SECERCAH HENING
Rabu, 30 September 2026
Peringatan St. Hieronimus
Luk 9: 57-62
“Jalan Pemurnian”
Meniti perjalanan makna
Terkesiap dgn hati terpana
Mencari tanpa batas raga
Hingga senja menyapa
Hari ini Gereja memperingati St. Hieronimus salah satu Bapa Gereja yang terkenal dalam sejarah Gereja Katolik. Ia lahir sekitar tahun 345 di kawasan Kroasia atau Slovenia sekarang.Ia dikenang terutama karena perannya dalam menterjemahkan Kitab Suci ke dalam bahasa Latin yang kemudian dikenal sebagai Vulgata. Melalui karya ini kita dibantu memahami Sabda Allah dengan lebih mendalam. Ia mengikuti dan melayani Tuhan dengan kesetiaan pada Kebenaran dan pengetahuan. Hal ini sangat menarik hingga Sabda Yesus abadi makin dikenal hingga saat ini yang terus memanggil setiap orang untuk mengimani SabdaNya. Sebagaimana Injil hari ini.Ketika Yesus bersama para murid dalam perjalanan, datanglah
seseorang di tengah jalan berkata kepada Yesus:
” Guru, aku akan mengikuti Engkau, ke mana saja Engkau pergi.” Yesus berkata kepadanya: ” Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya!”.”Ikutlah Aku dan biarlah orang-orang mati menguburkan orang mati mereka”.
Dengan sabda ini Yesus tidak bermaksud untuk menolak keinginan orang untuk mengikuti-Nya. Tetapi mau menunjukkan bahwa pola hidup Yesus adalah perjalanan menuju Bapa.Perjalanan itu terus perlu dimurnikan karena perjalanan ini adalah jalan menuju kesempurnaan yakni menuju Kerajaan Allah. Perjalanan mengikuti Yesus adalah perjalanan rohani atau peziarahan batin. Bekalnya bukan dengan kepenuhan tetapi justru dengan pengosongan diri.
Perjalanan mengikuti Yesus adalah perjalanan yang bergerak ke depan bukan berhenti karena sesuatu yang di belakang. Baik berupa memori kematian, kelekatan pada: pekerjaan, relasi cinta, harta dll. Sebab mengikuti Yesus berarti mengarahkan hidup pada jalan pemurnian. Apa yg perlu dimurnikan ?. Pertama tama adalah kesadaran kita. Banyak alasan yang sering kita buat untuk menunda nunda mengikuti kehendak Yesus.Banyak alasan kita tempatkan sebagai prioritas, padahal menurut kehendak Tuhan semua itu perlu ditinggalkan agar tidak memperberat perjalanan kita ke masa depan.
Kita sering membuang banyak waktu dan energi untuk hal yang tidak membangun hidup untuk bergerak ke depan. Misalnya mau menguburkan Bapa, ini adalah metafor kecenderungan kita untuk memelihara vibran kematian masa lalu yang semestinya sudah harus kita kubur. Tetapi masih kita pelihara karena belum siap “move on” untuk bangkit dari kematian masa lalu. Alasan lain adalah pamitan dengan keluarga, ini adalah metafor dari kelekatan dan kemanjaan kita dengan orang-orang dekat yang mengelus elus kita dengan afeksi yang kadang membuat kita hidup stagnan. Semua alasan penundaan itu sering kali membebani kita untuk bersikap lepas bebas mengikuti kehendak Tuhan. Maka terinspirasi oleh sabda ini, mari kita beranjak dari aneka alasan untuk menunda mengikuti kehendak Tuhan yang kadang samar dengan penyerahan diri. Tiap hari Tuhan menyatakan kehendak-Nya lewat ajakan untuk hidup dengan kasih, kesabaran, kemurahan hati, kelembutan hati, penguasaan diri. Sanggupkah kita tidak menunda untuk mengikuti jalan Tuhan setiap hari.
Contemplating
Marilah kita heningkan seluruh keberadaan diri kita, beri tempat pada pikiran dan kesadaran kita untuk mengarahkan diri pada Allah.
Actuating
Pola hidup apa yang perlu kubiasakan atau kuubah agar makin bersemangat mengikuti kehendak Tuhan dengan segera.
Reflecting
Apakah hidupku banyak ditentukan oleh gaya relasiku dgn Yesus ?ataukah masih banyak dibelenggu oleh beban kelekatan akan masa laluku.
Praying
Allah Bapa kami, lembutkanlah kekerasan hati kami, agar jiwa kami mudah dibentuk oleh relasi dengan Yesus dan hidup makin lepas bebas.Demi Kristus Tuhan kami. Amin.
Salam Veritas
Berkah Dalem
Sr. Albertine. OP

