Pulanglah

SECERCAH HENING
Kamis, 4 Juli 2024

Mat 9: 1-8

Menepi di titian waktu,
Mendengar jeritan pilu,
Mendamaikan yg berseteru,
Jernih memandang dgn jitu
.

Pulang di saat hati membiru,
Dentang senja menanti di situ,
Bersimpuh di tanah syukurku,
Peluk rindu sepanjang waktu.

Seringkali kita menjadi amat rindu pulang ke rumah. Rumah yang dimaksud tentu bukan hanya bangunan fisik dimana kita pernah berlindung dengan aman. Tetapi juga rumah spiritual bagi jiwa kita, dimana kita bisa berteduh dan menimba kekuatan dan kesembuhan batin karena Tuhan yg diam di rumah jiwa kita. Keteduhan rumah jiwa memiliki daya magisnya bisa dipengaruhi oleh iman bersama yg tumbuh bersamaan dalam peziarahan hidup kita. Sebagaimana
Gereja hadir bertumbuh dalam iman dan berkembang, karena kebersamaan umat yang makin matang. Setiap orang dipanggil secara personal untuk mengikuti Tuhan dari kedalaman rumah jiwanya dan memperoleh keselamatan. Namun pertumbuhan dan keselamatannya selalu berhubungan dengan orang lain. Orang kudus dinyatakan kudus karena relasi dan bertumbuh dalam kesucian karena berhubungan dengan orang lain. Orang tidak bisa menjadi saleh dan kudus seorang diri.Demikian juga orang tidak bisa memperoleh keselamatan seorang diri karena rumah jiwanya bisa tandus. Demikian persis sama dengan kisah dalam Injil hari ini:

” Maka dibawa oranglah kepada-Nya seorang lumpuh yang terbaring di tempat tidurnya. Ketika Yesus melihat iman mereka, berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu: “Percayalah hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni. “…”Bangunlah angkatlah tempat tidurmu dan pulanglah ke rumahmu! “.

Dan orang itupun bangun lalu pulang. Dari sabda ini jelas bahwa kesembuhan orang lumpuh karena orang lain yg peduli membawanya kepada Yesus, jika tidak ada orang yg membawanya kepada Yesus, dia akan lumpuh seumur hidup. Apakah kita juga termasuk lumpuh dalam hidup yg membutuhkan orang lain mengantarkan kepada Yesus? Atau mungkin kita malah dipanggil untuk membawa orang lumpuh di sekitar kita untuk membawanya kepada Yesus ?. Semoga dengan sabda ini kita makin peduli akan keselamatan diri sendiri dan orang-orang di sekitar kita. Karena dari merekalah kemungkinan keselamatan kita ditentukan. Dan setelah keselamatan itu nyata menyentuh kita semoga kita tak pernah lupa untuk pulang ke rumah. Yakni pulang ke rumah jiwa dan batin kita yg paling dalam untuk mendengar suara-Nya inner voice yang bisa meneguhkan hidup kita disaat teduh, maupun panas yg begitu terik. Semoga semangat orang lumpuh yg sembuh dan bangkit utk pulang ke rumah menarik kita untuk makin bersemangat menyeimbangkan hidup terutama rajin pulang ke rumah batin beranjangsana dalam Tuhan sebagai sumber kesembuhan hidup kita.
Jangan takut manakala hidup menekanmu dengan aneka kesulitan yg menggalaukan, saatnya untuk pulang ke rumah batin kita. Dengarkan Dia dengan kelembutan, niscaya kita akan dipulihkan untuk sanggup memeluk kehidupan dengan damai di tengah carut marutnya tekanan.

Contemplating
Marilah kita mengheningkan seluruh indera kita agar makin peka untuk berteduh dalam rumah jiwa kita.

Actuating
Pola hidup apa yang perlu kubiasakan atau kuubah agar makin percaya ada yg berkuasa menyembuhkan penyakit kita.

Reflecting
Apakah hidupku banyak ditentukan oleh gaya relasiku dgn Yesus ? Ataukah bergaya tanpa makna hingga membuat kita makin jauh dari keselamatan.

Praying
Allah Bapa kami, lembutkanlah kekerasan hati kami, agar jiwa kami mudah dibentuk oleh relasi kami dengan Yesus PuteraMu, hingga kami boleh mengalami keselamatan, dan rajin pulang ke rumah batin terdalam yakni berjumpa Allah sumber kesembuhan dan keselamatan. Dalam Kristus Tuhan kami. Amin.

Salam Veritas
Berkah Dalem
Sr. Albertine. OP

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *