Secercah Hening : The Power of Mercy

SECERCAH HENING
Rabu, 13 Agustus 2025

Mat 18: 15-20

” The Power of Mercy”

Merindu di titian waktu,
Sesama jadi cermin yang menyatu,
Belajar jatuh dan bertumpu,
Berbelas kasih jadi penentu.

Dalam salah satu isi regula St. Agustinus dikatakan tentang spirit hidup bersama orang lain dalam komunitas adalah “Cor unum et anima una in Deum” artinya hidup sehati sejiwa tertuju kepada Allah. Banyak orang hidup bersama tetapi tidak semua hidup bersama tertuju kepada Allah. Esensi atau arah hidup bersama jenis ini terutama menuju pada perjumpaan dengan Allah. Perjumpaan dengan Allah akan menentukan kualitas hubungan antar pribadi dalam hidup bersama tersebut. Seperti kita tahu perkembangan dan kematangan setiap pribadi banyak juga ditentukan oleh kualitas hubungan kita dengan orang lain. Siapa kita juga ditentukan oleh kepada siapa kita bergaul menuju pada Allah atau tidak. Persaudaraan yang baik tidak hanya menyetujui setiap tindakan kita, tetapi juga menegor kita manakala kita berbuat dosa atau kekeliruan dengan semangat belas kasih. Model hubungan seperti itu menuntun kita pada pengalaman menuju Allah yakni terang dan Kebenaran.Seperti dalam Injil hari ini:

“Apabila saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia dibawah empat mata. Jika ia mendengarkan nasihatmu engkau telah mendapatnya kembali.” Dan lagi aku berkata kepadamu jika dua orang dari padamu meminta apapun juga permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa-Ku yang di surga. Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka”.

Persaudaraan yang baik teruji disaat kita jatuh dalam dosa, kesalahan dan kegagalan yang kadang membuat kita terpuruk, maka teguran yang kita terima kadang membuat kita tambah hancur, jika tidak dilandasi semangat kasih. Namun jika teguran itu dilandasi oleh cinta dan belas kasih dan kita terima juga dengan semangat kasih maka teguran itu menjadi sebuah pelukan atau rangkulan yang mampu meluluhkan hati dan meluruskan kembali sikap batin untuk hidup kembali secara baru dalam terang Allah sendiri. Dalam hal ini sungguh tidak mudah untuk menegur, maupun menerima teguran dari sahabat kita sekalipun, jika lahir dari sebuah ego karena bisa melahirkan dendam. Namun jika kita sanggup menerimanya dengan semangat Kasih, maka ia lahir dari kekuatan Roh Kudus dimana Allah sendiri hadir dan bekerja dalam keputusan kita, hingga teguran menjadi sebuah gerakan transformasi hati.

Jika budaya kasih ini telah menjadi pola hidup kita, maka hati kita akan makin mudah dibentuk Allah, dengan janjinya mengabulkan permohonan kita. Keselamatan akan terjadi manakala integritas kita dibentuk oleh kuasa Allah yang hadir dan menuntun kita ke jalan kebaikan dan belas kasih melalui sikap pengampunan yang mengalir dalam pola hidup kita. Janganlah takut dan ragu untuk terus belajar berbelas kasih. Hingga manakala hidup kita jatuh terjerembab, kita akan dituntun oleh budaya belaskasih sesama yang menyelamatkan.

Contemplating
Marilah kita heningkan seluruh kesadaran dan indera kita, kita dengarkan suara batin terdalam kita untuk dekat dengan Allah sumber belas kasih.

Actuating
Membiasakan diri terbuka terhadap realitas, termasuk menerima teguran manakala kita jatuh dalam kesalahan. Dan bersyukur jika saudara kita rela menegur demi kebaikan kita.

Reflecting
Apakah aneka peristiwa hidup, telah mengajariku untuk makin terbuka dibentuk Allah ? termasuk teguran yang kita terima dari siapapun? Sebagai cara Allah mendidik kita seturut kehendak-Nya.

Praying
Allah Bapa kami, berilah kami hati seperti hati-Mu, agar kami rela dibentuk dan membentuk diri melalui setiap sapaan Kasih maupun teguran agar kami makin hidup pada jalan kebenaran-Mu, dan beroleh keselamatan. Demi Kristus Tuhan kami. Amin.

Salam Veritas
Berkah Dalem
Sr. Albertine, OP

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *