SECERCAH HENING
Kamis, 4 September 2025
Luk 5: 1-11
“Duc in Altum”
Menyusur malam yang gelap,
Menjaring kehampaan yang pekat,
Kelelahan menanti harap,
Jadi saat penuh berkat.
Malam kian larut,
Semua harap berpaut,
Tiada arti kemahiran melaut,
Saat hadirMu terpagut.
Setiap orang memiliki titik kritis dalam hidupnya, situasi itu bukan berarti situasi buruk yang harus dihindari, tetapi bahwa dalam hidupnya ada sisi-sisi atau bagian hidup tertentu yang perlu diperdalam magnanya. Sebagaimana Petrus dalam perjalanan hidupnya sampai
Yesus berkata kepadanya :
” Simon, bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan”. Simon menjawab :
“Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras, dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga”.
Kegagalan Petrus dalam melaut sepanjang malam adalah gambaran titik kritis yang mengajaknya untuk bertolak pada kedalaman hidup kesehariannya yang selalu hidup di permukaan. Ketika Yesus mengajaknya bertolak lebih dalam krn mengikuti permintaan Yesus, membuatnya mengalami pengalaman dasyat dengan berlimpahnya ikan yang didapat. Hal ini mengajak kita menengok ke belakang sisi kehidupan manakah dalam hidup kita yang perlu kita perdalam. Bisa jadi anak kita yang nakal ada sisi kasih yang belum penuh mengisi jiwanya, pasangan yang mengeluh terus bisa jadi ada sisi kebahagiaan yang belum bisa mengisi ruang batinnya, kita yang marah-marah terus bisa jadi ada kehampaan yang perlu banyak disinggahi pengalaman kasih dari seseorang yang berarti. Pengalaman “Duc in altum” (bertolak ke tempat yang dalam,atau lebih jauh). Episode manakah dalam hidup kita yang perlu diperdalam atau mungkin di bongkar.
Seperti Petrus pergumulannya bukan soal harus menebarkan jala lebih dalam lagi tetapi setidaknya ada 3 episode yang disebut dengan pengalaman transformasi.
1) Hidup dengan mengandalkan kemahirannya, diubah dengan hidup mengandalkan Tuhan.
2) Mengijinkan dan menerima Yesus dalam perahu kehidupannya. Dan ternyata semua menjadi berubah.
3) Mengikuti Keinginan Tuhan membuat ia harus rela meninggalkan zona nyamannya menuju kesempurnaan hidup, dengan mengalami kelimpahan hidup justru ketika dirinya bukan siapa siapa. Hal ini menjadi awal dari kerendahan hatinya, yang membuatnya hidup penuh syukur. Marilah kita membiarkan perahu kehidupan ditumpangi Yesus dan hidup makin mengikuti kehendak-Nya agar kita sampai ke titik terdalam kehidupan dimana keselamatan menjadi segalanya bagi kita. Jangan takut dan ragu, manakala hidup harus mengulang semua dari nol, lewat kegagalan, sakit, kematian seseorang yang kita kasihi, pindah kerja, pindah rumah, kehilangan aneka kesempatan, biarkan perahu hidupmu ditumpangi Yesus agar perjalananmu makin bermakna dan hidup dalam damai dan sukacita.
Contemplating
Hening…… Hadir penuh dihadirat Tuhan. Tarik nafas perlahan. Sadari setiap tarikan nafas adalah saat menimba belas kasih Tuhan. Biarkan Tuhan menumpang perahu kehidupan dan mengisi ruang batin kita.
Actuating
Membiasakan diri hidup dengan melatih diri melepaskan apa yang selama ini menghalangi Yesus berkenan menumpang dalam perahu kehidupan kita.
Reflecting
Apakah aneka peristiwa hidup, telah mengajariku untuk makin terbuka dan rendah hati menerima Yesus dan mengikuti kehendaknya dengan rela melepas cita-cita yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan.
Praying
Allah Bapa kami, berilah kami hati yang damai, agar siap menerima kehadiran-Mu dalam perahu kehidupan kami, yang mampu mengubah segalanya selaras dengan kehendak-Mu. Demi Kristus Tuhan kami. Amin.
Salam Veritas
Berkah Dalem
Sr. Albertine, OP
