Bergegas menyongsong fajar,
Bertahan agar api terus berpijar,
Menggapai Cinta dengan tegar,
Menjaga api agar tak berpendar.
Terseyok dalam malam tergelap,
Mendobrak jiwa yg tertidur lelap,
Meski hati ini senyap, Cinta mengubah malam jd gemerlap.
“Gadis-gadis yang bodoh itu membawa pelitanya, tetapi tidak membawa minyak, sedangkan gadis-gadis yang bijaksana itu membawa pelitanya dan juga minyak dalam buli-buli mereka”.
Pilihan subyek dalam bacaan di atas dipilih sebagai “gadis” yang dikontraskan dalam stereotipe bodoh dan bijaksana. Gambaran di atas adalah simbul – simbul karakter manusia yang lemah dilawan dengan mental yg predictable yang mampu menyiapkan dan memprediksi kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi dalam hidup. Sekaligus pribadi yg mampu bermati raga dan pribadi yang malas. Tentu yg bisa bodoh dan bijaksana bukan hanya gadis gadis, tetapi yg mau ditonjolkan adalah simbul-simbul bahwa hanya orang yg tulus murni, penuh ekspresi keindahan dari dalam adalah gadis yg layak menyambut mempelai laki-laki. Kelayakan untuk menyongsong mempelai dan kemudian ikut masuk ke dalam perjamuan adalah pribadi-pribadi bijaksana yang bercirikan:
1) Memiliki daya juang untuk bertahan dalam situasi ketidakpastian kapan datangnya mempelai karena lama tidak datang-datang, ia juga mampu bermatiraga dengan melawan kemalasan.
2) Pribadi yg terus sadar (tidak tidur)meski terus dilanda kelemahan manusiawi (rasa kantuk).
3)Pribadi yg memiliki terang dalam dirinya, karena datangnya mempelai di tengah malam, maka tak mungkin sanggup hidup dalam kegelapan (tengah malam) jika dalam dirinya tak memiliki terang.
4) Pribadi yg memiliki energi yang lembut namun menyalakan yang mati dari kedalaman hidupnya (minyak kehidupan). Itulah yg disebut gadis bijaksana. Sebaliknya yang tidak dilayakkan menyambut mempelai untuk ikut dalam perjamuan-Nya adalah:
1) Pribadi yg lembek tidak tahan menghadapi ujian proses hidup dalam ruang dan waktu,
2)Pribadi yg tertidur atau tidak sadar atau yg selalu ngantuk krn lemahnya motivasi utk menjalani hidup ini dgn lebih trengginas. Malas cari yg enak.
3) Pribadi yg selalu dalam kegelapan tengah malam pribadi yg jauh dari suasana fajar. Identik dengan sikap yg suram, negatif, dekat dengan budaya kematian.
4)Pribadi yg kaku, dan hopeless tidak memiliki energi dari dalam yg bisa mengobarkan sifat – sifat baik karena minyak kehidupannya tidak dimiliki. Kurang memiliki antusiasme dalam hidup.
Maka dengan merenungkan sabda hari ini, kita diajak untuk berefleksi dan rela membangun diri agar memiliki integritas pribadi yang dilayakkan Tuhan untuk kelak boleh menyongsong mempelai abadi yakni Kristus dalam perjamuaan-Nya.
Jangan putus harapan untuk terus merangkul lelah, kesedihan, kegalauan, dan aneka kesulitan hidup. Tetaplah tegar dan nyalakan kasih sayang dan kelembutan hidup, agar engkau mengalami kedamaian hingga Allah mempunyai ruang untuk menopangmu tiap waktu.
Contemplating
Hening…… Hadir penuh dihadirat Tuhan. Tarik nafas perlahan. Sadari setiap tarikan nafas adalah saat menimba belas kasih Tuhan. Biarkan Tuhan mengisi ruang batin kita.
Actuating
Membiasakan diri hidup dengan melatih keutamaan seperti para gadis bijaksana.
Reflecting
Apakah aneka peristiwa hidup, telah mengajariku untuk makin membina menuju integritas.
Praying
Allah Bapa kami, berilah kami hati yang damai, agar kami mampu membina diri secara berkualitas melalui aneka keutamaan yg mengarahkan untuk dilayakkan memasuki perjamuan abadi.
Bersama Kristus Tuhan kami. Amin.
Salam Veritas
Berkah Dalem
Sr. Albertine. OP
