SECERCAH HENING
Kamis, 2 Februari 2023
Luk 2: 22-40
“Dikuduskan”
Menari di lorong sepi,
Gapai mimpi tak bertepi,
Gundah hati digiling rapi,
Menepati janji ilahi.
Dalam tiap titian sunyi,
Hati merindu tanpa bunyi
Menata hati utk yg suci,
Kasih ilahi terus dicari.
Kerapuhan diri jadi saksi,
Yg suci ada di titian hari,
Mencintai tnpa batas lini,
Jiwa kembali d hati suci.
Jangan takut untuk menjadi kudus, karena kekudusan tidak membuatmu kurang manusiawi, karena kekudusan adalah perjumpaan antara kelemahanmu dan kekuatan rahmat Allah”
Seperti yang di sampaikan dalam seruan apostolik Bapa Suci Fransiskus tentang kekudusan (Gaudete et exultate)
Maka setiap orang sejatinya dipanggil untuk menjadi kudus, jalan kekudusan sangat berbeda-beda ada yg dipanggil sebagai biarawan biarawati dan imam atau dipanggil untuk hidup berkeluarga maupun selibater awam. Semua bentuk jalan kekudusan di awali dengan pembabtisan yg secara definitif dimasukkan sebagai anak-anak Allah atau anak terang. Namun dalam pertumbuhannya setiap orang diberi kebebasan mengembangkan kekudusannya masing-masing. Kanak-kanak Yesus sebagai anak laki-laki sulung sesuai hukum Taurat juga dibawa oleh Yusuf dan Maria diserahkan kepada Tuhan untuk dikuduskan,
Dan disambut oleh Simeon yg tidak akan mati sebelum melihat Mesias berkata:
“Sekarang Tuhan,biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firman-Mu, sebab mataku telah melihat keselamatan yg dari pada-Mu, yaitu terang yg menjadi pernyataan bagi bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umat-Mu, israel”.
Hidup yg dikuduskan adalah hidup yg dikhususkan atau hidup yg selalu diletakkan dalam konteks hubungan dengan Tuhan.Hidup yg demikian memberikan iklim kehidupan yg memungkinkan untuk mudah melihat segala sesuatu dalam terang Tuhan. Seperti Simeon ketika kanak-kanak Yesus dipersembahkan oleh orang tua-Nya, ia mampu melihat bahwa Dialah Mesias, yg tentu tidak bisa dilihat oleh orang lain yg tidak memiliki ketajaman mata ilahi. Dengan babtisan kitapun juga sudah dikuduskan dan diberi bekal untuk mampu melihat terang yg datang. Namun karena kita sering tidak menyadari bahwa hidup setiap haripun harus dikuduskan terus-menerus maka mata kita sering kebal, suram sehingga sulit melihat terang yg datang.
Jangan ragu dan takut untuk terus percaya dan memandang kehidupan ini dengan lebih positif sebagai pintu awal membangun kesadaran akan kekudusan. Sebab kekudusan bukan sesuatu yg ideal dan jauh tetapi realitas di depan mata lewat sikap yg sederhana:
mengubah setiap keluhan menjadi ucapan syukur, setiap curhatan menjadi pujian, setiap keinginan menggosip menjadi upaya penghiburan dan setiap keputusasaan menjadi bahasa pengharapan untuk saling meneguhkan.
Jangan gelisahkan hatimu dengan carut marut pesan berantai, tetapi jernihkan hatimu dengan kehadiranNya yg teduh lewat doamu, pekerjaanmu, pergaulanmu dan mimpi mimpimu. Dan belajar memberi ruang dan waktu yg tak tergantikan untuk terus terkoneksi dengan Allah. Maka dekat saja tidak cukup, tetapi rela bersambung rasa yg alami dengan secara terus menerus dengan Tuhan, hingga kita memiliki frekuensi atau gelombang yg sama dalam memandang kenyataan apapun.
Contemplating
Mari kita heningkan jiwa, raga,rasa, hati, budi dan hati untuk menyelami suasana Natal yg kudus, dengan mendekatkan diri pada kehadiran Allah.
Actuating
Pola hidup apa yg perlu kubiasakan dan kuubah untuk bisa menguduskan hari-hari hidup kita.
Reflecting
Semangat pembaharuan apa yg akan saya wujudkan mulai hari ini, sebagai pembiasaan hidup dalam terang.
Praying
Bapa kami bersyukur boleh melewati perayaan Natal dengan penuh damai, semoga jejak jejak baik perayaan ini, dapat kami wujudkan dengan hidup yg makin bersemangat untuk kebaikan dan berani menanggung resiko, karena yakin seberat apapun akan dapat kami tanggung karena Engkau beserta kami. Karena Kristus Tuhan kami. Amin.
Salam Veritas
Berkah Dalem
Sr. Albertine. OP
