Kualitas Perjumpaan

SECERCAH HENING
Kamis, 18 Mei 2023
Hari Raya Kenaikan Tuhan

Mat 28 : 16-20

“Kualitas perjumpaan”

Menata lembut aneka kisah,
Perjumpaan bukan saat meresah,
Peluk harapan yg kian membuncah,
Perpisahan jd harapan kian cerah.

…. Pernahkah kita berpisah dengan seseorang yang kita kasihi? Apapun alasan perpisahan itu, selalu saja menyisakan kepedihan. Karena dalam setiap perpisahan selalu diawali dengan serangkaian perjumpaan yang memberi kebahagiaan. Maka ada yang mudah untuk “move in” karena kualitas perjumpaannya selalu mendapat inspirasi untuk hidup secara dinamis dan damai. Sebaliknya yang sulit ‘move in’ biasanya yang sulit mengolah saat perjumpaan sebagai saat berbagi inspirasi, hingga meski telah melawati aneka kegoncangan hidup hatinya masih menyisakan kepedihan dan luka teramat dalam. Hari Raya Kenaikan Tuhan Yesus yang kita rayakan hari ini, sebagai perayaan iman, dimana kepergian Yesus memberi jaminan kehidupan surga bagi kita. Yang berbeda adalah kepergianNya tidak membuat kesedihan, tetapi syukur atas inspirasi iman dan harapan. KasihNya selama rentang waktu perjumpaan harus diteruskan dalam kehidupan. Saatnyalah sekarang para murid mengembangkan perjumpaan kasih yang sama kepada dunia dalam sabda :

” Kesebalas murid Yesus berangkat ke Galilea, ke bukit yg telah ditunjukkan Yesus kepada mereka. Ketika melihat Dia mereka menyembahNya, tetapi beberapa orang ragu-ragu. Yesus mendekati mereka dan berkata: KepadaKu telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku”.

Perintah penginjilan ini bukan hanya soal tugas tetapi buah dari perjumpaan yang saatnya harus dibagikan. Meski keragu raguaan tetap ada. Injil yang hidup yang harus diwartakan adalah semua pengalaman kebersamaan dengan Yesus sebagaimana dilukiskan dalam spirit Dominikan “Contemplari et Contemplata Aliis Tradere” berkontemplasi dan membagikan Dia yg dikontemplasikan kepada orang lain. Injil yang kita wartakan adalah kesaksian hidup yang mengalir dari hubungan yang intim dengan Allah. Injil menjadi kabar sukacita akan terwartakan secara efektif dalam wajah kita yang mampu mengolah dan memaknai setiap perjumpaan dalam kancah dunia yang keras. Dunia dalam konteks penginjilan bukan hanya benua-benua di planet ini tetapi dunia dalam lorong-lorong hati manusia yang dipenuhi kepedihan karena tidak mampu melihat terang dan harapan hari esok. Sanggupkah dengan amanat perpisahan ini, kita tergerak untuk menjumpai setiap hati yang kesepian, terluka, tersisih, terbeban oleh kerasnya kehidupan ini dengan hadir sebagai pendengar yang menginspirasi. Pendoa yg penuh bakti, dan teman seperjalanan yg meneguhkan.Semoga…

Contemplating
Dalam hening raga, rasa, budi belajar memandang Allah yang hadir dalam realitas hidup yang kadang penuh luka.

Actuating
Belajar membiasakan diri untuk memiliki relasi yang intens dengan Tuhan agar bisa menampakkan wajah Injil dalam hidup.

Reflecting
Apakah pengalaman Paskah kita telah membuahkan sukacita bagi sesama kita, melalui perilaku kita yang sederhana?

Praying
Allah Bapa kami, berilah kami hati seperti hatiMu, agar diri dan hidup kami layak menjadi Injil yang hidup bagi sesama kami. Hingga pengalaman Paskah memancar dalam hidup kami. Demi Kristus Tuhan kami. Amin.

Selamat Hari Raya Kenaikan Tuhan

Berkah Dalem
Sr. Albertine,OP

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *