SECERCAH HENING
Jumat, 28 Oktober 2022
Luk 6 : 12-19
“The Power of Prayer”
Terbius di lorong sunyi,
Meniti tangga hati,
Menepis gelisah dlm sepi,
Mendengarkan jd saat tersuci.
Mengisi diri dgn sikap bakti,
Memutuskan dlm keheningan hati,
Kobarkan sukacita di hati,
Warnai hari tuk makin melayani.
Apakah yg pertama tama kita lakukan saat kita akan membuat keputusan penting dalam hidup? Hampir sebagian besar kita menyebut doa . Apakah doa itu?. Saya jadi teringat saat saya masih SD diminta menghafal buku katekismus kecil, disitu di sebut berdoa adalah berbicara dengan Tuhan. Pengertian ini tidak salah, tetapi dalam perkembangan rohani selanjutnya. Doa adalah mendengarkan suara Allah bukan hanya berbicara dengan Allah. Aspek mendengarkan akan membawa kita pada pengalaman mengosongkan dunia batin kita, untuk diisi kehadiran Allah sendiri. Maka sangat masuk akal jika kita akan mengambil keputusan penting dalam hidup, kita berdoa supaya kita makin diteguhkan untuk mendengarkan, agar Allah sendiri memantapkan batin kita. Jika doa artinya berbicara maka dunia batin kita akan menjadi bising dan keputusan yg kita ambil bisa jadi bukan keputusan yg dikehendaki Allah, tetapi kehendak kita sendiri.Demikian juga bagi Yesus sebelum mengambil keputusan memilih para rasul Ia terlebih dahulu semalam malaman berdoa untuk mendengarkan suara Bapa dalam kesendirian. Seperti dalam Injil hari ini:
“Pada waktu itu pergilah Yesus ke bukit untuk berdoa dan semalam malaman Ia berdoa kepada Allah. Ketika hari siang, Ia memanggil murid-murid-Nya kepada-Nya, lalu memilih dari antara mereka dua belas orang, yg disebut rasul”.
Bagi Yesus hari siang adalah saat menyatakan buah dari keheningan yg ditimba dalam semalam malaman bersama Bapa. Kekuatan sebuah doa bagi Yesus menjadikan-Nya sanggup memilih dan menetapkan para rasulnya menurut cara pandang Bapa. Kuasa doa membuat-Nya menjadi pribadi yg lunak atau lembut untuk dibentuk oleh kuasa Roh, agar hidup makin sesuai dengan scenario Allah. Doa dalam hal ini bisa menjadi bentuk hubungan dengan Allah, bisa juga berupa sebuah sikap hidup. Doa sebagai bentuk hubungan membutuhkan ruang,waktu, dan tempat. Sedang doa sebagai sikap hidup adalah setiap saat, dimanapun,kapanpun,bagaimanapun,dengan siapapun hati terarah pada hubungan kasih dengan Allah. Bentuk hubungan yg makin mendalam lama kelamaan akan membentuk sikap hidup yg mendalam pula.Inilah salah satu kekuatan doa. Orang yg sungguh memiliki kedalam hidup doa, akan terlihat gaya dan sikap atau style hidupnya senantiasa memancarkan gaya hidup Allah. Pertanyaan bagi kita semua, apakah gaya hidupku selama ini sudah sesuai dengan kualitas doaku? Doa yg berkualitas akan senantiasa diwarnai oleh keheningan yg mendalam. Menurut Thomas Aquinas : Salah satu sumber kebahagiaan hidup manusia adalah keheningan. Marilah belajar dari Yesus, agar makin hari, kita makin memperdalam hidup doa bukan hanya saat akan mengalami hal besar dalam hidup, tetapi doa menjadi sebuah sikap hidup, agar kita senantiasa beroleh bahagia yg sejati. Janganlah ragu dan gelisahkan hatimu dengan aneka hal, tetapi menepilah sejenak jadikan setiap tarikan nafasmu menjadi doamu, supaya Allah mengisi hidupmu senantiasa.
Contemplating
Sadari tiap tarikan nafas kita menjadi saat hening untuk terarah pada Kristus dan berbuah pada keheningan dan kebahagiaan hidup.
Actuating
Membiasakan diri hening, sadari tiap saat adalah saat untuk hidup terarah pada Allah.
Reflecting
Apakah aneka peristiwa hidup, telah mengajariku untuk makin hening dan menatap kehidupan dengan penuh kasih sebagai sikap hidup.
Praying
Tuhan Yesus ajari kami memiliki hati seperti hati-Mu, agar dimanapun kami berada terus mampu menciptakan keheningan agar sepanjang hidup kami menjadi rangkaian doa yang menyelamatkan. Demi Kristus Tuhan kami. Amin.
Salam Veritas
Berkah Dalem
Sr. Albertine. OP
