Puncak Kehidupan

SECERCAH HENING
Sabtu, 18 Februari 2023

Mrk 9 :2-13

“Puncak Kehidupan”

Terayun lembut, disapa malam,
Terembus daya di saat kelam,
Cinta terselubung makin dalam,
Cahaya gemilang menuju bintang.

Terbisik suara lembut tuk bahagia,
Tinggal dan berada bersama
Peluk hening yang mengada,
Hadirkan Dia senantiasa.

Saat puncak bahagiamu,
Saat Tuhan menyapamu,
Menitipkan daya di hatimu,
Agar kuat di saat dukamu.

Saat bahagiamu sesungguhnya adalah saat dimana Tuhan tengah menaruh dayaNya agar engkau kuat disaat memeluk titik rapuhmu.
Setiap orang memiliki titik puncak kehidupannya yg memberi energi atau kebahagiaan yang terus dikenang. Ibarat hidup jika dilukiskan dalam sebuah grafik. Masing-masing orang memiliki grafik tertinggi. Apa yg menjadi titik puncaknya ? masing-masing orang sangat berbeda. Ada yg meletakkan pusat atau puncak kebahagiannya pada: Karier, hubungan percintaan, kekayaan, sukses bisnis, keharmonisan suami isteri, kesejahteraan keluarga, kesehatan, sukses studi, kejuaraan lomba, kesuksesan karier politik, kaul, imamat, kesetiaan dengan pasangan, dll. Setiap orang bebas mengekpresikan puncak kebahagiaannya. Seperti halnya Petrus dalam perikop Injil hari ini:

“Rabi betapa bahagianya kami berada di tempat ini. Baiklah kami dirikan tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia”.

Petrus sungguh sangat bahagia menyaksikan kebersamaan dengan 3 nabi besar dalam sejarah bangsa. Maka dia tidak ingin kebahagiaan itu sirna, tanpa ada tanda yg bisa dikenang di masa depan. Agar ia dapat terus bahagia, maka ia ingin mendirikan kemah untuk mengenang dan menghidupkan kembali pengalaman kebahagiaan yg dasyat itu. Namun rupanya Petrus tidak boleh berlama-lama hidup dalam zona kebahagiaan itu, sekejab ia dipenuhi awan gelap dan tak melihat seorangpun, kecuali Yesus seorang diri dan selanjutnya mereka turun gunung lagi. Setiap kebahagiaan yg dianugerahkan kepada kita sebagai puncak kehidupan, selalu menawarkan pesan dan ajakan untuk kembali turun dalam kehidupan yang riil. Energi baru yang ditimba dari kebahagiaan yang didapat. Petrus mengalami puncak kebahagiaan yang luarbiasa, karena setelah episode itu Petrus akan dihadapkan pada penderitaan yang sama dasyatnya saat harus mengkhianati Yesus, dalam menyongsong kisah penyaliban yang mengerikan. Namun Petrus bisa bertahan sampai akhir karena meletakkan puncak kebahagiaannya bersama Yesus. Ajakan bagi kita apakah kita juga meletakkan pusat kebahagiaan kita dalam hubungan kebersamaan dengan Yesus? Ataukah kebahagiaan sesaat yg musnah sekejap, manakala kita dihadapkan pada lembah kehidupan yg gelap? Dalam bentuk: kegagalan, pengkhianatan, perceraian, sakit, kekecewaan, kemiskinan, dll. Apapun pilihan pusat kebahagiaan yang kita pilih, marilah kita meletakkannya dalam hubungan kebersamaan dengan Yesus, agar kelak kita siap menghadapi lembah kehidupan sesulit apapun. Namun tetap memiliki pegangan yang menyelamatkan.
Jangan gelisahkan hatimu saat mengalami gelapnya hidup, karena di titik yang lain cahaya terang telah menantimu, jika engkau tetap bersandar pada kuasaNya.

Contemplating
Marilah kita satukan jiwa, raga, rasa dalam keheningan,rasakan dan kenali cara Tuhan menawarkan kebahagiaan bagi kita.

Actuating
Pola hidup apa yg perlu kubiasakan agar makin peka menangkap setiap realitas sebagai saat menimba kebahagiaan bersama Yesus.

Reflecting
Apakah aneka pengalaman sulit telah mengajariku makin peka menangkap wajah Yesus dan kehendak-Nya.

Praying
Allah Bapa, berilah kami rahmat-Mu agar makin peka menangkap tanda kehadiran-Mu yang menyelamatkan. Karena Kristus Tuhan kami Amin.

Salam Veritas
Berkah Dalem
Sr. Albertine. OP

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *