SECERCAH HENING
Kamis,11 Mei 2023
Yoh 15 : 9-11
” Totalitas”
Terdorong kuat tuk memberi,
Senafas rasa tuk mencintai,
Tuas ekspresi tuk dipenuhi,
Meluap dari kepenuhan diri.
Peluk kerapuhan tuk matangkan diri,
Melayani hingga titik tersepi,
Menyelam di lautan tersunyi,
Bahagia di akhir hari.
Mencintai bukan soal rasa perasaan tertarik atau simpati semata. Mencintai dan dicintai adalah anugerah Allah sekaligus pilihan bebas. Cinta tidak bisa dibuat dan ditumbuhkan, yang ada adalah realitas cinta, yang bisa dirasakan, dialami, dinikmati, dan membuahkan belas kasih bagi yang dicintai. Cinta selalu memberikan kebebasan dan bukan kelekatan. Ukuran totalitas cinta beriringan dengan pemberian diri sepenuh penuhnya. Demikian pula ukuran cinta kasih pengikut Kristus adalah mencintai tanpa ukuran atau mencintai sampai terluka oleh salib atau bahkan nyawa. Seperti dalam Injil hari ini.
“Inilah perintah-Ku,yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu.
Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya”.
Maka Salib itu menjadi ukuran Cinta kasih Kristisani terhadap Tuhan dan sesama. Cinta yang demikian berorientasi pada pembebasan “ego”. Cinta itu memberikan diri untuk orang lain, bukan untuk pemenuhan egoku atau menjadi ‘milikku’. Totalitas cinta kasih Yesus tehadap para murid membebaskan, namun membuahkan kasih yang dahsyat dengan lahirnya martir-martir perdana. Kasih agape yang demikian inilah mengundang kita untuk belajar mencintai hidup, mencintai Tuhan, mencintai sesama dengan sikap yang tulus dan membebaskan. Cintailah sampai terluka berarti sampai melahirkan belas kasih yang mungkin akan berlawanan dan melukai ego kita sendiri. Sudahkah kita mencintai hidup, mencintai Tuhan dan sesama dengan sikap yang tulus dan membebaskan?. Tentu sangat tidak mudah bagi kita untuk ukuran cinta yg sedemikian total. Namun setidaknya dengan sabda hari ini kita diajak untuk “aware” sadar bahwa itulah karakter ukuran cinta kasih yg diminta oleh Yesus kepada kita. Kita jelas tidak serta merta bisa memenuhinya namun setidaknya. Kita diajak untuk membuka diri diarusi oleh daya cinta Yesus kepada kita, hingga kita sedemikian mudah dikenai vibran atau resonansi cinta Allah sendiri untuk mudah mencintai kehidupan kita sendiri, mencintai sesama di sekitar kita. Apalagi di saat saat krisis akibat pandemi ini, kita diundang untuk makin memcintai orang orang terdekat, serumah dengan kita, sekerja dengan kita, tetangga terdekat kita, saudara kita. Dengan berpeduli akan kesehatannya, keselamatannya. Cinta kasih seorang sahabat yg diharapkan Yesus adalah memandang sesama sebagai aku yg lain, jika aku mencintai diriku, maka sikap yg sama diharap juga terjadi untuk aku yg lain.
Janganlah ragu untuk mencintai, pun manakala cinta membawa kita pada pengalaman luka, disaat itulah Tuhan tengah mengajari kita merangkul salib yg mematangkan hidup menuju penebusan.
Contemplating
Marilah kita membenamkan diri dalam keheningan untuk merasakan pengalaman dicintai Allah.
Actuating
Mari menguatkan sikap batin agar mampu merelakan ego untuk bisa menghidupi cinta dengan total.
Reflecting
Marilah kita maknai kisah kisah hidup kita sebagai rangkaian kasih.
Praying
Yesus, tariklah aku dalam pengalaman persahabatan denganMu, agar kami mampu mengasihi sesama dan kehidupan ini dengan total sehingga setiap jengkal kehidupan kami adalah bagian dari rangkulan kasihMu hiungga kami Boleh mengalami kebahagiaan dan keselamatan. Demi Kristus Tuhan kami. Amin.
Salam Veritas
Berkah Dalem
Sr. Albertine,OP
