Secercah Hening : Belas Kasih

SECERCAH HENING
Jumat, 4 Juli 2025

Mat 9: 9-13

“Belas Kasih”

Merangkul hening dalam jiwa,
Memeluk raga yg terluka,
Pengampunan legakan rasa,
Belas kasih penguat segala.

Indah dibalut rasa,
Peneduh saat mencinta,
Belarasa saat mengada,
Pengampunan jadi jalan bahagia.

Kadang kala tanpa disadari sepenuhnya kita sering peka dan sensitif dengan kelemahan dan kesalahan orang lain. Pandangan mata hati tertuju dan menatap serta menemukan kekurangan dan kelemahan orang lain sebagai fokus untuk di sapa atau dikomen. Konsep diri yang sempurna sering menjadi ukuran. Hingga kurang mampu mengambil makna dari setiap peristiwa hidup di depan mata. Peristiwa seluhur apapun tetap terpandang dari sisi negatif. Kecenderungan gaya hidup seperti itu rupanya juga menjadi orientasi kaum Farisi. Tak heran ketika Yesus makan bersama pemungkut cukai mereka sangat jengah dan bertanya kepada para murid Yesus:

“Mengapa gurumu makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa? ” Yesus mendengarnya dan berkata: ” Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit “.

Orientasi hidup Yesus adalah belas kasih the Man of mercy . Setiap pilihan nilai, sikap, dan tindakan Yesus selalu berorientasi pada keselamatan. Keduanya adalah pilihan. Sikap mana yang akan kita pilih dalam memandang realitas adalah pilihan yang dipengaruhi oleh kebesaran hati dan keterbukaan budi dibentuk oleh rahmat. Dan rahmat Allah akan menguasai hati seseorang atau tidak ditentukan oleh seberapa lunak seseorang dibimbing oleh Roh Allah, sehingga mampu melihat hal yang baik dalam segala sesuatu. Dan segala sesuatu memberi makna kebaikan. Maka melalui sabda ini kita diajak untuk berefleksi sejauhmana pilihan sikap kita dalam memandang setiap realitas dengan mata yang baik atau mata yang buruk adalah pilihan nurani yang mencerminkan keterbukaan kita terhadap rahmat.

Kesalahan dan kedosaan adalah sisi yang ada dalam hidup setiap manusia, bagaimana sisi itu di tempatkan akan dipengaruhi oleh seberapa besar jiwa kita rela dibentuk dan membentuk menjadi rahmat yang mematangkan nurani dan integritas kita. Yesus senantiasa bebas memilih setiap kita sebagai orang berdosa bukan untuk dihukum terus menerus, tetapi untuk dipilih, dicintai dan dibentuk dalam kasih melalui jatuh bangunnya kehidupan. Bukan saat jatuhnya yang penting, tetapi seberapa besar jiwa kita rela bangun untuk siap dibentuk dan membentuk diri. Janganlah gelisah hatimu, manakala hidupmu terbeban oleh aneka penilaian buruk orang lain, tetaplah lembut memandang semua hal itu sebagaimana kita ingin dipeluk lembut oleh kasih Allah. Jadikan setiap cemoohan menjadi saat berdoa atau mendoakan dengan gigih. Sehingga hati kita lebih fokus pada kemurahan hati Allah. Dan kian lembut dibimbing pada kemurahan hati untuk mencintai dan mengampuni sesama.

Contemplating
Marilah kita mengheningkan seluruh indera kita agar makin peka melihat kebaikan dalam segala sesuatu.

Actuating
Pola hidup apa yang perlu kubiasakan atau kuubah agar makin peka membuat pilihan sikap yang tepat selaras dengan bimbingan Roh.

Reflecting
Apakah hidupku banyak ditentukan oleh gaya relasiku dgn bimbingan Allah? Ataukah banyak gaya tanpa makna hingga membuat kita menjadi pribadi yg tidak subur dalam sikap belas kasih.

Praying
Allah Bapa kami, lembutkanlah kekerasan hati kami, agar hati dan jiwa kami mudah dibentuk oleh kuasa Roh-Mu, sehingga kami mampu melihat segala sesuatu seturut dengan kehendak-Mu. Demi Kristus Tuhan kami. Amin.

Salve
Salam Veritas
Sr. Albertine, OP

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *