SECERCAH HENING
Selasa, 27 Mei 2025
Yoh 16:5-11
“Move in”
Menyulam perpisahan dengan Cinta,
Memeluk dengan tangan terbuka,
Tak terbelenggu oleh aneka luka,
Melewati aneka duka dengan bahagia.
Ada ungkapan bertemu untuk berpisah. Sekilas hanya dua kata kerja yg disambung dengan kata untuk. Namun betapa pedih dan perih bagi hati yg terpaut didalamnya. Perjumpaan dan perpisahan sering mengikat banyak rasa kebersamaan, kasih, perjuangan, pengharapan, keyakinan, keterpaduan yg mampu mengikat jiwa hingga seseorang makin mantap dalam mematangkan identitas dan integritas jiwanya. Dan jika perpisahan itu harus terjadi maka seketika akan mendobrak zona kenyamanan yg pernah ada. Hal yg sama juga dialami oleh para murid saat sebelum Yesus naik ke surga yg dikisahkan dalam Injil hari ini: Yesus bersabda:
“Adalah lebih berguna bagi kamu, jika aku pergi. Sebab jikalau Aku tidak pergi, Penghibur itu tidak akan datang kepadamu, tetapi jikalau Aku pergi, Aku akan mengutus Dia kepadamu”.
Kepergian Yesus pada kisah ini memberi makna lebih dalam, setelah hati para murid sudah terbiasa ‘move in’ dari aneka keguncangan dalam hidup, berawal dari Yesus yg semula dipuja puji sebagai Raja semesta alam dengan kuasanya membangkikan orang mati dan aneka mujizat yg dibuatnya, akhirnya di hukum mati, dan keguncangan berikutnya Yesus hilang dari kubur, namun terkesiap pula oleh kebangkitan yg menggemparkan seantero Yahudi. Maka ketika Yesus menyampaikan amanat perpisahannya. Mungkin hati para murid tidak lagi shock seperti saat menyaksikan Yesus dibunuh. Namun bagaimanapun ‘zona kenyamanannya’ terusik manakala tak begitu jelas kemana Yesus akan pergi.
Cinta diantara para murid dan Yesus tak mampu lagi mengikat kebersamaan mereka. Mereka berpikir saatnya semua akan berakhir di sini. Namun rupanya God’s love never ending setelah Yesus naik ke surga, Dia akan mengutus Roh Kudus sebagai penghibur. Kata penghibur yg diperankan oleh Roh Kudus, tentu bukan untuk menghibur saat dukacita saja, tetapi perannya menjangkau aneka batas rasa, ruang dan waktu. Yang berarti mengambil aneka peran yg mengubah kemanusiaan menjadi energi ilahi yg membawa sukacita.
Inilah perubahan zona bukan hanya kenyamanan tetapi zona keyakinan bahwa Roh Kudus sanggup melakukan jauh dari yg bisa kita pikirkan dan rasakan. Apakah kita makin percaya pada janji Yesus? Ataukah kita yg tidak mampu “move in” dari manusia lama kita yang hidup hanya mengandalkan kemanusiaan kita sendiri yg rapuh dan kurang membiarkan Roh Kudus berkarya bagi hidup kita. “Move in” sangat berbeda dengan “move on” perbedaannya pada sikap hati dalam menerima kegoncangan yg terjadi. “Move on” sekedar mampu melewati tetapi sikap hati yg terdalam masih menyisakan luka yg amat dalam atau rasa sakit, pedih, tertekan. Sedangkan “move in” kesanggupan kita mengelola hati dalam melewati kegoncangan hudup dengan lapang dada sehingga setelah kenyataan pahit terlewati, hati kita tetap damai, tentram dan penuh harapan yg berkobar. Dalam hal ini peran iman akan kasih Tuhan memberi energi yg kuat di dalamnya.
Contemplating
Marilah kita membenamkan diri dalam keheningan untuk merasakan pengalaman dicintai Allah.
Actuating
Pola hidup apa yang perlu kubiasakan agar mampu mengalami diubah oleh Roh Kristus.
Reflecting
Apakah hidup keseharianku telah kujalani sebagai buah dari penyertaan Allah ataukah kekuatanku sendiri?
Praying
Yesus Tuhan, ajarilah kami makin peka untuk dibimbing Roh KudusMu. Hingga kebahagiaan kami dalam mengimani Engkau mendorong kami untuk berbuat kebaikan dan kasih bagi sesama kami. Demi Kristus Tuhan kami. Amin.
Salve
Salam Veritas
Sr. Albertine, OP

