SECERCAH HENING
Kamis, 3 Juli 2025
Yoh 20: 24-29
“Hanya sebatas indera…. “
Meragu dalam indera yg tersapu,
Terpisah dalam bentangan waktu,
Kesendirian yang kaku,
Tersapa oleh Sang Waktu,
Ya Tuhanku dan Allahku,
Kumeragu oleh dayaMu,
Kedegilanku meniadakanMu,
Ampuni aku dititian hidupku.
Entah mengapa, hidup di jaman yang banjir visualisasi dimana kemajuan teknologi makin pesat dan menggantikan hampir semua peran kita manusia. Membuat kita memandang realitas hidup kadang hanya sebatas indera. Dampaknya kita memilih aneka hal yang bisa dilihat dengan cepat, murah, enak, nyaman dan mudah, sulit menerima sebuah proses yang tersimpan dibalik realitas yang tak nyata. Otak dan kesadaran kita sudah dibombardir oleh dunia visualisasi. Pengalaman ini rupanya juga sudah dialami oleh para murid Yesus seperti dikisahkan dalam Injil hari ini:
Kata para murid kepada Thomas: “Kami telah melihat Tuhan!”. Tetapi Thomas berkata kepada mereka ” sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu dan mencucukkan tanganku ke dalam lambung-Nya, sekali kali aku tidak akan percaya”.
Kata Yesus kepadanya: “Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat namun percaya”.
Ketidakercayaan Thomas menjadi gambaran kita, manakala iman kita selalu membutuhkan tanda untuk makin percaya kepadaNya. Apalagi manusia jaman ini yang terus hidup dalam banjir visualisasi. Kita sering juga menjadi sulit percaya akan apa yang tidak terlihat oleh indera. Padahal kedalaman hidup seringkali hadir dibalik makna realitas. Termasuk bagaimana kita bisa melihat wajah Allah dalam segala sesuatu dan segala sesuatu dalam Allah. Dan untuk itu dibutuhkan kebersamaan.
Tak ada Gereja tanpa kebersamaan, tak ada komunitas tanpa kebersamaan, tak ada keluarga tanpa kebersamaan, dalam keterpisahan kita hidup oleh opini pribadi. Yang membuat kita makin terkungkung dalam zona nyaman. Sementara zona rahmat mengajak kita seperti Thomas mengubah haluan opini pribadi menjadi saat rendah hati dan mengubah diri dengan sadar bahwa Allah mengetahui segala “Ya Tuhanku dan Allahku”. Kesaksian iman dalam kebersamaan seringkali membuat kita bertumbuh bersama, matang bersama dan meneguhkan iman bersama. Keterpisahan dari persekutuan seringkali kita hanya hidup sebatas indera jika tidak dilambari hubungan yang makin intim dengan Tuhan. Semoga perayaan St. Thomas yang kita rayakan hari ini, meneguhkan kita untuk hidup makin hangat dan penuh kasih, saling percaya dan meneguhkan dalam kesaksian hidup yg dibingkai dalam kebersamaan keluarga, komunitas dan Gereja. Sehingga siapapun yang mengalami kebersamaan dengan kita menemukan pengalaman wajah Tuhan sendiri, dan merekapun mengalami kesadaran “Ya Tuhanku dan Allahku”.
Mari jangan kerdilkan mata hati kita dengan hanya mengandalkan apa yg bisa kita lihat, ataupun yang tidak mampu kita lihat. Tetapi mari kita ning nang nung untuk belajar melihat wajah Tuhan dalam segala sesuatu dengan lebih hening. Niscaya kedamaian akan menuntun kita pada pengalaman kearifan mengenal Tuhan yang hadir.
Contemplating
Marilah kita mengheningkan seluruh indera kita agar makin berlabuh lebih dalam pada samodra kasih Allah.
Actuating
Pola hidup apa yang perlu kubiasakan atau kuubah agar makin percaya pada Allah .
Reflecting
Apakah hidupku banyak ditentukan oleh gaya relasiku dgn Yesus ? Ataukah banyak gaya tanpa makna hingga kurang mengenali sisi-sisi keegoisan kita yg menghalangi Yesus hadir menyapa kita.
Praying
Allah Bapa kami, lembutkanlah kekerasan hati kami, agar jiwa kami mudah dibentuk oleh relasi kami dengan Yesus PuteraMu, hingga kami makin mampu mempercayakan diri pada Tuhan dan makin layak menampakan wajah Allah dimanapun kami berada. Demi Kristus Tuhan kami. Amin.
Salve
Salam Veritas
Sr. Albertine, OP

