SECERCAH HENING
Selasa, 14 Maret 2023
Mat 18: 21-35
” Prefect of Love“
Terluka dalam balutan cinta,
Kesembuhan oleh belas kasih nyata,
Pengampunan bukan indah di kata,
Kepenuhan yg mengalir di ujung senja.
Pernahkah kita sulit mengampuni? Mengapa kita menjadi sulit untuk melakukannya ? Biasanya sulitnya kita mengampuni bukan karena beratnya kesalahan dan dosa atau konflik sesama terhadap kita, tetapi beratnya belenggu sakit hati yang kita rasakan. Jadi sumbernya adalah hati kita yg sakit karena terluka. Sementara mengampuni adalah memberikan obat atas kesembuhan dari hati yg penuh. Hati yg terluka dan kondisi sakit akan sulit memberikan daya dari kepenuhannya. Hal yg serupa dialami oleh Petrus dalam perjalanannya mengikuti standar pengampunan yg diberikan Yesus kepadanya dalam Injil hari ini:
Datanglah Petrus dan berkata kepada Yesus: “Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali? ” Yesus berkata kepadanya: “Bukan! Aku berkata kepadamu:Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.”
Pesan dari sabda ini adalah salah satu kekhasan ajaran Kristiani yakni perihal pengampunan. Standar tindakan pengampunan adalah Allah yg mengampuni. Sumber pengampunan pertama tama adalah Kasih Allah sendiri. Ketika kita telah merasakan sendiri kasih Allah secara nyata dan penuh dalam hidup. Maka akan mudah bagi kita untuk mengampuni. Namun jika diri kita masih penuh dengan luka-luka yg belum tersembuhkan oleh pelukkan kasih Allah melalui proses pengolahan diri, maka akan sulit untuk mengampuni. Maka sebelum kita sanggup memenuhi standar tinggi yg di tetapkan Allah. Marilah pertama tama kita mengampuni diri dan mohon agar kitapun diampuni Allah. Hingga kita meneguk kebahagiaan batin, karena dari hati yg bahagia dan penuh cinta maka kita akan mampu mengampuni tiada batas. Saya sering kali mengajak anak didik mencintai diri sendiri itu penting, “love you self first”. Cukup memulainya dengan sederhana, tersenyumlah dengan dirimu sendiri sebelum kita memberi senyum manis buat Tuhan dan orang lain. Tanpa sadar kita sering melukai diri sendiri dan orang lain, terutama saat kita bersikap atau berkata kasar terhadap orang lain, sesungguhnya kita sedang melukai diri kita sendiri dan sesama kita. Sedangkan esensi dari pengampunan adalah mengasihi sesama tanpa memandang kesalahan atau apapun yg menghalangi manifestasi kasih yg tulus. Dan buah dari pengampunan adalah kasih. Jangan ragu dan takut untuk mengampuni sesamamu, karena saat itulah engkau sedang merajut benang – benang kasih dan lembut yg menyembuhkan karena berasal dari kemurahan Allah.
Contemplating
Mari kita rasakan keheningan, mencoba hadir saat ini, Sadar dan tatap realitas dgn mata hati yg bahagia.
Actuating
Membiasakan diri mengelola gerak batin yg bersumber dari relasi dgn Allah. Hingga hati kita mirip dgn hati Allah yg penuh kasih.
Reflecting
Apakah aneka peristiwa hidup, telah mengajariku untuk makin matang dan bahagia menyikapi realitas sesuai kemurahan hati Allah.
Praying
Allah Bapa kami, seturut teladan Yesus buatlah hati kami senantiasa manis, lembut dan penuh Cinta hingga kami boleh menikmati hidup bahagia dan pengampun. Demi Kristus Tuhan kami. Amin.
Salam Veritas
Berkah Dalem
Sr. Albertine. OP
