SECERCAH HENING
Sabtu, 13 Juli 2024
Mat 10: 24-33
Usap duka dari perasan air mata,
Usap kepedihan di titian luka,
Peluk aneka berita dg doa,
Tatap langit dg mata terbuka.
Harapan tersedia diujung mata,
Rangkul krisis dgn hati lega,
Ulas hari dgn senyum sukacita,
Jalani hidup dgn iman membara.
Ketakutan takkan menambah apapun dalam mengatasi bayangan kecemasanmu, sebaliknya ketakutan selalu membuatmu terkungkung untuk bisa melangkah maju. Ketakutan tidak akan meghancurkan kekuatiran hari esok tetapi justru memusnahkan kegembiraan.
Di era kecanggihan teknologi saat ini yang membuat hidup manusia memiliki banyak kemudahan. Namun seiring kemajuan itu manusia makin dihantui oleh aneka ketakutan dan kecemasan. Yesus adalah Tuhan sepanjang jaman. Sabda-Nya abadi menjangkau kehidupan manusia dari generasi ke generasi. Dan hari ini Sabda-Nya memberi pengharapan dengan menyebut “Jangan takut” sampai 4 kali dalam perikop yg singkat ini. Hal ini mau menegaskan bahwa tak ada hal yang terjadi dalam kehidupan yg terlepas dari scenario Allah. Seperti dalam Sabda:
“Dan kamu rambut kepalamu pun terhitung semuanya. Sebab itu janganlah kamu takut, karena kamu lebih berharga dari pada banyak burung pipit”.
Menjadi pribadi yang percaya dan mengimani Yesus membuat kita menjadi makluk yg bermartabat yang secitra dengan-Nya. Sebagai ciptaan yang paling bermartabat, kita diharapkan memiliki kontribusi yang lebih dari burung pipit. Kalau burung pipit saja tiap hari bersiul untuk memuji Allah setiap waktu. Apakah hidup kita juga mampu memuji Allah dengan hidup penuh kegembiraan, dalam sikap, tindakan, pekerjaan dan dalam suka dan duka. Memaknai setiap kecemasan dan ketakutan menjadi kesempatan untuk rendah hati dan mengandalkan Allah. Terutama masa krisis pandemi ini, ruang -ruang privat kita juga dipenuhi oleh ketakutan dan keresahan karena orang-orang baik yg kita kenal, bahkan keluarga kita mulai satu persatu dipanggil Tuhan dan meninggalkan kita selamanya. Tiga tahun lalu kita ingat, tiap hari sirene kematian mewarnai hari-hari kita disertai berita kematian yg terus gilir gumanti. Masih sanggupkah kita hidup penuh sukacita?. Jawabnya masih!! karena kita punya Tuhan yg hidup dan bangkit dari kematian terberat. Maka justru disaat krisis harapan inilah kita ditarik oleh pelukannya, belajar merangkul setiap duka dengan kesediaan untuk menjadi teman seperjalanan bagi saudara saudari kita yg berduka. Perwartaan melalui kehadiran baik secara virtual maupun tatap muka menjadi jawaban kita untuk menebarkan pengharapan di tengah dunia yg berduka. Mari jangan kehilangan harapan dan sukacita karena bersama Tuhan hari esok yg cerah disedikan bagi kita. Seperti burung pipit tak pernah kehilangan sukacita saat cuaca cerah maupun kelam. Rahmat Tuhan mengawali tiap langkah pertama bagi hati yg penuh iman dan harapan.
Contemplating
Marilah kita mengheningkan seluruh indera kita agar makin menemukan kedamaian.
Actuating
Pola hidup apa yang perlu kubiasakan dan kuubah agar memiliki keberanian untuk setia pada panggilan Tuhan dalam hidup sehari-hari.
Reflecting
Apakah hidupku mudah diombang ambing oleh ketakutan dan kekuatiran ataukah senantiasa mengandalkan rahmat Tuhan.
Praying
Allah Bapa yang maha kasih. Ajarilah kami peka menangkap dan merasakan karya-Mu yg dasyat dalam hidup kami setiap hari. Hingga kami makin berani menjadi utusan-Mu. Demi Kristus Tuhan kami. Amin.
Salam Veritas
Berkah Dalem
Sr. Albertine. OP
