Kekudusan Dalam Kesahajaan

Memeluk hening yg mengada,
Mencinta tiada batas raga,
Selalu ‘Ya’ untuk kehendakNya,
Kekudusan menuntun tuk bersahaja.

Lembut dalam cara,
Indah dalam balutan luka,
Pergumulan tuk ubah dunia,
Bersukacita karena mencinta,

Gereja seluruh dunia hari ini merayakan pesta Kelahiran Santa Perawan Maria. Apa yang istimewa dalam silsilah hidup Maria ? Sekilas sama dengan semua wanita di dunia.Ia dilahirkan dari silsilah para leluhur, bertumbuh menjadi anak, remaja, menikah dan hidup selayaknya sebagai wanita sejamannya.Namun ada yg istimewa yaitu kesadaran dan kesanggupannya bekerjasama dan menanggung konsekuensi dari rencana besar Allah dalam sepanjang kehidupannya, setelah ia menyatakan dari batinnya yg terdalam “YA” pada pemberitaan Malaikat Gabriel bahwa ia harus mengandung dari Roh Kudus. Maka terjadilah apa yg tertulis dalam kitab:

“…..Matan memperanakkan Yakub, Yakub memperanakkan Yusuf suami Maria, yang melahirkan Yesus yang disebut Kristus”.

Jika Maria tidak menyatakan diri “YA” terjadilah padaku menurut perkataan-Mu. ( Fiat foluntas tua) keselamatan kita mungkin akan tertunda atau sejarah lama yang akan membentuk peradaban iman kita.Kesempurnaan dan kekudusan Maria terletak pada hidup Maria tidak diukir dari kecantikan fisik, kepandaian budi yg dibuktikan dengan sejarah pendidikan, atau karier, atau jabatan atau status, atau kejayaan orang tua. Tetapi kesempurnaannya sebagai wanita dilukis dan dimulai dari pergumulannya sebagai seorang wanita yg berani membaktikan hidupnya penuh pergumulan untuk menjawab dan melaksanakan kehendak Tuhan dengan resiko yg berat. Jangan dibayangkan dulu bahwa Yesus yg dikandungnya tiba tiba saja menjadi Kristus yg meraja dan berkuasa membuat mujizat. Tetapi sebuah proses panjang berangkat dari pengalaman manusiawi untuk melahirkan seorang bayi yg lemah dan rapuh karena mengambil bagian kerapuhan casali manusia, baru kelak kemudian keilahiannya akan nampak karena melaksanakan kehendak BapaNya. Kesempurnaan Maria ada pada imannya yg gigih, penderitaan yg ditanggung dalam diam,terluka namun bersukacita, menerima setiap kenyataan pahit dalam hening yg melahirkan sukacita hingga kelak dibagikan pada saudarinya Elisabeth. Keagungan dan keindahannya sebagai perempuan terletak juga pada kesetiaan dan pengertiannya menerima kegalauan Yusuf saat akan menceraikannya secara diam-diam. Dan puncaknya adalah mengandung dan melahirkan Yesus. Bukan hanya pada saat di Bethelehem. Tetapi saat di puncak Kalfari sanggup memangku dengan hening tak terluka ketika merangkul jenazah kematian Yesus dengan hening penuh keibuan yg indah. Seakan menggambarkan kesanggupannya memeluk dunia yg penuh luka. Dari inspirasi ini kita diajak juga mampu meneladan keibuan Maria yg melahirkan semangat Yesus dalam kehidupan tiap hari. Suka duka kita seberat apapun telah ikut dipangku Maria saat ia memangku jenazah puteranya. Maka selayaknya kita tetap tabah menatap realitas ini dengan hati seperti Bunda Maria. Janganlah takut dan gelisah hatimu manakala hidupmu berbeban berat, sejenak beri waktu, pandanglah Bunda Maria, berwawanhatilah dengannya dalam hening, dan dengarkanlah hatimu terdalam, maka pelan pelan engkau akan menemukan kedamaian yg sejati yang memampukanmu melewati saat saat sulit dalam hidupmu dengan ringan dan damai.

Contemplating
Hening…… Hadir penuh dihadirat Tuhan. Tarik nafas perlahan. Sadari setiap tarikan nafas adalah saat menimba belas kasih Tuhan. Biarkan Tuhan mengisi ruang batin kita. Seperti Maria siap menghadapi penderitaan apapun dgn damai.

Actuating
Membiasakan diri hidup dengan mengandung dan melahirkan semangat Yesus dari kekuatan doa.

Reflecting
Apakah aneka peristiwa hidup, telah mengajariku untuk makin terbuka terhadap rencana Allah.

Praying
Salam Maria penuh rahmat Tuhan sertamu…..

Salam Veritas
Berkah Dalem
Sr. Albertine. OP

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *