SECERCAH HENING
Senin, 8 September 2025
Mat 1: 1-16.18-23
“Kekudusan dalam Kesahajaan”.
Memeluk hening yang mengada,
Mencinta tiada batas raga,
Selalu ‘Ya’ untuk kehendakNya,
Kekudusan menuntun tuk bersahaja.
Lembut dalam cara,
Indah dalam balutan luka,
Pergumulan tuk ubah dunia,
Bersukacita karena mencinta,
Gereja seluruh dunia hari ini merayakan pesta Kelahiran Santa Perawan Maria. Tradisi ini dimulai pada abad ke-6 dari Gereja Timur di Yerusalem. Selain Yesus orang kudus biasanya dirayakan pada hari kematiannya karena kematian adalah awal kelahiran di surga. Namun ada dua sosok istimewa yang dirayakan pada hari kelahirannya yaitu Bunda Maria dan St. Yohanes pembabtis. Karena Bunda Maria dan St. Yohanes pembabtis memiliki peran yang sangat istimewa bagi karya penyelamatan umat manusia dalam diri Yesus. Itulah sebabnya Maria kita rayakan pestanya hari ini. Setelah ia menyatakan dari batinnya yang terdalam “YA” pada pemberitaan Malaikat Gabriel bahwa ia harus mengandung dari Roh Kudus. Maka terjadilah apa yg tertulis dalam kitab:
“…..Natan memperanakkan Yakub, Yakub memperanakkan Yusuf suami Maria, yang melahirkan Yesus yang disebut Kristus”.
Jika Maria tidak menyatakan diri “YA” terjadilah padaku menurut perkataan-Mu. ( Fiat foluntas tua) keselamatan kita mungkin akan tertunda atau sejarah lama yang akan membentuk peradaban iman kita. Kesempurnaan dan kekudusan Maria terletak pada hidup Maria tidak diukir dari kecantikan fisik, kepandaian budi yang dibuktikan dengan sejarah pendidikan, atau karier, atau jabatan atau status, atau kejayaan orang tua. Tetapi kesempurnaannya sebagai wanita dilukis dan dimulai dari pergumulannya sebagai seorang wanita yang berani membaktikan hidupnya penuh pergumulan untuk menjawab dan melaksanakan kehendak Tuhan dengan resiko yang berat. Jangan dibayangkan dulu bahwa Yesus yang dikandungnya tiba tiba saja menjadi Kristus yang meraja dan berkuasa membuat mujizat.
Tetapi sebuah proses panjang berangkat dari pengalaman manusiawi untuk melahirkan seorang bayi yang lemah dan rapuh karena mengambil bagian kerapuhan asali manusia, baru kelak kemudian keilahiannya akan nampak karena melaksanakan kehendak BapaNya. Kesempurnaan Maria ada pada imannya yang gigih, penderitaan yang ditanggung dalam diam, terluka namun bersukacita, menerima setiap kenyataan pahit dalam hening yang melahirkan sukacita hingga kelak dibagikan pada saudarinya Elisabeth. Keagungan dan keindahannya sebagai perempuan terletak juga pada kesetiaan dan pengertiannya menerima kegalauan Yusuf saat akan menceraikannya secara diam-diam. Dan puncaknya adalah mengandung dan melahirkan Yesus. Bukan hanya pada saat di Bethlehem. Tetapi saat di puncak Kalfari sanggup memangku dengan hening tak terluka ketika merangkul jenazah kematian Yesus dengan hening penuh keibuan yang indah. Seakan menggambarkan kesanggupannya memeluk dunia yang penuh luka. Dari inspirasi ini kita diajak juga mampu meneladan keibuan Maria yang melahirkan semangat Yesus dalam kehidupan tiap hari.
Suka duka kita seberat apapun telah ikut dipangku Maria saat ia memangku jenazah puteranya. Maka selayaknya kita tetap tabah menatap realitas ini dengan hati seperti Bunda Maria. Janganlah takut dan gelisah hatimu manakala hidupmu berbeban berat, sejenak beri waktu, pandanglah Bunda Maria, berwawanhatilah dengannya dalam hening, dan dengarkanlah hatimu terdalam, maka pelan pelan engkau akan menemukan kedamaian yg sejati yang memampukanmu melewati saat saat sulit dalam hidupmu dengan ringan dan damai.
Contemplating
Hening…… Hadir penuh dihadirat Tuhan. Tarik nafas perlahan. Sadari setiap tarikan nafas adalah saat menimba belas kasih Tuhan. Biarkan Tuhan mengisi ruang batin kita. Seperti Maria siap menghadapi penderitaan apapun dengan damai.
Actuating
Membiasakan diri hidup dengan mengandung dan melahirkan semangat Yesus dari kekuatan doa.
Reflecting
Apakah aneka peristiwa hidup, telah mengajariku untuk makin terbuka terhadap rencana Allah.
Praying
Salam Maria penuh rahmat Tuhan sertamu…..
Salam Veritas
Berkah Dalem
Sr. Albertine, OP

