Secercah Hening: Saatnya Tiba

SECERCAH HENING
Kamis, 28 November 2024

Luk 21:20-28

” Saatnya tiba”

Menepi di ujung hari,
Memaknai hari dalam sepi,
Meneguk kelegaan di titian hari,
Lelahmu jd saat segarkan diri.

Sepi jadi teman tuk makin suci,
Menubuh dalam raga yg terberkati,
Memaknai hari jd saat paling dinanti,
Menapaki hari jd perjalanan rohani.

Minggu ini seluruh Gereja semesta mengakhiri perjalanan tahun liturgi, seluruh bacaan melukiskan datangnya saat-saat akhir hidup manusia. Tujuan dari lingkaran tahun ada awal dan ada akhir, agar supaya setiap orang berani move on untuk menata hati dengan refleksi dan berbenah diri. Lukisan akhir jaman hampir dilukiskan dengan hadirnya kekuatan yg dasyat dan mengerikan. Dengan maksud agar setiap orang makin rendah hati untuk mengandalkan Allah. Seperti dalam bacaan Injil hari ini:
Yesus berkata:

” Apabila kamu melihat Yerusalem dikepung oleh tentara-tentara ketahuilah keruntuhannya sudah dekat… Pada waktu itu orang akan melihat Anak Manusia datang dalam awan dengan segala kekuasaan dan kemuliaan-Nya. Apabila semuanya itu mulai terjadi, bangkitlah dan angkatlah mukamu, sebab penyelamatanmu sudah dekat”.

Realitasnya saat ini, dinamika hidup kita hampir tidak berbeda dari hari ke hari, hingga mungkin kita menjadi sulit menangkap tanda-tanda kapan saat akhir hidup kita akan terjadi. Namun justru dalam “ordinari time” inilah Yesus mengajak kita untuk makin peka supaya melalui kenyataan hidup yg serba biasa, kita mampu menarik diri untuk mengalami keselamatan. Atau makin mendekatkan kita dengan keselamatan melalui aneka peristiwa sederhana yg kita alami. Ataukah semua yg terjadi berlalu begitu saja tanpa makna hingga hidup kita makin kering dan jauh dari keselamatan ?. Jauh dekatnya kita dengan penyelamatan tentu bukan pada ada tidaknya peristiwa heroik dalam hidup. Tetapi sejauh mana kita mampu menemukan makna dari setiap hal, hingga hati dan kesadaran kita menemukan kedamaian, kesejukkan jiwa dan kepenuhan rahmat dari pautan hati yg makin mendekatkan kita dengan sumber penyelamatan yakni Tuhan sendiri. Dalam hal ini saya ingat prinsip yg dikembangkan oleh Stephen J Covey yakni prinsip 10 / 90 artinya 10% dari hidup kita terjadi tanpa mampu kita kendalikan. Dan 90% dari hidup kita, ditentukan oleh cara kita mereaksi. Contoh pas dijalan kita kena macet adalah situasi yg tidak bisa kita kendalikan. Yg bisa kita kontrol adalah cara kita mereaksi, kita mau emosi, panik, marah, mengumpat. Atau saat macet total itu kita bisa rilek, mendengarkan music, membaca,berdoa atau bercengkerama dengan keadaan. Jika kita mereaksinya dengan marah dan menyalahkan semua orang maka hati kita akan panas dan hari itu menjadi hari yg sial. Tetapi jika kita merekasinya dengan tetap cool, damai maka kemacetan bisa kita lewati tanpa mengurangi pengalaman baik pada hari itu. Cari kita mereaksi atau memaknai itulah yg menentukan kedalaman hidup kita.
Mari makin menepi, jadikan tiap hari adalah saat menempuh perjalanan rohani. Biarkan tiap realitas dan kelelahanmu menjadi saat untuk menepi beristirahat sejenak dan menghirup kelegaan dari nafas hidup kita yg bersumber dari Allah sendiri.

Contemplating
Mari kita heningkan jiwa, raga,rasa, hati, budi dan hati untuk makin dekat dengan jangkauan kasih Allah.

Actuating
Pola hidup apa yg perlu kubiasakan dan kuubah agar makin peka mendekatkan diri dengan jalan keselamatan.

Reflecting
Apakah hidupku setiap hari telah mampu mencerminkan dekatnya kita dengan jalan penyelamatan Tuhan.

Praying
Allah Bapa di surga berilah kami hati yg damai dan bahagia. Agar tiap saat adalah saat yg tepat untuk mendekatkan diri dengan jalan penyelamatan Allah. Demi Kristus Putera-Mu Tuhan dan pengantara kami. Amin.

Salam Veritas
Berkah Dalem
Sr. Albertine. OP

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *