Melambat tuk bangun kesadaran,
Heningkan diri maknai perkataan,
Harmoni lembut utk keselarasan,
Kata terukir dlm tindakan.
Memeluk rapuh tuk gapai kekuatan
Air mata jd saksi pertumbuhan,
Matangkan diri di tiap perkataan,
Gapai hidup di rumah kesadaran.
Sekali peristiwa berkatalah Yesus kepada orang banyak dan kepada ahli-ahli Taurat dan orang Farisi:
“Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, karena kamu menutup pintu-pintu Kerajaan Sorga di depan orang, sebab kamu sendiri tidak masuk dan kamu merintangi mereka yang berusaha untuk masuk”.
Sabda ini sekilas keras dan tidak cool untuk kita dengar, namun jika kita pahami dalam konteks jaman dan hidup Yesus, sabda ini pas untuk membawa kehidupan yang sejati. Sabda ini sebuah seruan profetis atau suara kenabian yg hendak mengusik gaya hidup yg munafik dan tidak berintegritas.
Sebab jika kita maknai lebih dalam, menghayati dan mengikuti ajaran iman akan Kristus adalah dipanggil untuk hidup secara utuh. Keutuhan hidup terletak pada kesesuaian antara perkataan, tindakan dan perbuatan. Dan kesesuaian itu bukan karena didorong oleh kewajiban tetapi mengalir dari dorongan ikatan kasih dengan Allah. Energi yg mengalir karena mengasihi akan sangat berbeda maknanya, dibanding karena kewajiban. Orang Farisi hidup, perkataan dan perbuatannya lebih didorong oleh status dan kewajiban. Sedangkan Yesus hidup dan perbuatannya mengalir karena energi kasih dari dalam (inner life) hingga menghasilkan kebebasan batin, jika dilakukan makin membentuk integritasnya. Sedangkan orang farisi melakukan tindakan karena formalitas saja, buahnya lebih hanya menjadi sebuah tuntutan
-tuntutan yg berat dan kering tanpa makna, karena apapun yg dikatakan tidak berbuah dalam hidup dan tindakannya. Melalui sabda Yesus hari ini kita diajak untuk membangun hidup dalam semangat kasih. Hingga semua tindakan yg dilakuan adalah buah dari perbendaharaan relasi kasih dengan Allah.
“saya adalah murid pertama dari setiap kata yg saya ucapkan”
adalah ungkapan yg tepat untuk menggambarkan hidup yang terus memformat diri menuju integritas. Inilah semangat Yesus yg diminta dari kita agar meneladan integritas-Nya. Sebelum mengharapkan orang lain berbuat, saya sendiri telah melakukannya sebagai gaya hidup yg mengalir dari batin yg mengasihi Allah. Semoga Sabda hari ini memanggil batin kita utk rela diformat lagi agar makin selaras antara perkataan dan perbuatan kita. Relakan lelahmu, untuk memeluk setiap perkataan menjadi nyata dalam sikap dan tindakan kasih yg mematangkanmu setiap waktu.
Contemplating
Marilah kita selami keheningan lebih dalam agar sanggup merasakan Tuhan yg memenuhi batin kita.
Actuating
Membiasakan diri hidup dengan kekuatan dari energi yg ditimba dari Allah untuk menyamakan kata dan tindakan.
Reflecting
Apakah aneka peristiwa hidup, telah mengajariku untuk makin berintegritas utuh.
Praying
Allah Bapa kami, berilah kami hati yg peka, dan menjalani hidup dengan kekuatan rahmat yang bersumber dari pada-Mu.Hingga hidupku makin utuh dan matang dalam mengikuti jalan-Mu. Demi Kristus Tuhan kami. Amin.
Salam Veritas
Berkah Dalem
Sr. Albertine. OP
