SECERCAH HENING
Salasa, 22 Juli 2025
Yoh 20:1.11-18
“Berlari Dari Titik Zero”
Cinta bergegas menyibak pagi,
Menuntun langkah tuk berlari,
Menemui Dia di sudut bumi,
Batupun menggulingkan diri.
Cinta menubuh dalam hati,
Saksikan kafan suci,
Tanda Dia tak di sini lagi,
Wartakan kebangkitan suci
Erich Fromm dalam buku The Art of Loving menegaskan bahwa kepuasan dalam cinta individu tak dapat diperoleh tanpa adanya kapasitas untuk mencintai sesama dan Tuhan, tanpa disiplin, tanpa kerendahan hati dan tanpa keberanian. Hal ini sama ketika kita merenungkan peristiwa kebangkitan Yesus menjadi sesuatu yg membutuhkan kesadaran ekstra. Sekaligus mengajak kita untuk berani masuk pada kehidupan yang kadang “U turn” balik arah dari titik 0 (zero) yakni kematian. Kematian ini membuat hidup dibersihkan (zero) dari kuasa dosa atau di “recharge” agar nyala api cinta berkobar kembali. Makna kematian dan kebangkitan ini mengingatkan saya juga pada sebuah buku “ The Miracle Of Love” di sana diulas panjang lebar tentang menciptakan hidup tanpa bayang-bayang ketakutan. Cinta itu kreatif, mampu mengubah ketakutan, keraguan digantikan dengan harapan yg berkobar, kesedihan diubah menjadi kebahagiaan dan optimisme. Hal ini persis sama yang dialami oleh Maria Magdalena, didorong oleh “the power of Love” ia tidak berpikir panjang.
“Pada hari pertama minggu itu, pagi-pagi benar ketika hari masih gelap, pergilah Maria Magdalena ke kubur itu dan ia melihat bahwa batu telah diambil dari kubur…”
Cinta kadang irasional dan nyata terjadi, vibrasi Cinta Maria Magdalena membuat batu telah terguling dengan sendirinya, dan yang lebih mencengangkan, Yesus tidak ada di situ dan kain kafan tergulung rapi. Iman mereka berproses dari sini, dan disempurnakan dengan penglihatan. Namun yang menarik adalah cara mereka mengelola ketakutan, karena ketakutan bisa saja menghalangi mereka untuk terbuka terhadap kehadiran Yesus. Namun rupanya Cinta Yesus pada mereka dan sebaliknya cinta mereka pada Yesus melampaui ketakutan yang ada. Dan dari situlah pengalaman kebangkitan dipercayakan . Jika Maria Magdalena , Petrus dan Yohanes tidak mencintai, mereka tidak akan ke kubur sedini itu, jika tidak mencintai maka menyaksikan kubur berubah, mereka tidak akan berlari atau minimal tidak akan masuk ke dalam kubur karena yang dicari tidak ada lagi. Namun tindakan mereka untuk :
Mencintai
Lari
Masuk ke kubur.
Mulailah kebangkitan tersiar dan Tuhan pun menyempurnakannya dengan penampakan yang terus berlanjut. Apakah cinta kita cukup untuk menghidupkan semangat kebangkitan ? ataukah kebangkitan ini hanya menjadi story atau history tanpa berpengaruh terhadap nurani, iman ,kasih dan hidup spiritual kita?.
Bangkit dari ketakutan menjadi kewaspadaan dan kepedulian terhadap hidup. Mari kita kembali “jatuh cinta” pada cara Tuhan menyapa kita. Cara Tuhan menyapa Maria Magdalena mengajak kita untuk peka bahwa Tuhan juga menyapa kita lewat tiap titik kejatuhan hidup kita. Maria Madgalena lah yang di pilih Tuhan menyaksikan kebangkitan itu bukan karena Magdalena hebat, tetapi karena Magdalena punya Cinta. Magdalena lah yang dipilih sebagai pewarta kebangkitan yang pertama. Hingga ia dipilih sebagai pelindung ordo pewarta.
Mari jangan lelah untuk mencintai. Minimal mulailah jatuh cinta dalam cara Tuhan mencintai kita. Hingga kita tidak akan menyia nyikan kehidupan ini dengan hidup tanpa makna dan cinta.
Contemplating
Dalam hening, raga , rasa, budi, jiwa memandang Tuhan yang bangkit yang bisa dilihat, diraba, dirasa dalam perubahan kubur.
Actuating
Belajar mengatasi belenggu yang menghalangi hidup makin optimis sebagai bentuk kebangkitan.
Reflecting
Marilah kita mensyukuri pengalaman kebangkitan yang dialami Maria Magdalena, yang memjadi awal kepercayaan dan kebangkitan iman kita akan Kristus yang bangkit.
Praying
Yesus berilah aku iman yang kuat dan hati terbuka , agar sanggup ikut ambil bagian dalam semangat kebangkitan agar layak diselamatan dalam karya penebusan ini. Demi Kristus Tuhan kami.
Selamat pesta
St. Maria Magdalena
Sr. Albertine, OP

