secercah hening

Siluet kepenuhan

SECERCAH HENING
Rabu, 21 Agustus 2024

Mat 20:1-16

Menari di atas awan,
Rindu menggapai bulan,
Menanti damainya malam,
Lelah dlm tidakpastian.

Kemurahan Allah jd tujuan,
Sejam penuh perjuangan,
Hapus bergulat seharian,
Jejak memeluk kepenuhan.

Yesus bersabda:
“Tidakkah Aku bebas mempergunakan milikku menurut kehendak hatiku? Atau iri hatikah engkau karena aku murah hati? Demikianlah orang yang terakhir akan menjadi yang terdahulu dan yang terdahulu akan menjadi yang terakhir”.

Dalam perikop lengkap dikisahkan bahwa pekerja yg bekerja seharian dengan pekerja yg datang satu jam terakhir mendapat upah yang sama satu dinar sehari. Maka diakhir perikop ditekankan irihatikah engkau jika Aku murah hati ?. Sikap iri hati langsung diperbandingkan dengan sikap murah hati. Dan jika hal itu riil kita alami. Pasti kita juga akan protes dan memiliki sikap iri hati. Iri hati merupakan dorongan afeksi dasar seseorang yg tidak nyaman jika orang lain memperoleh apa yg tidak ia miliki.Fokus pada ego yg ingin dirinya mencapai titik penuh dan orang lain tidak. Sementara murah hati adalah memberikan dari kepenuhan agar orang lain juga penuh. Kepenuhan tidak ditentukan oleh berapa lama kita bekerja tetapi seberapa dalam kita mengalami kemurahan hati Allah, maka waktu tidak bisa menjadi ukuran kepenuhan satu dinar adalah tanda kepenuhan (upah 1hari penuh). Kemurahan hati Allah lah yg menentukan kepenuhan itu. Setiap orang memiliki siluet kepenuhannya masing-masing, dimana pertumbuhan dan perkembangannya sangat tergantung bagaimana menggunakan kesempatan berkembang. Ada yg butuh waktu lama ada yg butuh waktu singkat tergantung mati tenggelamnya cahaya rahmat dan usaha dalam diri setiap orang. Kuncinya adalah sejauhmana kita setia memperdalam kemurahan hati Allah dengan menjalin hidup dalam kebersamaan dengan-Nya dalam segala sesuatu. Orang yg bekerja pada jam terakhir tetap mendapat upah yg sama, sebagai gambaran akan besarnya kemurahan hati Allah, sesungguhnya mau menekankan bahwa Allah tidak hanya melihat hasil, lamanya waktu tetapi pergumulan hati orang yg telah berproses dalam seharian berharap – harap cemas menanti dalam ketidakpastian. Nilai pergulatan hati orang sepanjang hari bergumul dalam kerendahan hati dan kepasrahan itulah yg juga dihargai Allah dibanding dengan hasil kerja yg terpusat pada ego yg mengandalkan diri sendiri. Apakah keseharian kita rela untuk bergumul dalam semangat kerendahan hati menerima saat saat sulit dalam hidup dengan sikap iman? ataukah hidup kita selalu hanya menuntut hal baik tanpa rela melihat proses Allah yg hendak mematangkan iman dan integritas kita justru melalui saat-saat sulit dalam hidup yg harus kita lewati. Semoga kita makin setia pada proses bagaimana Allah membentuk kita melalui setiap realitas yg kita alami. Jangan takut untuk berproses dari hal yg tersulit.

Contemplating
Marilah kita heningkan seluruh batin, diri dan kesaadaran kita agar berani metatap realitas pergumulan dgn hati yg murni.

Actuating
Membiasakan diri hidup dengan kekuatan dari energi yg ditimba dari kemurahan hati Allah.

Reflecting
Apakah aneka peristiwa hidup, telah mengajariku untuk makin memperdalam berlabuh dalam kemurahan hati Allah.

Praying
Allah Bapa kami, berilah kami hati yg peka, dan menjalani hidup dengan kekuatan kemurahan-Mu. Demi Kristus Tuhan kami. Amin.

Salam Veritas
Berkah Dalem
Sr. Albertine. OP

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *