Distance

SECERCAH HENING
Jumat, 24 Februari 2023

Mat 9: 14-15

“Distance”

Saat bersma untuk mengada,
Maknai ruang persona,
Buka titik rapuh diterima
Yg tak seorangpun bisa.

Bersama dgn jarak rasa,
Saat puasa jadi kendala,
Terjatuh pd aturan belaka
Kembalilah hidup dg rasa

Dalam hubungan antar pribadi yg saling mengasihi, memaknai ‘jarak’ antar keduanya sangatlah penting. Tak berjarak tidak selamanya menjanjikan sebuah hubungan yang makin matang. Demikian sebaliknya jarak yg tak terseberangi tak menutup kemungkinan justru menjadi saat saat indah dan bermakna untuk melihat kematangan masing masing dalam memaknai sebuah hubungan. Namun manakala seseorang yg dikasihi itu ada bersama mereka tentu menjadi momentum yang berharga dan perlu dirayakan, dimaknai. Atau anak jaman now menyebutnya sebagai saat-saat indah ‘me time’ atau ‘quality time’.
Pengalaman kebersamaan itu rupanya juga dimaknai oleh Yesus bersama dengan para muridnya. Meski tidak mudah dimengerti oleh orang yang tidak mengenal karakter dan misi Yesus dengan tepat. Sehingga datanglah murid-murid Yohanes kepada Yesus dan berkata:

” Mengapa kami dan orang Farisi berpuasa, tetapi murid-murud-Mu tidak? ” jawab Yesus kepada mereka: “Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berduka cita selama mempelai itu bersama mereka?.

Puasa dianggap berduka cita bukan soal karena tidak makan dan minum tetapi soal merefleksikan pengalaman keterpisahan atau pengalaman adanya jarak yang jauh dengan Yesus sebagai sumber kehidupan. Pengalaman keterpisahan ‘distance’ dengan Yesus inilah bisa menjadi malapetaka bagi hidup para murid dan juga hidup kita. Maka sangat tidak mungkin bagi para murid untuk berpuasa manakala Yesus ada bersama mereka. Karena saat itulah saat terpenting bagi para murid menimba kekuatan spiritual. Agar perjalanan selanjutnya mereka memiliki pengalaman personal yg matang, sehingga manakala keadaan membuat hidup rohani kita kering, berjarak jauh dengan Tuhan, kita tidak menjadi rapuh dan kehilangan hidup . Semoga sabda Yesus hari ini, menginspirasi kita untuk makin antusias menjalin kebersamaan dengan Yesus secara intim, dan kebersamaanNya menjadi saat saat terindah dalam hidup. Dari situlah sumber damai dan sukacita hidup akan kita temukan sebagai rumah jiwa yg nyaman untuk berlabuh. Janganlah ragu untuk terus berlabuh di hatiNya, dekatkan jarak denganNya maka hidup kita makin bermakna dan bahagia.

Contemplating
Marilah kita mengheningkan seluruh indera kita agar makin peka menciptakan pengalaman ada bersama Yesus.

Actuating
Pola hidup apa yang perlu kubiasakan atau kuubah agar makin terampil menciptakan kebersamaan dengan Tuhan. Dalam kata dan tindakan

Reflecting
Apakah hidupku banyak ditentukan oleh gaya kebersamaanku dgn Yesus ? Ataukah banyak gaya tanpa makna hingga membuat kita makin jauh dari keselamatan.

Praying
Allah Bapa kami, lembutkanlah kekerasan hati kami, agar jiwa kami mudah dibentuk oleh kebersamaan kami dengan Yesus PuteraMu, hingga kami boleh mengalami keselamatan. Demi Kristus Tuhan kami. Amin.

Salam Veritas
Berkah Dalem
Sr. Albertine. OP

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *