SECERCAH HENING
Jumat, 28 April 2023
Yoh 6 : 52-59
” Inkorporasi”
Nalar yg tak terjangkau,
Namun tetap memukau,
Realiatas aku dan Engkau,
Menyatu dlm angan yg terpukau.
Menubuh lembut dlm jiwa,
Terpeluk erat mengubah rasa,
Berinisiatif dalam tiap karsa,
Berenergi lampaui batas raga.
jiwa yg menubuh. Manakala kekuatan cinta itu makin dalam, maka tidak hanya tubuh yg menyatu, tapi jiwa dan batinpun akan menyatu dalam gelombang delta yg sama menuju kepenuhan.
Sekedar ilustrasi pencarian makna hidup setiap orang. Disadari atau tidak
semua orang jaman ini terobsesi untuk menjadi bahagia, tidak pandang umur. Anak-anak, remaja, tengah umur bahkan masa senja. Kebahagiaan sering diukur oleh banyaknya harta, status, relasi, jabatan, namun lupa bahwa Kebahagiaan yang sejati sesungguhnya adalah hidup dalam kepenuhan dan kepenuhan yang sesungguhnya adalah hidup dalam kepenuhan Tuhan. Dan Yesus telah menawarkan itu dengan cuma-cuma dengan memberikan tubuhNya sendiri sebagai sumber kepenuhan. Namun tidak semua orang bisa memahaminya termasuk orang-orang Yahudi bertengkar diantara mereka:
“Bagaimana Ia ini dapat memberikan dagingNya kepada kita untuk dimakan”.
Hanya orang yang percaya dan mengimanilah, Yesus sungguh-sungguh menjadi kepenuhan. Maka berkali-kali Ia menegaskan :
“Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darahNya, kamu tidak mempunyai hidup didalam dirimu”. “Barangsiapa makan dagingKu dan minum darahKu, ia tinggal didalam Aku dan Aku didalam dia”.
Janji kehadiran Yesus dalam diri orang yang mengimani tidak hanya menguatkan tetapi “Tinggal” artinya menyatu. Turut menanggung apa yang kita tanggung, mengalami apa yang kita alami, mencintai apa yang kita cintai, merasakan apa yang kita rasakan, memikirkan apa yang kita pusingkan, dan menarik kita menurut KehendakNya menjadi realitas iman dan rahmat. Yang dibutuhkan dari kita hanyalah belajar percaya, membuka hati dan menyerahkan hidup dalam tuntunanNya. Yang puncaknya kita hayati tiap kita merayakan ekaristi. Dan mengalir menjadi ekaristi yang hidup dalam realitas keseharian kita.
Jangan takut menghadapi kerasnya kehidupan ini, sebab Diapun juga ikut menanggung apa yg kita alami. Yang diminta kita adalah percaya dan mendekat padaNya hingga Ia menjadi langkah pertama dari setiap jalan yg akan kita tapaki.
Contemplating
Marilah kita hening, menyentuh kedalaman hati, belajar memandang, merasakan kepenuhan Allah dalam jiwa kita, adakah kedamaian disana…?
Actuating
Pola hidup apa yang perlu kubiasakan untuk makin peka merasakan sapaan kehadiran Tuhan dalam realitas hidup.
Reflecting
Apakah perayaan ekaristi yang kuikuti, telah kuhayati sebagai pengalaman Yesus yang tinggal menyatu dengan jiwa ragaku?
Praying
Yesus, tinggallah dihatiku, penuhilah, jamahlah, sembuhkanlah luka-luka jiwaku, agar aku boleh mengalami kepenuhan hidup didalam Engkau. Hinngga hidupku menjadi baru. Demi kemuliaanMu dan keselamatan kami, kini dan sepanjang masa. Amin.
Salam Veritas
Berkah Dalem
Sr. Albertine,OP
