SECERCAH HENING
Sabtu, 29 April 2023
Yoh 6 : 60-69
“Proses Formasi”
Terayun sendu di senja hari,
Berpeluh terik di siang hari,
Meratapi kemandekan diri,
Menapaki hari dalam niat suci,
Integritas diuji tiap hari,
Air mata jadi teman bermimpi,
Lelah tanda pemberian diri,
Indah saat hari mulai menepi.
Setiap bentuk panggilan dan pilihan hidup selalu diiringi dengan proses formasi, ada yang diprogram dengan jelas dan tegas. Ada yang berproses mengalir dan diuji dalam ruang dan waktu, namun pada satu titik tertentu orang akan tahu dan sadar, harus jalan terus, atau tetap jalan ditempat atau mundur, menggubah haluan. Dan proses itu dibutuhkan integritas untuk memantapkan identitas diri. Demikian juga dalam mengikuti dan mengimani Kristus sebagai jalan kebenaran dan hidup, dibutuhkan masa-masa formasi iman yang tidak mudah. Pengajaran tentang “Roti Hidup” tidak serta merta membawa peneguhan bagi para murid, tetapi justru bisa menggoncangkan iman mereka, karena untuk memahami bahwa Yesus sebagai Roti Hidup butuh penerangan Roh Kudus. Dan tidak semua orang terbuka untuk bisa memahami misteri ini. Maka setelah beberapa sesi pengajaran itu justru para murid terguncang
“Perkataan ini keras, siapakah sanggup mendengarnya?”.
Dan figur Petrus tetaplah Petrus hadir dengan identitasnya yang khas spontan dalam :
“Tuhan kepada siapa kami akan pergi, perkataanMu adalah hidup dan kekal”.
Mungkin Petrus sendiri tidak tahu apa arti yang dikatakan itu, tetapi oleh integritas pribadinya yang kuat ketika berhubungan dengan Yesus. Membuat ia mantap disaat terpuruk, tak lengah disaat terjepit. Karena dari situasi itu identitas sebagai pengikut Kristus dikokohkan. Karena Yesus sendiri menghendaki sikap yang tidak suam-suam kuku.
Mari jangan gelisahkan hatimu untuk hal yg tidak perlu, fokuskanlah hidupmu untuk mengikuti jalan Tuhan. Dan jangan mundur oleh aneka kesulitan hidup, karena dari padanya hidupmu akan matang dan bahagia di ujung waktumu.
Contemplating
Marilah kita hening, menyentuh kedalaman hati, belajar memandang, merasakan kepenuhan Allah dalam jiwa kita, adakah kedamaian disana.
Actuating
Membiasakan untuk makin peka merasakan sapaan kehadiran Tuhan dalam realitas hidup.
Reflecting
Belajar memaknai bahwa perayaan ekaristi yang kita ikuti, adalah saat mencecap bahwa Yesus yang tinggal menyatu dengan jiwa ragaku.
Praying
Yesus, tinggallah dihatiku, penuhilah, jamahlah, sembuhkanlah luka-luka jiwaku, agar aku boleh mengalami kepenuhan hidup didalam Engkau. Hingga hidupku menjadi baru. Demi kemuliaanMu dan keselamatan kami, kini dan sepanjang masa. Amin.
Salam Veritas
Berkah Dalem
Sr. Albertine,OP
