Hidup di era teknologi seakan hidup di benua yg super cepat karena semua aspek dan kebutuhan hidup bisa diwakili dalam besutan dua jari melalui smartphone. Hal ini berpengaruh pada gaya hidup setiap dari kita, semua aspek kehidupan juga ingin dipercepat jika mungkin.
Misalnya anak balita dipercepat sekolahnya, dipercepat lulusnya, dipercepat suksesnya dan cepat segalanya asal tidak dipercepat akhir hidupnya. Hal ini sepintas menjadi sangat bertolak belakang dengan makna hidup beriman mengikuti Yesus. Sebagaimana dalam Injil hari ini:
Yesus berkata kepada murid-murid-Nya:
“Setiap orang yang mau mengikuti Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku”.
Betapa tidak enaknya mengikuti Yesus. Karena konsekuensi kemuridannya adalah Salib. Artinya penderitaan, beban berat, jalan pelan dan terjatuh jatuh dan berakhir kematian. Makna ini jelas melawan arus jaman yg menawarkan kenyamanan hidup dalam berbagai aspek. Tidak ada salib itu mudah, ringan, dijalani cepat dan menyenangkan. Yang terjadi adalah salib itu penuh resiko dan penyangkalan diri. Namun anehnya sampai hari mengapa banyak orang di seluruh dunia masih mengikuti Yesus bahkan tempat -tempat suci perjalanan bagaimana Yesus disalibkan menjadi tempat ziarah paling dirindukan ribuan orang dari seluruh dunia?. Jawabnnya tentu tidak mudah. Namun yg pasti semua kita yg dipanggil dan mengikuti Yesus memandang salib sebagai sebuah konsekuensi dan manifestasi dari Kasih bukan pertama-tama. sebagai beban tetapi sebagai ungkapan syukur karena pengorbanan dan silih itu sempurna. Dengan kesadaran iman yg demikian, maka salib yg harus ditanggung karena mengikuti Yesus adalah sarana atau jalan untuk ikut bersama-Nya memaknai setiap derita sebagai berkat silih untuk kebahagiaan yg sifatnya abadi. Namun dalam kenyataan betapa tidak mudahnya memaknai penderitaan sebagai jalan terbaik untuk bahagia. Namun dengan merenungkan sabda ini setidaknya kita makin dibantu untuk terus memurnikan diri bahwa menjadi murid Kristus adalah dipanggil untuk mengasihi sampai tuntas, terluka, dan salib.Dengan demikian kita makin siap menyambut setiap salib salib kecil kehidupan sebagai saat terbaik untuk makin dekat dengan jalan Tuhan.
Contemplating
Marilah kita satukan jiwa, raga, rasa dalam keheningan,rasakan dan kenali cara Tuhan menawarkan kebahagiaan bagi kita
Actuating
Pola hidup apa yg perlu kubiasakan agar makin peka menangkap setiap realitas sebagai saat menimba kebahagiaan bersama Yesus dalam salib.
Reflecting
Apakah aneka pengalaman sulit telah mengajariku makin peka menangkap wajah Yesus dalam derita salib setiap hari.
Praying
Allah Bapa, berilah kami rahmat-Mu agar makin peka menangkap tanda kehadiran-Mu yang menyelamatkan. Karena Kristus Tuhan kami Amin.
Salam Veritas
Berkah Dalem
Sr. Albertine. OP
