi hidup sebagai ‘leader’ atau setidaknya menjadi ‘driver’ bagi hidupnya, memimpin sebuah perubahan yang pesat. Dan itulah harga mahal yg harus dibeli untuk menghindari peran sebagai ‘passenger’ atau penumpang. Namun hal itu sangat berbeda dengan pesan Yesus dalam Injil hari ini. Dalam sabdaNya:
“Lihatlah, itu hamba-Ku yang Kupilih, yang Kukasihi, yang kepada-Nya jiwa-Ku berkenan. Aku akan menaruh roh-Ku ke atas-Nya, dan Ia akan memaklumkan hukum kepada bangsa-bangsa… Dan pada-Nyalah bangsa-bangsa akan berharap. “
Yesus sangat memuji hamba yang dipilih-Nya dan kepada-Nya Ia berkenan, ketika Yesus memuji hambanya bukan sekedar memberikan appresiasi tetapi secara tidak langsung mengajak para muridnya untuk menjadi seperti hamba yang kepada-Nya Allah berkenan. Bukan soal status hamba tetapi peran yang dimainkan. Karakter hamba terletak pada sikap untuk mengabdi dan taat pada tuannya. Karakter lain adalah humble dan berjiwa melayani, dan hidup bagi orang lain man for others. Sikap macam ini menjadi karakter langka manakala orang makin hidup secara individualis dan mengejar sukses dan memviralkan diri sebagai agen perubahan. Karakter hamba menjadi daya tarik bagi Yesus karena sebagai individu ia mau keluar dari ego / self dan hidup untuk mendengarkan tuannya dan melayaninya. Kelak hamba menjadi harapan bagi bangsa-bangsa karena ia telah selesai dengan dirinya dan orientasi hidupnya akan makin terarah pada kepentingan orang lain yg lebih luas. Implikasinya bagi kita adalah iman kita kepada Allah hanya mungkin memberi andil bagi keselamatan kita jika kita rela belajar dan melepaskan diri utk berkarakter hamba. Harga diri kita tidak lagi diletakkan pada prestise dan prestasi tetapi seberapa kuat kita makin taat dan mencinta Allah dengan rendah hati. Dan mengarahkan seluruh orientasi hidup kepada Allah supaya membawa kebaikan bagi sesama.
Hal itu tentu tidak mudah, karena sangat berseberangan dengan kenyataan hidup saat ini. Namun sesungguh di titik tertentu, kebahagiaan akan terjadi dalam hidup bersama, manakala masih ada pribadi pribadi yg berkarakter hamba untuk mengada bersama dan tulus melayani dengan hati. Mari jangan ragu untuk memulai, melayani dengan tulus sekecil apapun yg bisa kita buat.
Contemplating
Marilah kita mengheningkan seluruh indera kita agar makin dekat dengan Tuhan.
Actuating
Pola hidup apa yang perlu kubiasakan dan kuubah agar memiliki karakter seorang hamba yg siap hidup bagi sesama.
Reflecting
Apakah hidupku telah kuhayati sebagai pribadi yang rendah hati ? Taat? Siap melayani sesama?
Praying
Allah Bapa yang maha kasih. Ajarilah kami peka menangkap dan merasakan karya-Mu dalam hidup kami setiap hari. Hingga kami makin berani membina diri berkarakter seorang hamba yang setia.Demi Kristus Tuhan kami. Amin.
Salam Veritas
Berkah Dalem
Sr. Albertine. OP
