SECERCAH HENING
Rabu, 27 Agustus 2025
Mat 23 : 27-32
“Correctio Fraterna”
Kritikan jadi seni memoles Cinta,
Melembutkan hati dalam cara,
Membuka hati untuk makin terbuka,
Terima tiap luka tuk hapus dosa.
Hari ini Gereja memperingati St. Monika yang lahir di Tagaste, Afrika. Dari keluarga Kristiani yang taat. Iman yang kuat akan kuasa Tuhan membuat St. Monika tekun berdoa dengan air mata atas keprihatinan gaya hidup suaminya Patricius dan anaknya Agustinus yang rusak dan menjauh dari Tuhan. Oleh doa yang tiada henti Patricius dan Agustinus bertobat. Dan Agustinus kemudian menjadi Uskup dan pujangga Gereja. Hari ini juga Yesus mengajari kita untuk tidak membiarkan kemunafikan hidup orang farisi dan ahli Taurat merajalela yang membuat kehidupan makin gelap dan menjauh dari Kebenaran.
Yang diungkapkan dalam sabda yang menantang dalam Injil hari ini:
“Celakalah kamu kamu, hai ahli-ahli Taurat orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu sama seperti kuburan yang dilabur putih, yang sebelah luarnya memang bersih tampaknya, tetapi yang sebelah dalamnya penuh tulang belulang dan pelbagai jenis kotoran. Demikianlah kamu disebelah luar kamu tampak benar dimata orang, tetapi di sebelah dalam kamu penuh kemunafikan dan kedurjanaan.”
Yesus melakukan “Correctio fraterna” dengan memberikan kritikan yang membangun dan menantang orang Farisi dan ahli Taurat untuk keluar dari box kenyamanan dosa dan kemunafikan. Hal ini sangat dibutuhkan dalam kehidupan. Agar hidup tidak monoton dalam belenggu dosa. Dan hanya Yesus yang sanggup mengkritik kemunafikan orang Farisi. Hidup orang Farisi kemunafikannya dibungkus dengan kesalehan dan berlindung dibalik hukum yang baik, sehingga hukum yang baik justru menjadi sarana untuk bertindak tidak adil. Yesus paham betul dengan sisi gelap kehidupan ini, hingga tidak mungkin tinggal diam. Sikap kritis Yesus yang didasari kebenaran dan hati yang mengasihi membuat orang Farisi mungkin sekejap kaget dan terluka namun luka untuk berbalik dari dosa diharapkan membawa kehidupan baru yang memberi oase kehidupan yang baru pula. Jika tanpa kritikan atau “correctio” dari Yesus, kemunafikan orang Farisi akan dianggap sebuah kebenaran yang nyaman dalam selimut dosa. Semoga dengan Injil hari ini, kita makin peka menyikapi situasi kehidupan ini dengan hati yang jernih dan menerima atau memberikan kritikan sebagai “correctio fraterna” koreksi persaudaraan agar orang mengalami pertobatan dan pembaharuan hidup agar selaras dengan jalan Tuhan. Berani keluar dari kenyamanan dosa menuju hidup baru yang selaras dengan jalan Tuhan. Janganlah takut setiap pukulan dalan perjalanan hidup ini, meski pukulan itu tidak selalu berupa kritikan tetapi kenyataan-kenyataan pahit yang mengajak kita keluar dari box masa lalu, menuju realitas baru yang makin dekat dengan Tuhan. Semoga dengan teladan St. Monika yang saleh melalui ketekunan doa dan air mata memotivasi kita untuk tekun dan setia mendoakan siapapun yang perlu kita selamatkan. Dan berani melakukan koreksi persaudaraan jika melihat saudara kita jatuh dalam kubangan dosa. Sehingga kita tetap bisa saling bergandengan tangan berziarah dalam pengharapan dan iman menuju hidup baru di jalan Tuhan.
Contemplating
Marilah kita heningkan jiwa, raga, rasa, pikiran dan hati kita. Agar kita makin peka sisi mana kehidupan kita yang perlu diperbaharui oleh ktitikan Yesus.
Actuating
Pola hidup macam apa yang perlu kubiasakan agar makin memiliki gaya hidup yg sederhana, adil dan jujur.
Reflecting
Apakah aneka peristiwa hidup, telah mengajariku untuk makin memiliki gaya yg bersahaja.
Praying
Allah Bapa kami, berilah kami jiwa yang terbuka dan telinga hati yang mendengarkan agar kritikan Yesus, menjadi saat pembaharuan jalan hidup menuju kebanaran dan kasih. Demi Kristus Tuhan kami. Amin.
Salam Veritas
Berkah Dalem
Sr. Albertine, OP

