Gelap meronta di ujung senja,
Air mata jadi teman derita,
Hingga mulut tak punya kata,
Kegelapan menutupi indahnya dunia.
Tiap riak gelombang indah di mata,
Pahit di rasa penuh sara,
Dipeluk erat jadi berkat,
Dia ada di setiap sudut derita.
…Setiap orang dalam hidupnya pasti memiliki gelombang badai kehidupan. Warna dan bentuknya satu sama lain tidak sama. Tergantung Tuhan menghendaki tiap orang ingin dibentuk macam apa dalam sejarah hidupnya. Ada yang gelombang badai kehidupannya berupa sakit berat yg tak tersembuhkan, ada yg berupa kenakalan anak yg tak terkendalikan, ada yg berupa kemiskinan yg mengenaskan, ada yg berupa hutang piutang yg tak terbayarkan, ada yg berupa ketidaksetiaan pasangan atau perceraian, ada yg berupa kegagalan usaha dan kematian. Semua itu bisa terjadi di luar kendali kita.Kita hanya kadang sanggup meminimalkan resiko agar tidak makin fatal. Pengalaman itu juga dialami oleh para murid Yesus. Ketika para murid diombang ambingkan gelombang,karena angin sakal…mereka berteriak teriak karena takut. Tetapi segera Yesus berkata:
” Tenanglah! Aku ini, jangan takut! ” dan kepada Petrus yang ragu Yesus berkata “Datanglah”.
Jawaban Yesus sebenarnya sangat jelas. Para murid memang harus mengalami badai itu. Yesus tidak bermaksud membebaskan dari badai gelombang tetapi para murid hanya diminta percaya ada Yesus bahwa Yesus ada bersama mereka maka mereka akan selamat, “Tenanglah, Aku ini jangan takut! “. Dalam badai kehidupan, kita diminta oleh Yesus keep calm tenang dan percaya, ketenangan yg dimaksud bukan tenang yang pasif, tetapi tenang dalam kebersamaan bahwa Yesus ada. Ketenangan yg demikian identik dengan Keheningan keheningan berarti membiarkan diri mengosongkan ruang batin untuk diisi kehadiran Yesus. Ketenangan atau ‘keep calm’ yang demikian membuat kita tidak takut menghadapi gelombang badai apapun. Karena Tuhan mengisi ruang batinnya. Jika kita telah memiliki sikap hidup kontemplatif ini, maka kehadiran Tuhan akan terlihat secara nyata dan bukan hantu. Namun jika kita menghadapinya dengan panik maka kehadiran Tuhan akan terlihat bagai hantu yang menyeramkan. Caranya agar kita bisa ‘keep calm’adalah jawaban Yesus untuk Petrus: “Datanglah”. Jawaban ini makin jelas. Tuhan tidak akan menghapus badai kehidupan kita, tetapi Tuhan memberikan kita kemampuan untuk berani melewati badai kehidulan dalam kebersamaan dengan-Nya, dengan sikap mau datang kepada-Nya. Kita sering lupa… dan selalu meminta Tuhan yang datang hingga kita menjadi panik, kacau, depresi dengan kehidupan kita. Kita lupa untuk mau datang pada Yesus . Semoga jawaban Yesus atas badai kehidupan yg melanda para murid juga menjadi jawaban untuk kita, untuk tetap calm, manis dan lembut dalam menghadapi aneka gelombang badai kehidupan, asalkan kita rela menyediakan diri kita untuk datang kepada Yesus.
Jangan kalut dan takut menghadapi badai topan hidupmu, rasakan hadirnya selami prosesnya dan cecap rasa sakinya niscaya Tuhan akan menambahkan kekuatan bagimu untuk bisa melewati aneka badai hidupmu dengan tenang dam penuh kedamaian.
Contemplating
Marilah kita satukan jiwa, raga, rasa dan seluruh diri untuk rela datang kepada Yesus.
Actuating
Pola hidup apa yg perlu kubiasakan agar makin tenang menghadapi aneka badai kehidupan karena percaya Yesus ada bersama kita dan membiasakan datang pada Yesus tiap waktu.
Reflecting
Apakah aneka pengalaman sulit telah mengajariku makin peka menangkap kehadiran Tuhan dalam hidup dan bukan hantu.
Praying
Allah Bapa, berilah kami rahmat-Mu agar makin tenang dan matang dalam menyikapi setiap badai kehidupan, Karena Kristus Tuhan kami Amin.
Salam Veritas
Berkah Dalem
Sr. Albertine. OP
