SECERCAH HENING
Senin, 21 Juli 2025
Mat 12: 38-42
“Mindfulness”
Mengintip fajar dengan sukacita,
Mengendus rahmat tiap peristiwa,
Menerima realitas sebagai tanda,
Dia hadir dalam segala.
Peziarahan salib jadi nyata,
Penebusan jadi tanda,
Titian baru kian terbuka,
Tertebus oleh iman akan Dia.
Pemandangan hidup saat ini, tanpa kita sadari, kita ditarik dalam arus kehidupan yang cepat kilat, terburu buru dan membuat hidup kurang fokus. Di sisi lain setiap jaman dalam peradaban manusia selalu membutuhkan kepekaan dan kesadaran ” mindfulness” untuk bisa merasakan, melihat dan mensyukuri tanda kehadiran Tuhan. Mengapa? Karena kemampuan manusia sangat terbatas untuk bisa memahami kemahakuasaan Allah.
Sebagaimana beberapa ahli Taurat dan orang Farisi berkata kepada Yesus:
” Guru, kami ingin melihat suatu tanda dari pada-Mu. ” Tetapi jawab Yesus: “Angkatan yang jahat dan tidak setia ini menuntut suatu tanda-tanda.Tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda nabi Yunus “.
Orang Niniwe telah diberi tanda untuk bertobat dengan keajaiban Allah melalui kehadiran dan reksa kenabian. Nabi Yunus yang hidup di perut ikan selama 3 hari lamanya. Namun mereka bebal dan tidak mau bertobat dalam hidupnya. Demikian juga orang Yahudi telah dituntun dalam pengajaran dan hidup Yesus sebagai jalan kebenaran dan hidup, namun mereka bukan saja menolak tetapi ikut bersekongkol membunuh Yesus. Dan tanda itu disempurnakan persis sama seperti kisah nabi Yunus 3 hari di perut ikan, Yesus juga 3 hari diperut bumi yaitu dimakamkan. Namun kemudian bangkit dalam kemuliaan Allah untuk menyempurnakan penebusan dosa manusia. Namun Itupun tidak mampu menembus kebebalan hati bangsa Yahudi hingga masih sulit untuk bertobat dan hidup di jalan Yesus.
Hal ini persis sama dengan hati kita. Tiap hari kita bahkan disodori tanda keselamatan dengan hari baru, nafas baru, rejeki baru, sahabat baru, pengalaman baru, kesehatan baru namun kita sering kurang bersyukur dan masih menunggu mujizat Tuhan. Iman kita sering masih diwarnai oleh tuntutan dan keinginan untuk menyaksikan karya yang spektakuler dengan ilusi manusiawi. Padahal Tuhan sudah didepan mata kita hadir dalam tanda yang diwariskan oleh Gereja sepanjang jaman, salah satunya perayaan ekaristi. Dimana mujizat besar terjadi, roti dan anggur diubah menjadi tubuh dan darah Yesus yang dibagi dan menyatu dengan tubuh kita.
Masihkah kita ingin meminta tanda? Semoga melalui Injil hari ini kita makin peka melihat kehadiran Allah dalam segala sesuatu dan segala sesuatu dalam Allah. “Mindfulness” atau melatih kesadaran pikiran, hati, perasaan melalui keheningan, tarikan nafas, mencecap makanan dengan penuh kesadaran dan syukur, memandang alam sekitar bisa membantu kita untuk fokus dan menikmati saat ini dan di sini. Sehingga kita bisa merasakan sentuhan indera kita lewat apapun menjadi sentuhan lembut kehadiran Tuhan yang penuh damai. “Mindfulness” yang dilandasi iman dan kasih akan Tuhan, bisa menarik kita masuk dalam relasi yang lembut dengan Tuhan hingga kita tidak lagi diperdaya oleh goresan kehidupan masa lalu maupun kekhawatiran akan masa depan. Mindfulness yang kuat menolong kita mampu melihat Allah dalam segala sesuatu dan segala sesuatu dalam Allah. Memandang dunia dengan lebih jernih dan positif , memandang diri sebagai orang yang terberkati.
Contemplating
Marilah kita mengheningkan seluruh indera kita agar makin peka merasakan kehadiran Tuhan. Pejamkan mata. Tarik nafas dengan penuh kesadaran, hembuskan dengan pelan. Rasakan bahwa setiap tarikan dan hembusan nafas, hidup baru dianugerahkan bagi kita. Rasakan kelembutan kasih Allah yang melegakan.
Actuating
Pola hidup apa yang perlu kubiasakan dan kuubah agar memiliki kepekaan menangkap tanda kehadiran Allah.
Reflecting
Apakah hidupku telah kuhayati sebagai pribadi yang peka menyadari kehadiran Tuhan? Atau pribadi yang sulit ditembus rahmat yang mengalir dalam hidup kita.
Praying
Allah Bapa yang maha kasih. Ajarilah kami peka menangkap dan merasakan tanda kehadiran-Mu dalam hidup kami setiap hari. Hingga kami makin mampu menjalani hidup dengan iman dan pengharapan. Demi Kristus Tuhan kami. Amin.
Salve
Salam Veritas
Sr. Albertine, OP

