Memberi Hidup

SECERCAH HENING

Luk 7: 1-10

Penggalan kata terpatah,
Tangan yg terjamah,
Terangkat yg lemah,
Titian hidup penuh hikmah,

Titik kritis di ujung waktu,
Menanti harap dgn jeritan bertalu,
Meraih tangan yg membiru,
Kunanti penyembuh yg jitu.

Khabar suasana kritis bahkan kematian demi kematian di masa pandemi ini, menjadi rangkaian duka terpajang yg kita terima. Air mata demi air mata telah membasahi wajah kita dan wajah dunia.
Kematian selalu menyisakan kepedihan, kedukaan, kesedihan, keputusaasaan, bahkan ketika yg meninggalkan kita adalah orang yg sangat kita kasihi kadang bahkan ingin menukar jiwa, supaya ia tetap hidup. Demikian juga seperti yg dialami oleh seorang perwira yang mempunyai seorang hamba yang sangat dihargainya.

“Hamba itu sakit keras dan hampir mati. Ketika perwira itu mendengar tentang Yesus, ia menyuruh beberapa orang tua-tua Yahudi kepadaNya untuk meminta, supaya Ia datang dan menyembuhkan hambanya.

Perkataan sepatah kata bagi Yesus telah memberikan daya hidup bagi yg percaya. Karena kuasaNya menembus daya kematian manusiawi. Namun bisa jadi untuk kita saat ini arti kematian bukan hanya kematian jiwa dan badan untuk meninggalkan dunia ini. Tetapi bisa jadi kematian rohani, kematian semangat untuk mengasihi, kematian untuk mengampuni, kematian untuk berjuang dengan penuh harapan, kematian untuk hidup penuh sukacita. Kematian untuk berkarya dengan penuh Cinta dll. Apakah kita senantiasa meminta dan membiarkan Yesus datang dan berkata sepatah kata saja atas diri kita ?. Agar kematian-kematian kita di tengah kehidupan ini bisa dihidupkan lagi. Sehingga kita bisa sungguh-sungguh hidup dalam jangkauan tangan-Nya. Marilah kita menaruh diri kita di atas tangan-Nya. Agar kita senantiasa hidup di dalam semangat-Nya.
Jangan takut jika mengalami hidup di titik kritis, peluk dan terima dan satukan dengan gerak hati yg tersungkur untuk memohon pada kuasa Yesus sang penyembuh. Relakan tanganNya menjamahmu dan menghidupkan tiap titik kritis hidupmu.

Contemplating
Marilah kita mengheningkan seluruh indera kita agar makin peka dan rela membiarkan Yesus menaruh tangan-Nya atas kita.

Actuating
Pola hidup apa yang perlu kubiasakan atau kuubah agar makin mampu menghidupkan sisi-sisi kehidupan kita yg telah mati.

Reflecting
Apakah hidupku banyak ditentukan oleh gaya relasiku dgn Yesus ? Ataukah banyak gaya tanpa makna hingga membuat kita mati di tengah hidup.

Praying
Allah Bapa kami, lembutkanlah kekerasan hati kami, agar jiwa kami mudah dibentuk oleh relasi kami dengan Yesus PuteraMu, hingga kami boleh mengalami kehidupan dan keselamatan. Demi Kristus Tuhan kami. Amin.

Salam Veritas
Berkah Dalem
Sr. Albertine. OP

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *