Secercah Hening : Perfect of Love

SECERCAH HENING
Kamis, 14 Agustus 2025

Mat 18: 21-19:1

” Prefect of Love”

Terluka dalam balutan cinta,
Kesembuhan oleh belas kasih nyata,
Pengampunan bukan indah di kata,
Kepenuhan karena Cinta.

Dalam buku The Art of Loving. Karya Erich Fromm menyebutkan bahwa Cinta adalah jawaban atas persoalan eksistensi manusia. Manusia yang adalah ciptaan Allah karena cinta dan untuk cinta. Teori itu persis terwujud dalam hidup Santo maximilianus Maria Kolbe yang kita peringati hari ini sebagai martir tahun 1941. Ia seorang biarawan Fransiskan dari Polandia yang dibunuh di kamp karena menggantikan seorang tahanan yang memiliki keluarga. Semboyan hidupnya adalah “Demi Yesus Kristus, aku siap menderita lebih banyak lagi”. Inilah cermin cinta kasihnya yang mendalam kepada Allah dan keberanian dan kesediaannya mencintai sesama hingga akhir. Hal ini cocok dengan sabda Yesus tentang pengampunan. Kekuatan Cinta akan memudahkan seseorang mengampuni.

Tetapi mengapa kita kadang sulit untuk memgampuni ?. Biasanya sulitnya kita mengampuni bukan karena beratnya kesalahan dan dosa atau konflik sesama terhadap kita, tetapi beratnya belenggu sakit hati yang kita rasakan. Jadi sumbernya adalah hati kita yang sakit karena terluka. Sementara mengampuni adalah memberikan obat atas kesembuhan dari hati yang penuh. Hati yang terluka dan kondisi sakit akan sulit memberikan daya dari kepenuhannya. Hal yang serupa dialami oleh Petrus dalam perjalanannya mengikuti standar pengampunan yang diberikan Yesus kepadanya dalam Injil hari ini:

Datanglah Petrus dan berkata kepada Yesus: “Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali? ” Yesus berkata kepadanya: “Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.”

Standar tindakan pengampunan adalah Allah yang mengampuni. Sumber pengampunan pertama tama adalah Kasih Allah sendiri. Ketika kita telah merasakan sendiri kasih Allah secara nyata dan penuh dalam hidup. Maka akan mudah bagi kita untuk mengampuni. Namun jika diri kita masih penuh dengan luka-luka yang belum tersembuhkan oleh pelukkan kasih Allah melalui proses pengolahan diri, maka akan sulit untuk mengampuni. Maka sebelum kita sanggup memenuhi standar tinggi yang di tetapkan Allah. Marilah pertama tama kita mengampuni diri dan mohon agar kitapun diampuni Allah. Hingga kita meneguk kebahagiaan batin, karena dari hati yang bahagia dan penuh cinta maka kita akan mampu mengampuni tiada batas.

Saya sering kali mengajak anak didik mencintai diri sendiri itu penting, “love you self first”. Cukup memulainya dengan sederhana, tersenyumlah dengan dirimu sendiri sebelum kita memberi senyum manis buat Tuhan dan orang lain. Tanpa sadar kita sering melukai diri sendiri dan orang lain, terutama saat kita bersikap atau berkata kasar terhadap orang lain, sesungguhnya kita sedang melukai diri kita sendiri dan sesama kita. Sedangkan esensi dari pengampunan adalah mengasihi sesama tanpa memandang kesalahan atau apapun yang menghalangi manifestasi kasih yang tulus. Dan buah dari pengampunan adalah kasih. Jangan ragu dan takut untuk mengampuni sesamamu, karena saat itulah engkau sedang merajut benang – benang kasih dan lembut yang menyembuhkan karena berasal dari kemurahan Allah.

Contemplating
Mari kita rasakan keheningan, mencoba hadir saat ini, Sadar dan tatap realitas dengan mata hati yang bahagia.

Actuating
Membiasakan diri mengelola gerak batin yang bersumber dari relasi dengan Allah. Hingga hati kita mirip dengan hati Allah yang penuh kasih.

Reflecting
Apakah aneka peristiwa hidup, telah mengajariku untuk makin matang dan bahagia menyikapi realitas sesuai kemurahan hati Allah.

Praying
Allah Bapa kami, seturut teladan Yesus buatlah hati kami senantiasa manis, lembut dan penuh Cinta hingga kami boleh menikmati hidup bahagia dan pengampun. Demi Kristus Tuhan kami. Amin.

Salam Veritas
Berkah Dalem
Sr. Albertine, OP

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *