SECERCAH HENING
Sabtu, 15 April 2023
Mrk 16 : 9-15
“Move in”
Menembus embun pagi,
Meniti lorong sunyi,
Menata niat hati,
Untuk bangkit menata diri.
Polarisasi kasih menginspirasi,
Masa lalu jd saat matangkan diri,
Loncatan hidup menanti,
Bangkit tuk mengisi diri.
Kadangkala kita begitu nyaman, berkubang dalam zona tangis dan kesedihan akibat kerapuhan dan luka. Kita sampai lupa untuk move in dan bangkit menjadikan kesedihan dan derita sebagai masa lalu, dimana saat Tuhan membuat masakan hidup baru bagi kita. Paskah mengajak kita makin “titen” bahwa saat saat derita kadangkala menjadi saat penuh rahmat yg membawa kita mengalami lompatan hidup dan kasih yg energinya lebih besar dari keterpurukan itu sendiri. Hingga semua mampu dilewati dengan sukacita dan membawa damai sejahtera. Inilah bedanya arti move on dengan move in. Move in membuat kita mampu menerima, menghadapi dan menyelesaikan hal tersulit dengan damai dan sukacita. Sedangkan move on sekedar seseorang mampu melupakan atau melewati tetapi sepenuhnya belum tentu berdamai dengan keadaan yg ada. Seperti para murid Yesus berani move in karena semakin besar rasa keterpurukan akibat kematian Yesus, murid itu selanjutnya mengalami pengalaman kasih dan sukacita yg besar karena kebangkitan Kristus.
Maka polarisasi Kasih yang sama juga dipakai oleh Yesus dalam intimitas dengan para murid yang dikasihiNya. Manakala dirasa cukup bagi para murid untuk menimba kasih sehabis-habisnya dari Yesus setelah keterpurukan akibat kematinnya, dan dengan intens Yesus juga memberikan diriNya dalam aneka penampakan. Saatnyalah sekarang para murid membuahkan kasih yang sama kepada dunia seperti dalam Injil hari ini:
“Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk”.
Perintah penginjilan ini bukan hanya soal tugas tetapi buah yang penuh rahmat dan damai dari kedalaman yg saatnya harus dibagikan. Injil yang hidup yang harus diwartakan adalah semua pengalaman kebersamaan dengan Yesus sebagaimana dilukiskan dalam spirit Dominikan “Contemplari et Contemplata Aliis Tradere” berkontemplasi dan membagikan buah kontemplasi kepada orang lain. Injil yang kita wartakan adalah kesaksian hidup yang mengalir dari hubungan kita yang intim dengan Allah. Injil menjadi kabar sukacita akan terwartakan secara efektif dalam wajah kita yang mampu mengolah dan memaknai kehadiran Tuhan dalam kancah dunia yang keras dan kadang penuh konflik dan luka.Dunia dalam konteks penginjilan bukan hanya benua-benua di planet ini tetapi dunia dalam lorong-lorong hati manusia yang dipenuhi kepedihan karena tidak mampu melihat terang. Amanat Paskah memanggil kita bersukacita untuk menjangkau hati orang-orang yang terluka di sekitar kita dengan kedalaman kasih kita. Mari kita ‘move in’ beranjak dari kenyamanan diri kita dengan menyapa dan berbagi vibrasi kebaikan bagi dunia di sekitar kita.
Contemplating
Marilah kita heningkan seluruh diri kita dan belajar memandang Allah yang hadir dalam realitas hidup yang kadang penuh luka.
Actuating
Belajar membiasakan diri untuk memiliki relasi yang intens dengan Tuhan agar bisa menampakkan wajah Injili dalam hidup.
Reflecting
Apakah pengalaman Paskah kita telah membuahkan sukacita bagi sesama kita? Melalui perilaku kita yang sederhana.
Praying
Allah Bapa kami, berilah kami hati seperti hatiMu, agar diri dan hidup kami layak menjadi Injil yang hidup bagi sesame kami. Hingga pengalaman Paskah memancar dalam hidup kami. Demi Kristus Tuhan kami. Amin.
Salam Veritas
Berkah Dalem
Sr. Albertine,OP
