Wening

SECERCAH HENING
Sabtu, 1 Juni 2024

Mrk 11:27-33

Berpijak hening memandang rasa,
Menelusup lembut dalam cara,
Berpeluk realitas dengan mesra,
Damai ada di tiap ujung senja.

Menapaki titian hari dengan rasa,
Menatap terik dengan bersuka,
Memandang sesama dengan cinta,
Damai dalam perbedaan yg ada.

Jangan takut untuk hidup mengandalkan Allah dengan sikap ‘wening’ atau hening. Supaya hal-hal sepele dalam hidup kita tidak menjadi masalah ruwet, atau kita sendiri mempermasalahkan hal hal sepele hingga menjadi sesuatu yg menggeser esensi kehidupan yg lebih dalam ?, akibatnya membuat hidup kita makin dangkal, berantakan dan rapuh. Kita sendiri menjadi kehilangan Roh yang wening.Hingga hidup kurang memancarkan kebaikan Allah. Rupanya kenyataan itu juga dialami oleh orang orang di sekitar Yesus seperti dikisahkan dalam Injil hari ini.

Ketika Yesus sedang mengajar di bait Allah berkatalah imam-imam kepala dan tua tua Yahudi kepada Yesus:”Dengan kuasa manakah Engkau melakukan hal-hal itu?dan siapakah yg memberi kuasa kepada-Mu?”

Keilahian Yesus yg mampu mengajar di bait Allah dengan memukau dan menginspirasi kehidupan umat, bukan menjadikannya saat untuk berefleksi dan mematangkan diri. Tetapi bagi para imam kepala dan tua tua Yahudi, justru malah dipermasalahkan dan mendiskreditkan peran dan kuasa Yesus.Kenyataan ini sekaligus menjadi sebuah gambaran,bahwa pola hidup yg biasa di permukaan atau hidup yg dangkal dangkal saja, membuatnya kurang mampu melihat karya Allah yg lebih dalam. Pola reaksi yg muncul menjadi mudah berbicara dan lambat untuk berefleksi dan mengambil makna terdalam dari realitas. Padahal karya Allah kadangkala hanya bisa dipahami oleh kacamata kedalaman. Kacamata kedalaman adalah cara pandang yg ditimba dari hubungan yg mendalam pula dengan Allah. Titik poin dari kedalaman hidup adalah mampu memandang sesuatu sesuai cara pandang Tuhan, maka tidak mungkin kita akan memiliki frekuensi yg sama dengan Allah jika kita tidak pernah bergaul akrab dan intim dengan Allah. Semoga kisah Injil hari ini mengispirasi kita untuk memperdalam hubungan intim dengan Allah, supaya kita mampu memiliki cara pandang hidup yg lebih mendalam pula. Sebab jika kita hidup dipermukaan, kita akan kelelahan menggarap dan menanggapi hal hal sepele yg justru merapuhkan sendi-sendi hidup dan sukacita kita. Sebaliknya jika hidup kita mengakar kuat pada Allah, kita tidak mudah diombang ambingkan oleh kenyataan apapun. Hingga seburuk apapun situasi hidup kita, kita sanggup menanggungnya dengan sabar, tenang, damai dalam penyerahan pada scenario Allah.
Jangan biarkan hidupmu dikacaukan oleh aneka hal yg tidak perlu, tetapi mari belajar memandang kehidupan dengan lebih dalam dan wening, agar Roh Allah menuntun cara pandang kita lebih semeleh dan damai dalam menyikapi kehidupan setiap hari yg kadang penuh tekanan.

Contemplating
Mari kita heningkan jiwa, raga,rasa, hati, budi dan hati untuk menyambut kelahiran-Nya dengan relasi yg makin erat dengan Tuhan.

Actuating
Pola hidup apa yg perlu kubiasakan dan kuubah agar siap membersihkan diri utk bisa bertemu rasa dengan Allah.

Reflecting
Apakah hidupku setiap hari telah mewujudkan pola hidup yg senantiasa dituntun oleh kehendak Tuhan.

Praying
Allah Bapa, kami bersyukur karena telah mencintai kami dan menjadikan diri kami berharga di hadapan-Mu, jangan biarkan kami hilang dari jangkauan-Mu oleh karena dosa dan kerapuhan kami, namun bimbinglah agar kami siap menyambut situasi apapun dengan hati yg sabar, hidup yg lebih tenang serta mendalam Demi Kristus Tuhan kami. Amin.

Salam Veritas
Berkah Dalem
Sr. Albertine. OP

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *