La Chiesa in uscita

SECERCAH HENING
Rabu, 25 Januari 2022

” La Chiesa in uscita”

Mrk 16:15-18

Lembut dlm getaran rasa,
Lewat hening ymengada
Memenuhi getar cinta,
Keluar dari batas zona.

Memeluk tiap realita,
Tuas lembut hapus luka,
Air mata jadi bermakna,
Bahasa baru tercipta.

Tiap fajar bercerita,
Berbagi tnp batas duka,
Menyinari tnp silaukan mata
Senja saat membingkai rasa.

La chiesa in uscita (latin) berarti Gereja yg senantiasa melangkah keluar, menjangkau kawasan pinggiran, bukan hanya secara geografis tetapi juga eksistensial. Gereja adalah umat beriman yg percaya pada Kristus digerakkan batinnya diketuk-ketuk hatinya dari kepenuhan kasih Tuhan, untuk bergerak dan berbagi berkat dan kasih bagi sesama yg membutuhkan kasih yg sama sebagai penyejuk jiwa yg dahaga. Hal ini selaras dengab sabda Tuhan dalam Injil hari ini:
Setelah Yesus bangkit Ia menampakkan diri kepada kesebelas murid dan berkata:

“Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makluk…Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yg percaya: mereka akan mengusir setan-setan demi nama-Ku, mereka akan berbicara dalam bahasa-bahasa yg baru bagi mereka…”

La chiesa in uscita merupakan luapan dari kepenuhan hidup batin yg ditimba dari kedekatan relasi dengan Tuhan (atau buah kontemplasi) yg secara otomatis akan mengetuk-ngetuk dari dalam hatinya untuk tidak dinikmati sendiri tetapi dibagikan atau tebarkan kepada sesama.Dalam spirit Dominikan di sebut sebagai ‘Contemplari et contemplata aliis tradere’ berkontemplasi dan membagikan Dia yg dikontemplasikan. Semua gerakan keluar adalah panggilan batin yg bebas yg mengalir sebagai gerakan kasih. Maka panggilan untuk pergi ke luar dari lingkup batinnya tidak lepas dari manifestasi cintanya terhadap Tuhan. Buah kongkretnya adalah orang yg sungguh merasa di cintai dan mencintai Allah,budi bahasa hidupnya akan terinspirasi oleh pengalaman cinta itu sehingga menemukan bahasa-bahasa baru yakni bahasa kasih, bahasa optimis, bahasa berpengharapan, bahasa yg merangkul, bahasa yg menyembuhkan dan bahasa yg memulihkan luka. Pewarta yg diutus sesungguhnya adalah menyuarakan bahasa kasih yg mengetuk dari dasar hatinya yg paling dalam karena Tuhan ingin keluar dari dalam hati. Bisa jadi bahasa itu buah dari perasan luka dan air mata yg telah diolah menjadi bahasa kasih. Dunia yg dijangkau bukan dunia yg butuh penerbangan dan visa, tetapi dunia yg terluka hatinya, yg kesepian, yg disingkirkan atau tersingkir, yg menderita, yg miskin dalam aneka aspek. Marilah kita semua yg telah dicintai Tuhan mendengarkan ketukan-Nya di hati kita untuk siap diutus untuk memeluk dengan kasih dan bahasa baru di keluarga kita,komunitas kita, lingkungan kerja kita, masyarakat kita sebagai dunia tempat kita di utus mewartakan kasih Tuhan. Jangan ragu, biarkan lelahmu, perjuanganmu ditopang oleh pundak Allah yg kuat dan selalu siap memikul beban bersamamu.

Contemplating
Marilah kita heningkan jiwa, raga, rasa dan seluruh diri agar mampu menyelami samodra kasih Allah.

Actuating
Pola hidup apa yg perlu kubiasakan agar makin terbuka dan mampu berbagi kasih Tuhan bagi sesama.

Reflecting
Apakah aneka pengalaman sulit telah mengajariku makin peka bahwa Allah mengasihi kita dan menarik kita untuk makin siap diutus keluar dari ego menuju ecco yg menebarkan kasih.

Praying
Allah Bapa, berilah kami rahmat-Mu agar makin tenang dan matang dalam menyikapi setiap tekanan hidup dan ajarilah kami tetap rendah hati dan rela diutus untuk berbagi buah kasih-Mu dalam masyarakat maupun dalam keluarga dan komunitas kami. Demi Kristus Tuhan kami Amin.

Salam Veritas
Berkah Dalem
Sr. Albertine. OP

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *