SECERCAH HENING
Kamis,3 November 2022
Luk 15: 1-10
“Merayakan Kehidupan”
Melukis senja dengan cerita,
Maknai tiap kisah dengan rasa,
Mencintai semua yg ada,
Merayakan hidup penuh makna.
Sederhana merangkai peristiwa,
Apa adanya dengan balutan rasa,
Mengalir dan tak memaksa,
Merayakan tiap kisah dgn cinta.
Hidup selalu menawarkan sebuah cerita baru. Dan makan bersama sering kali menjadi sebuah pilihan yg tepat untuk mengekspresikan menjadi sebuah cerita baru. Peristiwa makan bersama bisa menjadi moment yg menyatukan rasa empati dan makna kebersamaan yg makin dalam. Bahkan peristiwa makan bersama menjadi saat merayakan hidup. Namun ternyata hal itu berbeda dengan cara pandang orang Farisi. Seperti dikisahkan dalam Injil hari ini.
Para pemungut cukai dan orang-orang berdosa biasanya datang kepada Yesus untuk mendengarkan Dia. Maka bersungut-sungutlah orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, kataya:”Ia menerima orang-orang berdosa dan makan bersama dengan mereka”.
Orang Farisi dan Ahli Taurat dikuasai oleh sikap apriori hingga sulit untuk melihat kebaikan dan rahmat tersembunyi dari setiap perjumpaan yg dirangkai oleh Yesus. Sementara Yesus memandang dan menempatkan perjumpaan dan makan bersama dengan orang berdosa adalah moment untuk merayakan hidup. Karena perjumpaan Yesus dgn orang berdosa adalah moment kehidupan baru yg memungkinkan orang berdosa kembali ke jalan yg benar untuk beroleh keselamatan. Inspirasi bagi kita sikap mana yg kita setting atau kita mainkan manakala kita gamang dengan realitas ini ? Mudah bersungut sungut? Atau mudah bersyukur dan merayakan hidup, dengan memaknai bahwa setiap perjumpaan adalah rahmat. Marilah kita pandang kehidupan ini dengan kacamata yg jernih dan hati yg damai. Maka mari kita belajar dengan hati dan bukan dengan pikiran kita. Jika kita selalu memandang kehidupan ini dengan pikiran kita, maka pada satu titik waktu, kita akan kelelahan dan pusing yg membuat hidup makin suram dan tegang. Tetapi jika kita berani beranjak dengan memandang kehidupan ini dengan hati, dan jika kita terus menggunakan hati untuk menyikapi segala sesuatu, makin dipakai maka hati makin peka, makin damai dan makin cool sebagai vibrasi dari hati Allah sendiri yg penuh kasih. Jangan gelisah dan galau hatimu, tersenyumlah dengan semua yg terjadi dan berbicaralah dengan hatimu bersama kepada Tuhan yg menanti di sampingmu.
Contemplating
Mari kita heningkan jiwa, raga,rasa, hati, budi dan seluruh kesadaran kita utk mengalami sapaan Allah.
Actuating
Pola hidup apa yg perlu kubiasakan dan kuubah agar terbiasa merayakan hidup.
Reflecting
Apakah hidupku setiap hari telah memperlihatkan rasa syukur dan menjadikan setiap hari adalah saat merayakan kehidupan.
Praying
Allah Bapa di surga berilah kami hati yg damai dan bahagia. Agar tiap saat adalah saat yg tepat untuk merayakan kehidupan kami. Demi Kristus Putera-Mu Tuhan dan pengantara kami. Amin.
Salam Veritas
Berkah Dalem
Sr. Albertine. OP
