SECERCAH HENING
Sabtu, 27 Mei 2023
Yoh 21: 20-25
“Life is Giving”
Terlahir dari pemberian diri,
Bertumbuh dlm kasih tuk mengabdi,
Mengada untuk kasih abadi,
Habis dibagi sebagai hosti abadi.
Mencintai tiada henti terbagi,
Merindu jiwa hingga batas diri,
Mati tuk kemenangan sejati,
Hidup berbagi sbg identitas diri.
Bacaan Injil ini merupakan perikop akhir dari Injil Yohanes, yang mengisahkan tentang kasih Allah yang tiada batasnya kepada kita. Sangat menonjol bahkan berulangkali disebut dalam beberapa perikop bahwa Allah adalah Kasih. Meski demikian, Yohanes merasa belum cukup mengungkapkan semuanya kisah dalam Injil ini. Sebab jika dikisahkan semuanya, maka tidak akan pernah cukup sebesar apapun kitabnya, karena hakekat Allah adalah pencipta yang berwujud dalam semua kebaikan, yang secara nyata dalam hidup dan karya Yesus. Seperti terungkap dalam perikop ini,
“Masih banyak hal-hal lain lagi yang diperbuat oleh Yesus, tetapi jikalau semuanya itu harus dituliskan satu per satu, maka agaknya dunia ini tidak dapat memuat semua kitab yang harus ditulis itu”.
Apakah kita sendiri yakin dan mengalami secara personal bahwa Allah adalah Kasih? “God is love”.
Meskipun dari bacaan ini kita dituntun untuk makin yakin bahwa kisah kasih Yesus kepada kita takkan pernah cukup ditulis hanya dengan rangkaian kata. Karena seluruh hidup Yesus isinya adalah “Pemberian Diri”. Pemberian diri yang dimaksud adalah seluruh hidupNya kaya karena diriNya dibagikan. Jadi yang diberikan bukan materi tetapi harta yang paling berharga yaitu diriNya sendiri. Meski eksistensi Yesus tidak punya hak milik atau “property” secara materi namun SabdaNya, TanganNya, HatiNya, PikiranNya, KekecewaanNya, KegembiraanNya, SukacitaNya, BerkatNya bisa membuat orang yang dikehendaki hidup berkelimpahan dari yang paling miskin. Hidup Yesus hanya tahu Memberi tidak pernah meminta, kalaupun selalu mengutus itupun tak lepas dari kesempurnaan pemberian diri. Yang mengajak semua muridNya agar memiliki mentalitas berkelimpahan yang sama. Apakah mentalitas berkelimpahan juga menjadi mentalitas kita sebagai pengikutNya? Yakni hidup yang senantiasa dipenuhi rasa syukur, karena bisa berbagi dan memberi. Karena harta kita takkan pernah musnah ketika kita terus rela berbagi. Cinta yang sejati hanya tahu memberi dan berbagi tak harap kembali sampai batas diri.
Contemplating
Marilah kita membenamkan diri dalam keheningan untuk merasakan pengalaman dicintai Allah.
Actuating
Memperkuat sikap batin agar makin peka merasakan kasih Allah yang tak sepenuhnya terselami.
Reflecting
Maknai hidup sebagai bagian dari rencana Allah atau scenario Allah yang baik.
Praying
Yesus Tuhan, ajarilah kami makin peka menangkap pernyataan cintaMu dalam aneka peristiwa hidup kami, hingga kami makin matang untuk menjalani kehidupan ini. Demi Kristus Tuhan kami. Amin.
Salam Veritas
Berkah Dalem
Sr. Albertine,OP
