Atas Nama Cinta

SECERCAH HENING
Selasa, 4 April 2023

Yoh 13:21-33.36-38

“Atas nama Cinta

Merajut peristiwa jadi kisah,
Mengayun makna tiap resah,
Menepis aneka gelisah,
Kekuatan Cinta kian terasah.

Raga lemas tercacah,
Pandangan esok yg terbelah,
Tumbuhkan antuasiasme yg lincah,
Bahagia dalam akhir kisah.

Kekuatan cinta itu menggerakkan. Situasi dunia saat ini sebenarnya masih tengah berduka oleh pandemi. Badai kematian ini bisa datang tiba tiba mengancam siapapun tanpa kecuali dan bergerak tanpa batas. Namun ada sisi lain, bahwa situasi gelap ini, ternyata menyatukan kekuatan cinta untuk kemanusiaan. Banyak kelompok individu, lembaga apapun bergerak oleh kepastian yg sama menghentikan upaya penyebaran covid 19 ini melalui disiplin diri, ikut vaksin dan melengkapi sarana mendukung tenaga medis berjuang bersama dan bertaruh nyawa. Apa yg dicari ? Cinta untuk kehidupan. Sebuah kepastian masa depan…. Maju dan bekerja keras untuk sebuah perubahan, dan kesahajaan yg menyatukan, banyak bahaya di depan, namun atas nama cinta semua akan dihadapi dengan optimisme menjadi sebuah kepastian. Hal yang sama juga dialami para murid Yesus, pada moment-moment terakhir sebelum kematian Yesus.
Optimisme dan kepastian akan kebangkitan dan membuat Yesus dan para murid tidak mundur selangkahpun untuk menyerah meski tahu dan sadar bahaya ada di depan mata mereka. Seperti dilukiskan dalam Injil hari ini:
Simon Petrus berkata kepada Yesus:

“Tuhan, ke manakah Engkau pergi? “Jawab Yesus:”Ke tempat Aku pergi, engkau tidak dapat mengikuti Aku sekarang, tapi kelak engkau akan mengikuti Aku”. Kata Petrus kepada-Nya:”Tuhan, mengapa aku tidak dapat mengikuti Engkau sekarang? Aku akan memberikan nyawaku bagi-Mu! ” Jawab Yesus “Nyawamu akan kauberikan bagi-Ku? Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: sebelum ayam berkokok,engkau telah menyangkal Aku tiga kali”.

Yesus sangat tahu, tidak lama lagi kegelapan itu terjadi. Bahaya sudah di depan mata. Namun “atas nama cinta” dialog dengan Petrus yg merupakan representatif para murid tidak menyiratkan kekuatiran, kengerian, ketakutan,kecemasa, atau bahkan kemarahan meski kematian yg akan dihadapi Yesus adalah buah dari “konspirasi tingkat tinggi” yang mengingkari kebenaran. Namun atas nama cinta pula Yesus harus melewati semua jalan penderitaan di depannya. Bahkan juga ketika tahu betul sebelum terjadi Petrus akan menyangkal diri. Namun atas nama cinta tak tersirat setitikpun nada kemarahan dan kekecewaan yg ditunjukkan Yesus. Hal ini ingin mengajarkan kepada kita agar mampu mengelola dan mengolah realitas dalam balutan cinta kepada Tuhan. Cinta dan belas kasih yg pernah kita alami dari Tuhan di masa lalu, juga akan merangkul kita di masa yg akan datang. Semoga pekan suci yg kita masuki ini membuat kita makin rela menatap setiap realitas dalam hubungan kasih Tuhan kepada kita dan juga kasih kita kepada Allah.
Janganlah ragu untuk memaknai, aneka kedukaan dalam kaca mata kasih Tuhan, maka hari hari kita akan damai, ringan dan penuh berkat

Contemplating
Marilah kita heningkan jiwa, raga, hati dan budi kita agar makin mampu mendengarkan Allah.

Actuating
Pola hidup apa yg perlu kita ubah dan biasakan agar makin matang dalam membangun kesadaran untuk mengasihi kehidupan.

Reflecting
Apakah aneka peristiwa hidup, telah mengajariku makin matang dan percaya akan penyelenggaraan Allah dalam hidupku.

Praying
Bapa ajarilah kami mencintai firman-Mu dan terus belajar mengenali dan melaksanakan kehendak-Mu, hingga kami layak menghayati setiap saat adalah moment terbaik untuk mengasihi-Mu dalam setiap tindakan hidup kami. Demi Kristus Tuhan kami. Amin.

Salam Veritas
Berkah Dalem
Sr. Albertine. OP

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *