Mental Sahabat

SECERCAH HENING
Jumat, 12 Mei 2023

Yoh 15 : 12-17

“Mental Sahabat”

Menenun kisah diatas kasih,
Menemani titik gelap dengan asih,
Merangkul duka sebagai silih,
Selalu ada menemani dalam kasih.

Bertumbuh bersama utk mencintai,
Memujudkan visiNya tanpa henti,
Mengayuh krisis dlm keheningan diri.
Bergumul dgn realitas utk mencintai.

Semua orang punya sahabat, tetapi tidak semua orang bermental sahabat.
Ketika semua orang memujimu, seorang sahabat mungkin akan mengkritikmu, namun ketika semua orang mencibirmu seorang sahabat hadir meneguhkanmu.
Ketika semua orang bangga dengan karier dan prestasimu mungkin seorang sahabat akan memberimu ‘warning’, namun ketika semua orang menyalahkanmu seorang sahabat hadir menemanimu dengan setia.
Ketika semua orang bekerja seiring dengan langkahmu yang super ‘speed’ untuk mengejar tujuan hidup, mungkin seorang sahabat bekerja dengan pola regular, namun manakala semua orang mendemo karena penghargaan yang tak sesuai, seorang sahabat bekerja atas motivasi ’kasih’ yang tulus tak menuntut apapun sebagai perpanjangan tanganmu.
Demikian bedanya mental hamba dan mental sahabat. Sabda Tuhan hari ini, menginspirasi kita bahwa Yesus menyebut kita sahabat :

“Kamu adalah sahabatKu, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu. Aku tidak menyebut kamu lagi hamba”.

Namun apakah sungguh hidup kita telah bermental sahabat? Atau malah sebagai hamba yang tidak pernah tahu apa yang diperbuat tuannya? Semua pengikut Kristus dipanggil dalam romantisme panggilanNya sebagai sahabat. Yang meletakkan sisi kebahagiaan dalam relasi denganNya, yang terus dimatangkan atau “on going formation” dirinya sebagai sahabat, karena telah matang oleh pengalaman kasih. Yesus tidak serta merta menyebut para murid dan pengikut-Nya sebagai sahabat, sebelum Dia menjalin hubungan kebersamaan yg erat dalam suka, duka, dan telah saling tahu dan paham akan misi hidup satu sama lain. Dan sudah terpaut hubungan kasih satu sama lain. Harapannya para murid tidak lagi sebagai hamba yg hanya mengandalkan belas kasih dan inisiator sikap dari tuannya. Tetapi ketika kita bermental sahabat, seberat apapun hidup ini tetap mampu dijalani dengan semangat kasih dan pemberian diri karena selalu ada kehadiran dan peneguhan seorang sahabat. Sebaliknya bagi yang bermental hamba, kesulitan hidup akan direspon dengan protes, keluhan-keluhan dan kritik yang tiada akhir, karena tak memiliki kasih hingga hidup menjadi amat berbeban. Mental apakah yg kita tumbuhkan dalam kehidupan ini ?. Semoga kita mampu memformat diri dan berkarakter seorang sahabat, karena Allah sendiri dalam pribadi Yesus telah hadir secara nyata menani perjalanan kita sampai akhir sebagai sahabat. Apalagi dalam situasi krisis akibat pandemi ini, menjadi sabahat bagi Tuhan, sesama dan alam adalah cara terbaik dalam merestorasi diri dari kegelisahan hingga kita siap melangkah dengan penuh energy mengubah dunia dimulai dengan mengubah diri sendiri menjadi sahabat yg baik bagi keluarga, komunitas, rekan kerja, tetangga dan dimanapun kita ada.

Contemplating
Marilah kita membenamkan diri dalam keheningan untuk merasakan pengalaman kasih Allah sebagai sahabat kehidupan.

Actuating
Pola hidup apa yang perlu kubiasakan agar bermental sahabat dalam kehidupan ini.

Reflecting
Apakah hidup keseharianku telah kujalani sebagai manifestasi persahabatan dengan hidup? Atau sekedar sebagai hamba?

Praying
Yesus, tariklah aku dalam pengalaman persahabatan denganMu, agar kami mampu mengasihi sesame dan kehidupan ini sebagai sahabat sehingga setiap jengkal kehidupan kami adalah bagian dari rangkulan kasihMu hingga kami boleh mengalami kebahagiaan dan keselamatan. Demi Kristus Tuhan kami. Amin.

Salam Veritas
Berkah Dalem
Sr. Albertine,OP

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *