Menu Termahal

SECERCAH HENING
Rabu, 26 April 2023

Yoh 6 : 35-40

“Menu termahal”

Terjerembab duka,
Hati teriris luka,
Kehilangan yg tertunda,
Datanglah agar tak dahaga.

Haus yg tak bisa ditunda,
Dia menyapa lewat duka,
Datanglah kapan saja,
Roti hidup tersedia untuk anda.

Kegagalan atau penderitaan terbesar dalam hidup manusia sesungguhnya adalah manakala tidak mencintai dan dicintai oleh seorangpun. Meskipun pernah ada anekdot orang lapar dan haus saat itu ia tak butuh cinta tapi butuh nasi dan air untuk menyambung hidup, namun betapa nasi dan air yang diterima tanpa cinta yg terulur akan terasa hambar tanpa rasa. Cinta memberikan daya yang menghidupkan meski sekering apapun situasi. Demikian hidup manusia lahir bertumbuh kembang dan mati menyongsong keabadian tak lepas dari pemenuhan Visi agung Sang Cinta yakni Allah sendiri. Hal itulah yg sesungguhnya terjadi dalam hidup para murid, maka Yesus bersabda dalam Injil hari ini:

“Akulah roti hidup, barangsiapa datang kepadaKu, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepadaKu, ia tidak akan haus lagi”.

Cuplikan Sabda ini mau menegaskan dengan simbolisasi bahwa kelaparan dan kehausan yang paling hakiki dalam hidup kita sesungguhnya bukan soal ragawi cukup dipenuhi dengan nasi atau roti dan air minum sebagai asupan fisik, tetapi soal asupan jiwa atau ‘the salvation of soul’ yang hanya bisa dipenuhi dengan kepenuhan iman dalam kehadiran Tuhan sebagai gerak turun Cinta Allah yang menyapa. Perayaan Ekaristi menjadi pemenuhan akan lapar dan haus jiwa yang lahir berkat Cinta Allah. Cinta ini akan membawa dampak penyembuhan yang luar biasa jika diterima dengan cinta yang sama dari kita. Seperti teladan hidup St. Katarina dari Siena yg mulai kita doakan doa novena menyambut pestanya. Selama hidupnya St. Katarina dari Siena terbakar oleh cinta yg dalam pada Allah sehingga sejak masa kanak-kanak secara rohani ia telah menjadi mempelai ilahi. Buah dari ikatan cinta itu Ia mampu berperan sebagai pujangga Gereja.
Tanpa cinta dan iman yang mengalir dari kedalaman hati, membuat perayaan ekaristi hanya menjadi rutinitas tanpa makna. Karena dari padanya kita diundang dan dilibatkan oleh Rahmat untuk berbagi sebagai manusia ekaristis yakni menjadi roti yang yang hidup bagi sesama. Semoga sikap dan tindakan kita mampu : Menginspirasi, memberi kesegaran, meneguhkan, menguatkan yang lemah dan menghidupkan harapan bagi yang putus asa agar tidak ada seorangpun yang hilang dari jangkauan Cinta Allah. Terutama di saat saat penuh duka akibat pandemi ini. Yesus yg menawarkan diri sebagai santapan dari menu termahal di restoran kerajaan Allah menarik kita, untuk singgah dan merindukan santapan jiwa sebagai kekuatan yg tak habis ditimba , dicintai dan dirindukan.

Contemplating
Marilah kita hening, menyentuh kedalaman hati, belajar memandang, merasakan kembali Allah yang telah mengenyangkan dan menyejukkan dahaga jiwa kita. Sadari dan rasakan.

Actuating
Pola hidup apa yang perlu kubiasakan untuk makin peka merasakan sapaan Cinta Allah dalam realitas hidup.

Reflecting
Apakah perayaan ekaristi yang kita ikuti telah kita hayati dan salami sebagai pengalaman Cinta yang hidup dan menyembuhkanku? Atau sekedar rutinitas dan kewajiban?

Praying
Allah Bapa kami, berilah kami hati yang peka dan jiwa yang penuh cinta, agar dahaga jiwa kami dipenuhi oleh kehadiranMu. Hingga Kristus makin menjadi jawaban dalam setiap suka duka dan kegalauan hidup kami. Demi Kristus Tuhan dan penyelamat kami. Amin.

Salam Veritas
Berkah Dalem
Sr. Albertine,OP

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *