Secercah Hening : Law for Love

SECERCAH HENING
Selasa, 26 Agustus 2025

Mat 23: 23-26

“Law for Love”

Kecaman dalam balutan cinta
Tergetar tuk mengubah dunia
Batin terdalam memberi warna
Belaskasih jadi tanda nyata

Erich Fromm dalam buku The Art of Loving menegaskan bahwa Cinta adalah aktivitas, bukan afek pasif; Cinta adalah keadaan “berada dalam” bukan “Jatuh”. Karakter aktif cinta adalah memberi bukan menerima. Hal ini selaras dengan ajakan Yesus bahwa tata aturan kehidupan hanya berguna jika dihayati dalam konteks belas kasih untuk makin mencintai. Mencintai Tuhan dan sesama, sama seperti mencintai diri sendiri. Kecaman Yesus terhadap ahli Taurat dan kaum Farisi, karena hidup mereka lebih banyak menuntut orang lain dengan aturan yang menekan tanpa belas kasih. Karena mereka hidup seperti mesin yang kaku tanpa Roh dan kelembutan kasih. Mereka hanya ingin menerima kebaikan tanpa mau memberi dari kedalaman kasih karena mereka hidupnya hampa penuh kemunafikan. Maka Yesus bersabda:

” Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab persepuluhan dari selasih, adas manis dan jintan kamu bayar, tetapi yang terpenting dalam hukum Taurat kamu abaikan yaitu: keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan”.

Setiap orang dalam hidup bersama tak pernah lepas dari aturan, tatanan, atau hukum yang mengatur agar kehidupan bersama tertata dan memberi bingkai atau jalan agar hidup tidak menyimpang dari rel dan terbingkai dalam Kebenaran. Tujuan akhir adalah agar hidup bersama makin harmonis, adil dan penuh belas kasih. Namun manakala semakin maju peradaban manusia, semakin maju pula tingkat kepentingan yang kadang menghalangi orang untuk mudah diatur dalam tatanan kebersamaan dalam suatu masyarakat, atau bahkan dalam tataran bangsa. Konflik kepentingan membuat makna aturan dan hukum bergeser menjadi penghalang untuk mencapai kesejahteraan dan keselamatan bersama. Hingga banyak orang mengalami situasi dilema ketika tidak ada lagi pilihan yang terbaik dalam menghadapi aturan dan hukum. Yesus dalam sabda hari ini memberikan ukuran baku dalam menghayati hukum yakni belas kasih dan kesetiaan menjadi ukuran prioritas pilihan sikap hidup kita.

Belas kasih dan kesetiaan adalah dua sikap dasar yang membuat kebaikan tumbuh dan memberi oase bagi masyarakat yang sibuk mengutamakan kepentingan sebagai hukum. Jika seseorang memiliki belas kasih, ia tidak akan mudah ingkar dengan suara nuraninya untuk tetap setia pada kebaikan. Belas kasih dan kesetiaan bersumber dari janin kerahiman ilahi. Setiap orang memiliki tetapi tidak semua orang mampu menumbuh suburkan janin itu dalam rahim kehidupannya hingga mampu melahirkan pengalaman kasih untuk mudah mencintai dari kedalaman batin. Pilihlah hati yang makin mengasihi agar hukum yang ada dalam hidup kita makin kita maknai sebagai ungkapan kesetiaan terhadap janin kerahiman Allah. Singkirkan kebencian dan kepentingan diri supaya kita mampu menghayati hukum sebagai sarana untuk mengasihi. Mari kita terus belajar mengembangkan janin kerahiman ilahi yang tertanam dalam hidup kita, agar tatanan hidup makin memerdekakan kita untuk tetap setia menjadikan hidup makin bermakna karena mengasihi.

Contemplating
Mari kita Heningkan seluruh diri kita sejenak, menyelam dan belajar menatap realitas dengan rasa belas kasih.

Actuating
Membiasakan diri hidup dengan kekuatan dari energi yang ditimba dari kerahiman Allah yang berbelas kasih.

Reflecting
Apakah aneka peristiwa hidup, telah mengajariku untuk makin hidup dengan belaskasih dan kesetiaan.

Praying
Allah Bapa kami, berilah kami hati yang peka, dalam menjalani hidup dengan kekuatan belas kasih dan kesetiaan yang bersumber dari pada-Mu. Demi Kristus Tuhan kami. Amin.

Salam Veritas
Berkah Dalem
Sr. Albertine, OP

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *