SECERCAH HENING
Kamis, 23 Februari 2023
Luk 9 : 22-25
“Trilogi”
Terantuk kabut dosa,
Terjerembab jalan nestapa,
Melukis luka tanpa makna,
Tergerus di jalan hampa.
Pelangi menari di sana,
Menebus titian dahaga,
Kaki terayun ditiap tangga,
Gapai singgasana surga.
Tak ada kebahagiaan didapat secara instan,Tak ada penderitaan tanpa makna,Tak ada cinta tanpa pemberian diri, Tak ada kemuliaan tanpa jalan nestapa.
Artinya perjalanan hidup kita itu selalu menawarkan makna atau jalan pengudusan dibalik realitas, maka tak selamanya kesusahan hidup membuat orang menderita, dan tak selamanya kemudahan dan ketercukupan hidup membuat orang bahagia. Hal itu juga yg diajarkan Yesus kepada para murid yg mengikutiNya dalam Injil hari ini:
“Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikuti Aku”.
Kita sering terjebak dalam hal-hal praktis dan duniawi dengan pola pikir yg keliru, jika kita mengikuti Kristus pasti akan hidup penuh makna, sehat terus, bahagia, usaha lancar, hidup keluarga harmonis, anak-anak patuh dan membanggakan, mendapat aneka kemudahan, karena tak ada yg mustahil bagi Allah. Namun ternyata dalam perjalanan waktu, kita mengalami aneka kegelapan hidup dalam wajah: sakit penyakit, gagal dalam usaha, kacau dalam membangun rumah tangga, anak-anak bermasalah, ekonomi seret, difitnah orang, dll akhirnya kita sekejab mengumpat,mengeluh dan lebih fatal meninggalkan Tuhan. Kita lupa bahwa mengikuti Yesus konsekuensinya adalah Trilogi (Tiga pokok pikiran yg saling berhubungan) menyangkut :
1). Menyangkal diri
Yaitu keberanian untuk mengesampingkan kehendak sendiri, dan mengikuti kehendak Allah. Menomorsatukan apa yg di kehendaki Tuhan. Yang bisa jadi untuk itu kita dihadapkan aneka pilihan dan kesulitan yg tidak enak. Bahkan mungkin harus keluar dari zona nyaman kita selama ini. Zona nyaman bukan soal tempat tetapi juga zona kerapuhan, kelemahan dan zona kedosaan kita. Kita sering nyaman dengan dosa dosa kita.
2). Memanggul salib
Yesus mengajak kita memanggul salib setiap hari. Kata setiap hari menunjukkan bentangan waktu yg tiada batas, ajakan memanggul salib bukan kelak demi mendapatkan upah seratus kali lipat tetapi untuk ikut mengambil bagian hidup dalam Allah sendiri dari waktu ke waktu. Dengan beranu memeluk beban hidup tiap hari dengan iklas.
3). Mengikuti Aku
Arti mengikuti tentu berbeda dengan kata “follower” dalam bahasa medsos. Mengikuti Yesus di sini, didahului dengan 2 kesanggupan sebelumnya, yakni menyangkal diri dan memanggul salib sebagai tanda kepesertaan perjalanan Tuhan. Sedangkan kalau “follower” kalau cocok mengikuti terus, kalau tidak suka tinggal klik “unfollow”. Tidak butuh konsekuensi apapun dari yg diikuti.
Semoga undangan Yesus untuk mengikuti-Nya dengan rela memanggul salib tiap hari, menyadarkan kita akan jalan pengudusan yang ditunjukkan agar hidup kita makin mampu memaknai setiap penderitaan, tekanan dan kesulitan hidup setiap waktu dengan sabar, sikap penuh damai, rela memeluk setiap kesulitan dengan tabah tanpa mengurangi sukacita dan pengharapan, sebagai wujud kesanggupan kita hidup dalam Allah. Dengan makna yg demikian penderitaan yg kita tanggung tiap hari, mampu kita terima dan kita peluk erat menjadi saat hidup kita dimurnikan, dikuduskan bagi Allah.
Maka janganlah kehilangan senyum pengharapan karena bagi hati yg percaya dan mencintaiNya, ia akan senantiasa di topang oleh bahu dan jemari Tuhan yang perkasa.
Contemplating
Marilah kita mengheningkan hati,budi, jiwa dan seluruh diri sampai hati kita menemukan kedamaian.
Actuating
Membiasakan diri hidup yg penuh harapan untuk sanggup memeluk derita tiap waktu.
Reflecting
Apakah aneka peristiwa hidup, telah mengajariku untuk makin hidup dalam semangat Tuhan.
Praying
Allah Bapa kami, berilah kami hati yg damai dan penuh pengharapan, agar sanggup menyelami salib dan kenyataan hidup setiap hari, sebagai jalan pemurnian untuk bisa mengalami hidup dalam Tuhan.
Demi Kristus Tuhan kami. Amin.
Salam Veritas
Berkah Dalem
Sr. Albertine. OP
