Ukuran Kebahagiaan

Jika kita ditanya apa yg membuat kita bahagia dalam hidup ini? Pasti ada aneka jawaban. Tergantung siapa yg ditanya. Mungkin ada yg akan menjawab bahagia jika punya mobil dan rumah mewah, tetapi manakala tiba tiba bangkrut semua disita jadi menderita, ada yg menjawab suami ganteng atau isteri cantik, namun manakala dlm perjalanan waktu selingkuh, dunia jadi gelap gulita. Ada yg menjawab karier menanjak anak-anak sukses, tapi manakala jatuh sakit, semua jadi luluh lantak. Akhirnya pada satu titik tertentu ukuran kebahagiaan adalah sangat relatif. The measure of happiness is happiness without measure’ ketika kebahagiaan itu tanpa ukuran maka hidup ini sesungguhnya selalu menawarkan kebahagiaan, tergantung cara kita menghayatinya seperti ukuran bahagia sebagai pengikut Kristus di paparkan dalam sabda bahagia berikut: Yesus berkata:

” Berbahagialah, hai kamu yang miskin, karena kamulah yang empunya Kerajaan Allah. Berbahagia hai kamu yg sekarang ini lapar, karena kamu akan dipuaskan, berbahagialah kamu yang sekarang ini menangis, karena kamu akan tertawa….”.

Ukuran bahagia sebagai murid Kristus tidak lagi ditempatkan pada tataran duniawi, tetapi pada kebebasan batin dalam menerima setiap realitas bahkan menerima pelbagai himpitan hidup dengan sikap yang lepas bebas dan percaya pada scenario Allah. Karena hidup ini sudah ada dalam bingkai rencana-Nya. Apakah saya harus menjadi: miskin,lapar,menangis,dibenci, biar bahagia? Tentu bukan maksudnya demikian. Tetapi bahwa bahagia sejatinya bukan soal situasi, dan keadaan yg ada diluar diri. Tetapi bahagia adalah kekayaan dari inner heart hati terdalam yg merupakan lautan teduh tempat singgah Allah dengan manifestasi kasih dan damain-Nya yg berdiam di kedalaman batin manusia. Mau kaya atau miskin,menderita secara sosial atau tidak, tidak akan mempengaruhi kebahagiaan dari lautan teduh itu. Dan kebahagiaan jenis ini hanya bisa didapat dari kualitas hubungan dengan Allah sendiri. Atau setidaknya seseorang menyediakan ruang bagi berkembangnya lautan teduh dalam dirinya tiap waktu. Orang yg bahagia dalam jenis ini, tidak akan mudah dibuat terluka oleh aneka penderitaan sosial yg ada. Misal meski dimarahi, dibenci, difitnah, disiksa, dihina, bahkan dibunuh martabatnya, tak akan mengurangi kebahagiaan dan melunturkan jati dirinya. Ini adalah kebahagiaan alter christy. Sebaliknya orang yg mudah terluka, mudah terbakar emosinya, mudah marah, mudah mengeluh sesungguhnya karena ia tidak bahagia dari kedalaman batinnya. Hal-hal di luar hanyalah pemicu atau stimulus saja. Bagi hati yg bahagia takkan luntur oleh badai dan musnah oleh guntur tetapi menyinari hidup meski berkabut. Semoga ukuran kebahagiaan yg ditawarkan Kristus menjadi ukuran kebahagiaan kita juga.

Contemplating
Mari kita heningkan diri, Sadari tiap tarikan nafas, tarik…..hembuskan, tarik…hembuskan, demikian lakukan sampai merasakan titik hening. Berhentilah sejenak rasakan Allah menyapa lewat suara keheningan dari hati kita terdalam.

Actuating
Membiasakan diri hening, sadari tiap saat adalah saat untuk hidup terarah pada Allah.

Reflecting
Apakah aneka peristiwa hidup, telah mengajariku untuk makin hening dan memperluas lautan teduh dalam hidup kita utk mempercayakan semua pd scenario Allah.

Praying
Tuhan Yesus ajari kami memiliki hati seperti hati-Mu, agar dimanapun kami berada terus mampu menciptakan keheningan agar sepanjang hidup kami menjadi rangkaian lautan teduh yang menyelamatkan kami. Demi Kristus Tuhan kami. Amin.

Salam Veritas
Berkah Dalem
Sr. Albertine. OP

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *