SECERCAH HENING: Belas Kasih

Senin, Prapaskah IV 16 Maret 2026

Yoh 4:43-54

“Belas Kasih”

Kau jamah titik heningku,
Siluet jingga menembusku,
Memanah sisi rapuhku,
Tumbuhkan tunas-tunas baru.

Tatap pelangi di ujung hari,
Titian waktu kian berarti,
Merunduk belajar hidup tuk berbagi.
Menanti senja dengan girang hati.

Santa Theresa dari Lisieux mengubah ketakutan akan kematian menjadi sebuah pengharapan dengan menyatakan :” Aku tidak mati, aku memasuki kehidupan”.
Jangan takut untuk mengalami kematian-kematian kecil dalam diri kita, sebab saat itulah Tuhan tengah menumbuhkan pucuk tunas baru dalam hidup kita. Tunas-tunas baru berupa pengharapan dan kasih yang mematangkan hidup. Meski menjadi matang dalam hidup adalah pilihan, dan menjadi tua dan mati adalah kepastian. Karena setiap orang pasti akan mati, namun belum tentu menjadi matang dalam hidup. Hingga belum tentu tiap orang siap menghadapi sebuah kematian. Karena mengalami kematian sering menyisakan perasaan kepedihan,keputusasaan, kehilangan dan bahkan depresi. Yesus sangat memahami situasi batin seperti itu dalam diri pegawai istana yang berkata kepada Yesus:

“Tuhan, datanglah sebelum anakku mati”. Kata Yesus:”Pergilah, anakmu hidup! “. Dan terjadilah seperti yang dikatakan-Nya.

Zaman ini tidak akan ada lagi Yesus yang secara fisik membangkitkan dan menghidupkan orang mati lagi. Tetapi inspirasi dan daya Roh Yesus yang membangkitkan dan menghidupkan kembali setiap kematian demi kematian dalam hidup, akan selalu ada sampai hari ini.
Kematian yang sedang mengintai kita saat ini, bukan hanya kematian fisik, tetapi kematian esensial yang membuat orang mati di tengah kehidupan. Kehilangan pekerjaan, kegagalan usaha, hilangan pasangan hidup, perceraian, dan kegagalan lainnya. Sisi lain adalah kematian hati nurani, kematian kepekaan atau keedulian, kematian harapan, kematian semangat berbelas kasih, kematian kasih sejati, kematian kesetiaan pada komitmen, kematian kepercayaan. Kehidupan ini makin butuh Yesus, yang tanganNya memeluk dan menjangkau tiap hati yang rapuh. Mari sejenak ambil jeda, untuk mengenali titik titik kematian kita selama ini, yang membuat diri kita tak mampu menghidupkan tunas tunas baru. Makin peka hati ini mengenali tiap titik kematian, maka keberadaan kita bisa menjadi tangan dan hati yang dipinjam Tuhan, untuk menghidupkan sesama. Mari relakan tangan, hati, mata, pikiran, telinga, dan kaki kita dipinjam Tuhan menghidupkan sesama kita. Jika tidak untuk sesama setidaknya menghidupkan sisi hati kita yang rapuh, jiwa kita yang tandus, pikiranmu yang sempit, mata yang suram, telinga yang bebal, untuk di peluk, dijamah dan direnda Tuhan dengan tunas-tunas baru untuk makin berbelas kasih. Tuhan senang jika kita menaruh sisi-sisi rapuh kita untuk diletakkan di lenganNya yang kokoh, dan jari-jemari Tuhan yang lembut, agar hidup kita makin penuh hikmat dan berkat untuk berbelas kasih.

Contemplating
Sadari tiap tarikan nafas kita menjadi saat hening untuk terarah pada pengalaman belas kasih Allah.

Actuating
Membiasakan diri hening, sadari tiap saat adalah saat untuk menghidupkan kematian-kematian kecil agar hidup makin selaras dengan semangat Tuhan yang berbelas kasih.

Reflecting
Apakah aneka peristiwa hidup, telah mengajariku makin matang dalam menghidupkan setiap kematian dalam hidup.

Praying
Tuhan Yesus ajari kami memiliki hati yang berbelas kasih seperti Engkau. Sehingga hidup kami layak menjadi perpanjangan tangan-Mu untuk membangkitkan setiap sisi kematian diri kami sendiri dan sesama kami. Demi Kristus Tuhan kami. Amin.

Salam Veritas
Berkah Dalem
Sr. Albertine. OP

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *