Sr Albertinepadmo.OP:
SECERCAH HENING
Rabu,14 Desember 2022
Luk 7 : 19-23
“Menepis Keraguan”
Merindu dalam titiap waktu,
Menepis gundah dan ragu,
Kehadiran yang ambigu,
Dari degup hati yg tak menentu.
Akankah DIA ada disitu ?
Mengapa hati ini pilu ?
Hingga terus meragu,
Hingga wajah sukacita jd penentu.
Pernahkah kita ragu apakah Tuhan ada di sini, saat ini ? Di manakah Dia, saat kita mengalami kegoncangan hidup, penderitaan, kegagalan, saat-saat gelap dan terpuruk ? kadang kita merasa Tuhan tidak ada. Kalau jaman para murid mereka merasa ragu langsung bisa bertanya kepada Yesus. Hingga identitas Yesus sebagai Tuhan yang didamba dan dinanti diragukan dan pertanyakan oleh orang yg paling dekat sekalipun. Sehingga Yohanes memanggil dua orang dari antaranya dan menyuruh mereka bertanya kepada Tuhan :
“Engkaukah yang akan datang itu atau haruskah kami menantikan yang lain ?”.
Saat ini, kitapun mungkin juga pernah ragu, adakah Tuhan di saat kita terpuruk ? Saat dunia gelap ? saat pandemi yg tiada akhir ? Saat perekonomian hancur, saat usaha macet ? saat penyakit datang silih berganti ? masih adakah Tuhan yg datang membuat mukjizat ? Ataukah Tuhan sedang tidur ?. Pertanyaan para murid tidak lansung dijawab oleh Yesus dengan gamblang akan identitasnya, namun hanya mengilustrsikan tanda – tanda kehadiran-Nya. Lewat orang tuli bisa mendengar, orang lumpuh bisa berjalan, orang mati bisa bangkit lagi dll.Dari ilustrasi itu kita diajak berefleksi sejauhmana mata, hati, telinga mampu menangkap kehadiran Tuhan. Tuhan rupanya telah menitipkan wajah keilahiannya dalam cara kita melihat, mendengar, kerkata-kata, dan hidup seiring realitas yg ada. Mujizat kehadiran Tuhan sebenarnya tidak jauh, sudah ada dalam telinga kita saat mendengarkan, kaki untuk berjalan, mulut untuk berkata kata yg membuahkan kebaikan bagi dunia yg lebih hidup. Yang diminta dari kita adalah belajar percaya, mengimani dan mengandalkannya. Seperti ada pepatah menyatakan “Degustibus non est disputandum” (selera tidak bisa diperdebatkan), apalagi keyakinan iman, tak perlu dipertanyakan lagi jika sudah yakin percaya maka sepenuhnya mantap maka Tuhan sendiri akan menyempurnakannya.
Semoga sabda hari ini mampu menepis keraguan kita akan identitas Tuhan, tak perlu mencari yg jauh yg belum datang dan tak kunjung datang. Tetapi mari kita percaya dan mendengar lembut suara mata hati kita, telinga kita, mulut kita untuk menjadi membran dan vibrasi Tuhan dengan menjalin relasi yg intim dengan-Nya, kapanpun dan dimanapun. Masa adven ini bukanlah masa meragu tetapi saat memberi waktu lebih bagi kehadiran-
Nya yang intens kita butuhkan. Janganlah takut untuk percaya.
Contemplating
Mari kita heningkan jiwa, raga,rasa, hati, budi dan tindakan kita agar vibrasi Allah makin nyata dalam tubuh kita.
Actuating
Pola hidup apa yg perlu kubiasakan dan kuubah agar mampu menjalin relasi yg intim dengan Tuhan.
Reflecting
Apakah hidupku setiap hari telah mewujudkan pola hidup yg senantiasa terkoneksi dengan Allah.
Praying
Allah Bapa, kami bersyukur karena Engkau telah mencintai kami dan menjadikan diri kami berharga di hadapan-Mu, jangan biarkan kami hilang dari jangkauan-Mu oleh karena dosa dan kebutaan kami agar kami mampu mendengar dan melihat kuasa-Nya.Demi Kristus Tuhan kami. Amin.
Salam Veritas
Berkah Dalem
Sr.Albertine.OP
[14/12 23.19] Sr Albertinepadmo.OP: SECERCAH HENING
Kamis, 15 Desember 2022
Luk 7: 24-30
“Memaknai Padang Gurun”
Menelusup di padang belantara,
Compang camping khas dirinya,
Harum vibrasi kekudusannya,
Padang gurun sabahat baktinya.
Tak goyah oleh kokohnya kuasa,
Tak lapuk dari desiran Cinta,
Tak lenyap oleh godaan puasa,
Tuk gapai kerajaan surga.
Yesus berbicara kepada orang banyak tentang Yohanes :
” Untuk apakah kamu pergi ke padang gurun? Melihat buluh yg digoyangkan kian kemari ? Atau untuk apakah kamu pergi….? Lihatlah, Aku menyuruh utusanKu mendahului Engkau, ia akan mempersiapkan jalanMu dihadapanMu. Aku berkata kepadamu: Diantara mereka yg dilahirkan oleh perempuan tidak pernah tampil seorang yang lebih besar dari pada Yohanes, namun yg terkecil dalam KerajaanSurga lebih besar dari padanya”.
Semua orang pasti memiliki cita-cita dan orientasi kehidupan agar kelak sukses,hidup bahagia dan sejahtera . Seperti doa semua orang tua agar anaknya kelak lebih sukses, lebih bahagia, dan lebih dalam segalanya dibanding dirinya. Namun ternyata hal ini tidak berlaku dalam konteks kenabian dan kesaksian menuju terwujudnya keselamatan selaras dengan rencana agung Allah. Yohanes membuktikan bahwa kepastian masa depan bukan terletak pada sukses atau kebahagiaan manusiawi, namun terwujudnya rencana dan kehendak Tuhan. Dan untuk itu Yohanes dengan kesadaran penuh merendahkan diri demi terwujudnya rencana keselamatan Allah itu. Ia termasuk tokoh besar dalam perjanjian lama, yg memiliki pengikut dan power yg kuat. Namun Ia tidak memanfaatkan posisi itu untuk kenyamanan dirinya tetapi memilih hidup masuk di padang gurun dalam ketidak pastian, memeluk kesendirian, kesepian, kegersangan hidup bermatiraga untuk mempertegas kematangannya menjadi perintis jalan keselamatan. Padang gurun yg membuatnya makin dekat dengan Allah dan Jalan keselamatannya. Dari padang gurun ini lahirlah
passion dan misi besar untuk menobatkan banyak orang sebangsanya bisa selamat. Passionnya untuk keselamatan umat melampaui kebutuhan dirinya untuk hidup nyaman dan dengan rendah hati menempatkan Yesus sebagai utusan Allah yg membuka tali kasutnyapun Yohanes tidak pantas. Sikap dasar kerendahan hati ini menjadi samodera yg lebar bagi hadirnya kerajaan Allah secara mulus. Dan membiarkan Yesus hadir di tengah dunia dan seperti manusia yg lain mengalami jalan pengudusan dalam pembabtisan Yohanes. Kisah Ini menjadi puncak kerendahan hati Yohanes yang punya peran besar, dan jalan yg lebar bagi hadirnya keselamatan kita. Dan Yohanes rela mundur dari panggung kehidupan misi, setelah Yesus mulai berkarya. Biarlah Dia menjadi lebih besar dan dirinya makin kecil. Maka marilah di masa adven ini kita juga berani mundur sejenak mengenali padang gurun hidup kita, agar kita rela untuk makin merendahkan diri di hadapan Tuhan dan membiarkan Tuhan menguasai panggung kehidupan kita. Dan membiarkan Tuhan makin besar pengaruhnya dan kita makin kecil agar keselamatan makin nyata. Sama artinya marilah kita membuka hati dan membiarkan sifat-sifat baik kita makin menguasai hidup kita. Sehingga kita layak memiliki jalan yg lapang akan hadirnya Kerajaan surga dalam hidup kita. Jangan takut kenalilah padang gurun hidupmu, masuklah di sana, terima dan peluklah itu agar kita dimatangkan dalam hidup dan siap menyambut keselamatan lewat jalan yg benar.
Contemplating
Mari kita heningkan jiwa, raga,rasa, hati, budi dan hati untuk makin dekat menyelam dalam samodera kehidupan Allah.
Actuating
Pola hidup apa yg perlu kubiasakan dan kuubah agar sifat-sifat baik makin menguasai hidup kita.
Reflecting
Apakah hidupku setiap hari telah mewujudkan pola hidup yg berorientasi pada kerendahan hati agar Allah makin memiliki pengaruh besar dalam hidup kita.
Praying
Allah Bapa, kami bersyukur karena telah mencintai kami dan menjadikan diri kami berharga di hadapan-Mu, jangan biarkan kami hilang dari jangkauan-Mu oleh karena dosa dan kesombongan kami, namun bimbinglah agar kami beroleh keselamatan karena Kristus Tuhan kami. Amin.
Salam Veritas
Berkah Dalem
Sr.Albertine.OP
