SECERCAH HENING
Jumat, 15 Agustus 2025
Mat 19: 3-12
“Kesetiaan”
Terhempas di titik batas,
Merayu jiwa untuk lepas,
Meski komitmen terhempas,
Railah Cinta tanpa batas.
Kesepian di ujung senja,
Tengok titian dengan hampa,
Nikmati tiap butiran Cinta,
Jadi penguat tuk tetap setia.
Meminjam semboyan STF Driyarkara:”Dalam kedangkalan kami menawarkan kedalaman”. Semboyan ini cocok disematkan pada kedalaman makna kesetiaan dan cinta kasih perkawinan yang bersumber pada kasih Allah. Perkawinan Kristiani bukan sekedar kesepakatan yuridis semata melainkan didalamnya memuat kodrat kemanusiaan yang menjadi rupa dan gambar Allah. Kesetiaan adalah kehormatan yang mengungkapkan kepenuhan dan kesatuan dalam Allah sendiri. Maka Yesus pun sangat keras terhadap pribadi yang ingin melawan kesetiaan. Seperti dikisahkan dalam Injil hari ini:
Kata Yesus kepada orang Farisi:
“Karena ketegaran hatimu Musa mengizinkan kamu menceraikan isterimu, tetapi sejak semula tidaklah demikian”.
Kesetiaan bagi Yesus merupakan keutamaan yang sejak semula perlu dengan teguh dan tegar dipertahankan sebagai jalan keselamatan untuk mengikuti-Nya. Namun karena kedegilan hati orang kesetiaan dibelokkan menurut ukuran kebutuhan ego sesaat. Kesetiaan bagi Yesus menjadi amat penting karena merupakan salah satu keutamaan. Dimana keutamaan merupakan kecenderungan yang tetap dan teguh untuk melakukan yang baik. Keutamaan ini hanya dapat dicapai dengan latihan, kesadaran, ketulusan, kasih dan pengabdian yang tetap. Keutamaan bisa lenyap oleh pilihan tindakan yang tidak sesuai dengan semangat kebaikan atau bertentangan dengan nilai dari keutamaan ini. Misal kesetiaan suami isteri bisa lenyap jika dengan sadar atau tidak sadar suami dan atau isteri memilih sikap yang bertentangan dengan nilai kesetiaan yakni memelihara relasi dengan yang lain sebagai PIL atau WIL atau pilihan tindakan lain yang bertentangan dengan kesetiaan terhadap komitment hidup yang telah dipilih. Demikian juga dalam hidup selibat dan hidup religius.
Perselingkuhan dengan orang, kegiatan, komitmen, harta, tahta, kuasa menjadi penghalang utama terhadap langgengnya nilai kesetiaan terhadap panggilan hidup yang telah dipilih. Kesetian selain usaha yang terus dipupuk dan dibina sebagai keutamaan juga adalah anugerah Allah. Usaha untuk terus setia pada hal baik adalah bagian dari potret kedewasaan dan kematangan iman kita kepada Allah dalam diri Yesus yang setia sampai mati pada kehendak Bapa-Nya. Bagi orang yang matang imannya godaan untuk tidak setia tidaklah akan membelokkan dari jalan kesetiaan tetapi justru mematangkan iman dan keutamaan. Masihkah kita rela untuk belajar setia? Meski tawaran dunia terus berselansar dan berganti? Semoga ajakan Yesus untuk setia menjadi jalan keselamatan kita. Jangan gelisahkan hatimu dengan aneka hal yang mau memealokan perhatianmu dari setiap hal baik yang tengah engkau rintis. Tetaplah bertahan meski kesepian dan lelahmu mendera. Berpalinglah selalu padaNya, maka Ia akan memelukmu dalam kebahagiaan.
Contemplating
Mari kita rasakan keheningan, mencoba hadir saat ini, Sadar dan tatap realitas dengan mata hati yang bahagia.
Actuating
Membiasakan diri mengelola gerak batin yang bersumber dari relasi dengan Allah. Hingga hati kita mirip dengan hati Allah yang penuh kasih.
Reflecting
Apakah aneka peristiwa hidup, telah mengajariku untuk makin matang dan bahagia menyikapi realitas sesuai kemurahan hati Allah.
Praying
Allah Bapa kami, seturut teladan Yesus buatlah hati kami senantiasa manis, lembut dan penuh Cinta hingga kami boleh menikmati hidup bahagia dan pengampun. Demi Kristus Tuhan kami. Amin.
Salam Veritas
Berkah Dalem
Sr. Albertine, OP

