SECERCAH HENING
Senin,9 September 2024
Luk 6 : 6-11
Menubuh dalam ruang dan waktu,
Kebaikan satu dlm nafas membisu,
Penerimaan tak jd penentu,
Bertumbuh dlm ruang dan waktu.
Jati diri terikat di situ,
Mewarnai sudut pelangiku,
Mengulun senyum yg menyatu,
Hidup baru terukir tiap waktu.
“Ketika kita tidak memiliki apa pun untuk diberikan, hendaklah kita memberikan ketiadaan itu. Dan ingatlah, bahkan ketika kamu tidak menuai apa – apa jangan pernah lelah menabur kebaikan”. Pesan ini adalah bagian akhir dari homili Paus Fransiskus ketika misa di GBK minggu lalu. Yang terus mengingang di hati sanubari kita. Ajakan Bapa Suci agar kita tidak lelah untuk menebar jala kebaikan dan jangan lelah untuk terus bermimpi untuk membangun sebuah peradaban kasih. Kita tidak perlu bertanya lagi menebar kebaikan atau kejahatan ? Tetapi kita diminta untuk tidak lelah menebar kebaikan pun jika kita tak punya daya lagi. Ketiadaan itu yg kita bagikan sebagai kesaksian akan kesahajaan hidup. Sebagaimana aura yg terus ditebarkan oleh Bapa Suci. Beliau tidak hadir menggoncang gelora bung karno dengan kemewahan dan kata kata heboh. Tetapi hadir dengan senyuman, pelukan dan sentuhan berkat yang penuh kelembutan. Telah terpatri dihati setiap orang beriman yg merindukan kehadiran Allah yang nyata. Hal ini berbeda dengan sikap kaum Farisi dan ahli Taurat dalam Injil hari ini:
“Manakah yg diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa atau membinasakannya? “.
Pertanyaan ini menggambarkan bahwa tidak semua perbuatan baik, dihargai oleh semua orang. Kaum Farisi dan ahli Taurat selalu menjadi pihak yg berlawanan dengan oase kebaikan yg ditebarkan Yesus sepanjang pewartaan-Nya. Apakah Yesus surut dengan reaksi mereka yg menolak-Nya? Tidak!!. Yesus terus menebarkan kebaikan dan warta sukacita tidak peduli diterima atau ditolak oleh orang lain. Setiap orang diberi kebebasan untuk menentukan pilihan sikap hidupnya.Namun kepada para murid, Yesus terus menunjukkan polaritasnya untuk hidup oleh energi kasih yg menyelamatkan.Bahwa bagi hati yg mencintai akan selalu menebarkan oase kebaikan dimanapun dan situasi apapun. Karena hukum dan aturan hanya akan berarti jika membawa tatanan hidup yang makin mampu menebarkan oase kehidupan yg membawa kebaikan.Maka inspirasi iman dari Sabda hari ini adalah kita diajak untuk terus mendekatkan diri pada Yesus agar mampu menebarkan kebaikan tak tergantung respon orang lain, jika ditolak sekalipun tetaplah berbuat kebaikan. Hingga Yesus tidak perlu bertanya lagi kepada kita: “Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa atau membinasakannya”?. Janganlah ragu untuk terus berbuat baik, sekecil apapun yg bisa kita buat, karena disitulah Roh Allah makin mendapat tempat di nurani kita hingga hidup kita dimatangkan. Dan memperlebar jalan bagi kita untuk makin dekat dengan kehendak Tuhan. Jika karakter kebaikan sudah melekat dalam identitas kita, kita tak lagi butuh reaksi penerimaan atau penolakan orang lain.Teruslah berbuat baik dengan tulus.
Contemplating
Sadari tiap tarikan nafas kita menjadi saat hening untuk terarah pada Kristus dan berbuah pada kebaikan.
Actuating
Membiasakan diri hening, sadari tiap saat adalah saat untuk berbuat kebaikan.
Reflecting
Apakah aneka peristiwa hidup, telah mengajariku untuk makin hening dan keep calm dalam menyikapi setiap penolakan dan terus berbuat kebaikan.
Praying
Tuhan Yesus ajari kami memiliki hati seperti hati-Mu, agar dimanapun kami berada terus mampu menebarkan kebaikan. Demi Kristus Tuhan kami. Amin.
Salam Veritas
Berkah Dalem
Sr. Albertine. OP
