SECERCAH HENING
Kamis, 27 April 2023
Yoh 6 : 44-51
“Makanan Jiwa”
Menubuh dalam rasa,
Tercecap secara nyata,
Tersapa dalam vibrasi maya,
Hadir mengisi jiwa.
Terkunyah dlm rindu yg mengada,
Terserap dlm iman yg tersapa,
Menubuh dalam jiwa,
Berenergi mengobarkan rasa.
Kematangan untuk mencintai adalah suatu proses memberi dengan hati, meski kadang berada dalam teriknya sepi yg sesaat lupa untuk berteduh dalam lautan kedamaian yg kian menepi. Sekedar ilustrasi orang jaman ini sadar akan kebahagiaan lewat perhatian akan kesehatan diri atau penampilan yg sangat tinggi. Hingga mulai rajin mengikuti program diet, olah raga rutin, program perawatan, spa, yoga dan lain-lain. Semua dilakukan agar tetap terjaga kesehatan jiwa raga dan penampilannya sampai akhir masa senja tetap sehat dan bahagia. Namun apakah semangat dan anggaran yang sama juga diupayakan seserius program perawatan untuk jiwanya???? Hanya kita masing-masing yang bisa menjawabnya. Maka dalam sabda hari ini nampaknya Yesus sangat tahu kebutuhan apa yang paling mendesak dan utama untuk manusia jaman ini.
“Akulah roti hidup yang telah turun dari surga. Jikalau seseorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang Kuberikan itu ialah dagingKu, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia”.
Makin jelas, yang paling dibutuhkan makanan dan gizi untuk rohani/jiwa kita ternyata justru saat masih hidup di dunia. Dan Yesus sangat intens menyebut berkali-kali tentang tubuh-Nya yang hendaknya menjadi makanan. Hal ini merupakan ajakan agar kita menyatukan tubuh-Nya dalam hidup kita. “Manunggaling kawula lan Gusti” hanya dengan simbul roti satu-satunya yang bisa dimengerti saat itu karena menjadi makanan utama bagi masyarakat Yahudi ada jaman Yesus, yang mungkin bagi kita adalah nasi. Semoga Sabda ini menginspirasi kita untuk dengan gigih mau mengupayakan keseimbangan hidup dengan memberi waktu dan hati untuk kesehatan rohani kita dengan menyambut tubuh Tuhan dalam ekaristi dan doa-doa kita. Mengapa di saat pandemi lalu, Gereja di seluruh dunia tetap hadir melayani perayaan ekaristi sebagai pusat hidup iman kita meski lewat live streaming bagi umat setiap hari. Hal ini penting bahwa Allah melalui Gereja berisiatif hadir sebagai roti hidup atau kekuatan bagi kita agar bisa bertahan di saat saat gelap dan penuh kegalauan ini. Imun tubuh yg terus diupayakan agar mampu menangkal berbagai penyakit, bukan hanya dengan meningkatkan imun tubuh, tetapi yg lebih utama harus kita imbangi dengan makanan jiwa yg memberi kedamaian, menguatkan iman, dan menyuburkan kasih yg menyelamatkan di tengah aneka kegoncangan hidup ini. Mari kita tetap setiap menanggapi tawaran santapan termahal yg ditawarkan Allah lewat Tubuh Kristus sebagai roti yg hidup bagi keselamatan jiwa kita. Maka setiap kali perayaan ekaristi mari kita resapi, kita kunyah, cecap dan libatkan jiwa kita untuk masuk dalam misteri iman yg menguatkan dan akan menyelamatkan kita sampai hidup yg kekal.
Contemplating
Marilah kita hening, menyentuh kedalaman hati, belajar memandang, merasakan kembali Allah dalam jiwa kita.
Actuating
Pola hidup apa yang perlu kubiasakan untuk makin peka merasakan sapaan Cinta Allah dalam realitas hidup.
Reflecting
Apakah perayaan ekaristi yang kita ikuti, telah kita hayati dan salami sebagai pengalaman untuk kesehatan rohani dan jiwa kita? Ataukah tidak punya waktu lagi untuk mengupayakannya?
Praying
Allah Bapa kami, berilah kami hati yang peka dan jiwa yang penuh cinta, agar dahaga jiwa kami dipenuhi oleh kehadiranMu. Hingga Kristus makin menjadi jawaban dalam setiap suka, duka dan kegalauan hidup kami. Demi Kristus Tuhan dan penyelamat kami. Amin.
Salam Veritas
Berkah Dalem
Sr. Albertine,OP
