SECERCAH HENING
Sabtu, 29 Oktober 2022
Luk 14: 1.7-11
“Be Humble”
Senyum merendah di kala duka,
Tak terbius oleh nestapa,
Menerima tiap sapa,
Damai oleh kematangan rasa,
Jati diri tetap mengada,
Makin melembut disaat tiada harga,
Tetap mencinta disaat terluka,
Bahagia di ujung senja.
Merenungkan perikop Injil hari ini, saya teringat pepatah jawa yg mengatakan: “Margining kasuargan yoiku urip kanthi lembah manah tuwin andhap asor”. Artinya jalan menuju surga adalah hidup dengan rendah hati. Hal itu senada dengan perumpamaan yg disampaikan Yesus dalam bacaan sebagai berikut:
“Kalau seorang mengundang engkau ke pesta perkawinan, janganlah duduk di tempat kehormatan, sebab mungkin orang itu telah mengundang seorang yg lebih terhormat dari padamu, supaya orang itu, yg mengundang engkau dan dia, berkata kepadamu: Berilah tempat itu kepada orang itu lalu engkau dengan malu pergi duduk di tempat yg paling rendah.Tetapi,apabila engkau diundang pergilah duduk di tempat yg paling rendah “.
Perumpamaan ini merupakan ajakan bagi Yesus untuk selalu memiliki kerendahan hati dan kepekaan menempatkan diri secara bijak di ruang publik. Bagi Yesus kerendahan hati adalah sebuah keutamaan yg muncul dari kepenuhan hidup. Kepenuhan hidup yg dimaksud berkaitan dengan kedamaian, sukacita, kebahagiaan batin dan inner force yg kuat yg dimiliki oleh seseorang sebagai buah dari hubungannya yg mendalam dengan Tuhan. Orang yg memiliki sikap kerendahan hati akan siap menghadapi kekecewaan, luka hati, kesulitan,tantangan hidup dan tuntutan apapun dengan sikap lebih damai,manis dan lembut dalam aneka kejadian kehidupan. Karena didasar batinnya telah memiliki lautan kepenuhan. Bagi pengikut Kristus sumber dan lautan kedamaian batin itu bisa ditimba dengan terus berlabuh dalam hubungan kasih dengan Yesus. Sikap kerendahan hati memudahkan orang memiliki jiwa, hati dan budi yg senantiasa positif dalam memandang kehidupan. Hingga tidak mudah menyalahkan siapapun tentang apapun yg ditatap dalam realitas ini. Maka harga dirinya tidak lagi ditempatkan pada posisi, status sosial, prestasi dan capabilitasnya namun pada kedamaian hati yg ditimba dari lautan kasih yakni Allah yg diam di hatinya. Maka kerendahan hati ini menjadi salah satu kekuatan dalam memperkenalkan Yesus dan Injil-Nya kepada dunia. Kerendahan hati juga menjadi syarat keberhasilan dalam pelayanan kasih kepada sesama. Siapa ingin hidup bahagia….? Mari kita terus belajar untuk makin rendah hati.
Hati adalah pusat kebahagiaan dan kedamaian, mari kita menggunakan hati kita dalam menjalani hidup ini. Jangan gelisahkan hatimu jika engkau tidak dihargai atau tidak dipandang dengan baik oleh orang lain, tetaplah tersenyum. Dan tempatkan kebahagiaanmu pada hatimu yg damai. Peliharalah rasa syukur dalam segala hal. Dan pandanglah dengan kaca mata Allah yg baik, maka semua akan menjadi baik bagimu.
Contemplating
Heningkan hatimu, tarik nafas lewat hidung dengan lembut, dan hembuskan lewat mulut, tersenyumlah, sadari tiap tarikan nafas adalah saat menimba energi dari Allah yg damai. Dan hembuskan hal hal negatif dari dalam dirimu. Rasakan kasih sayang Allah yg menghangatkanmu.
Actuating
Pola hidup apa yg perlu kubiasakan dan kuubah untuk makin rendah hati dan membina sikap damai dalam hidup.
Reflecting
Apakah hidupku setiap hari telah memperlihatkan sikap rendah hati dan pelaku damai dalam hidup.
Praying
Allah Bapa di surga, berilah kami hati yg damai, dan cinta kasih yg dalam kepada-Mu, agar kami layak meneguk keselamatan dan kepenuhan hidup yg sejati. Hingga kami makin bersikap rendah hati sebagaimana teladan Kristus Putera-Mu Tuhan dan pengantara kami. Amin.
Salam Veritas
Berkah Dalem
Sr. Albertine. OP
