SECERCAH HENING
Jumat, 25 Oktober 2024
Luk 12: 54-59
Nafas bumi jadi energi,
Mengayun nafas lembutkan hati,
Konflik jd saat murnikan diri,
Menenun kisah suci tiada henti.
Tanggap ing sasmito adalah ungkapan bahasa jawa yg artinya mengajak kita tanggap akan tanda tanda yg ada di sekitarnya. Atau peka dengan tanda dan realitas yang ada. Seperti halnya saat kita merenungkan sabda hari ini saya teringat kisah Naomi anak SMK yg tersesat saat naik gunung Slamet. Di tengah senyapnya hutan rimba ia tersesat tidak tahu jalan harus kemana. Rupanya ia merasa dalam batin dituntun oleh burung namun saat mengikuti burung yg terbang, karena tubuhnya sudah sangat kelelahan ia jatuh terperosok akibat kelelahan fisik dan mental membuat ia tertidur hingga ia dibangunkan oleh teriakan tim SAR yg memanggil namanya. Hingga tempat ia terperosok menjadi tempat paling mudah di temukan oleh tim SAR. Dalam kelelahannya naomi peka dengan tanda tanda alam dan berdamai dengan perjalanan batinnya yg dipenuhi ketakutan, kecemasan tetapi juga ingatannya yg masih memikirkan anak anak sekolah minggu yg mesti harusnya ia dampingi saat ia tersesat di hutan itu. Ia bukan anak munafik tetapi seorang pribadi yg mampu menginspirasi kita untuk peka menilai keadaan dan berdamai dengan perjalanan batin yg tidak mudah. Buahnya ia diselamatkan Tuhan dengan mudah.Pesannya seperti Sabda hari ini :
“Hai orang munafik, rupa bumi dan langit kamu tahu menilainya, mengapakah kamu tidak dapat menilai zaman ini? Dan mengapakah engkau juga tidak memutuskan sendiri apa yang benar? Sebab, jikalau engkau dengan lawanmu pergi menghadap pemerintah, berusahalah berdamai dengan dia selama di perjalanan…”
Sabda ini keras, manakala menawarkan sebuah visi pendamaian. Bagaimana tidak orang disebut munafik jika hafal menilai tanda-tanda alam, namun buta terhadap tanda-tanda kehadiran Allah di tengah hidup manusia. Allah selalu hadir dan bekerja dalam hati setiap orang yg mengutamakan semangat damai di atas permusuhan dan egoisme pribadi. Semoga dengan sabda ini, hati kita makin terbuka untuk menaruh perhatian dan passion terhadap tanda kehadiran Allah di atas kepandaian dan keterampilan menilai jaman ini. Jangan takut dan resah hatimu, jikalau perjalanan hidupmu menemui titian terjal yg penuh konflik, menepilah sejenak damailah dengan hatimu sebagai tangga pertama engkau perlu berpijak. Resapi setiap hal dengan penerimaan dan peluklah setiap luka dan perasan air mata dengan keheningan serta cinta yg dalam, niscaya Tuhan akan memelukmu dengan damai dan membimbing di setiap langkah pertamamu.
Contempating
Marilah kita satukan dan heningkan jiwa, raga, rasa dan hati kita agar makin peka terhadap tanda kehadiran Allah.
Actuating
Pola hidup apa yg perlu kubiasakan agar makin peka menata kehidupan jiwa kita dengan mengembangkan sifat-sifat baik dalam hidup.
Reflecting
Apakah pengalaman demi pengalaman telah mengajariku makin matang dan peka terhadap kehadiran Allah dalam wujud keterbukaan untuk berdamai dengan sesama dan Tuhan.
Praying
Allah Bapa, ajariah kami memiliki hati yg peka agar makin terbuka menilai dan memaknai kehadiran Allah dengan berdamai dan mendamaikan sesama dan Tuhan, demi terwujudnya karya keselamatan dalam
Kristus Tuhan kami Amin.
Salam Veritas
Berkah Dalem
Sr. Albertine. OP
