Jalan Kesederhanaan

SECERCAH HENING
Jumat, 20 September 2024

Luk 8: 1-3

Mendekat lekat pada rahmat,
Terbius oleh tatapan yg lekat,
Menarik dari relung tanpa sekat,
Siluet menembus hidup yg pekat.

Hati trus menepi di ujung hari,
Menarik diri tuk berpeluk sepi,
Bersahaja cara tuk makin mencintai,
Keindahan terpantul dari hati yg suci.

Pernahkah kita mengalami sebuah perjumpaan yg mengubah? Saya sendiri masih belum “move on” dengan pengalaman perjumpaan iman dengan kedatangan Bapa Suci ke Indonesia. Khususnya saat audiensi di Katedral Jakarta dan tentu saat misa akbar di GBK. Kehadiran yg sangat sederhana dalam aneka wujud bahkan dengan keterbatasan bergerak karena usia tidak membatasi gerakan vibrasi sukacita dan berkat yg mengalir masih terasa membekas hingga kini.Dan ternyata Bapa Sucipun amat terkesan dengan pertumbuhan iman Gereja Asia terutama Indonesia dimana umat katolik Indonesia yg hanya 3% di tengah mayoritas umat islam terbesar. Sebuah oase kehidupan yg pantas kita syukuri
Pengaruh perjumpaan itulah sebagai saat “on going formation” bagi kita. Hingga Bapa Suci mudah tergerak dan menyapa anak anak kecil di pinggir jalan untuk menawarkan gaya hidup dan semangat pelayanan yg tak berbelit sebagai yg melayani bukan minta dilayani. Gambaran itu kurang lebih seirama dengan pesan Injil hari ini.

“Yesus berkeliling dari kota ke kota dan dari desa ke desa memberitakan Injil Kerajaan Allah. Kedua belas murid-Nya bersama sama dengan Dia, dan juga beberapa perempuan yaitu Maria Magdalena,Yohana isteri Khuza bendahara Herodes, Susana dan banyak perempuan lain”.

Yang menarik dari perikop ini adalah para perempuan yg mengikuti Yesus adalah bukan sembarang perempuan.
Yohana dan Susana adalah isteri pejabat yg hidupnya pasti penuh kelimpahan dan kegemerlapan hidup, sedang Maria Magdalena juga memiliki gaya hidup yg penuh dengan pergulatan nafsu duniawi yg gemerlap pula. Setelah berjumpa dengan Yesus warna hidupnya menjadi berbalik arah 180 derajad. Semua berubah dan berbalik arah karena gaya hidup Yesus yg diikuti bertolak belakang dengan gaya hidup kegemerlapan mereka sebelumnya. Pembalikan arah hidup yg terjadi bukan soal gaya sosialitasnya tetapi menyangkut ranah hidup batin dan komitmen yg mengubahnya dari dalam. Hingga rela melepas segala kenyamanan demi mengikuti Yesus. Apakah perjumpaan dan pengenalan kita dengan Yesus, juga sudah membentuk dan mengubah gaya hidup kita ? Apakah perjumpaan sesama dengan kita juga sudah mampu memberi vibran positif yang memberi perubahan gaya hidup yg makin selaras dengan gaya hidup Yesus? Atau malah makin bergaya sekedar mengikuti tren kekinian tanpa makna? Ataukah malah mati gaya tanpa smangat?.
Jangan gelisahkan hatimu dengan aneka hal, masuklah lebih dalam ke relung hatimu, niscaya engkau akan makin menepi untuk hidup makin sederhana dengan asupan hati yg makin damai, sigap menanggapi setiap realitas dengan hati yg terbuka dan bersukacita.

Contemplating
Marilah kita masuk dalam keheningan batin, rasakan dan resapi Yesus yg menjamah setiap sisi kehidupan kita.

Actuating
Perubahan pola hidup macam apa yg ingin kita lakukan sebagai bentuk perubahan gaya hidup setelah mengenal Yesus.

Reflecting
Apakah aneka peristiwa hidup, telah mengajariku untuk makin matang bergaya hidup pengikut Yesus.

Praying
Tuhan Yesus berilah kami kasih terdalam agar berani hidup dalam semangat kasih dan pengampunan,hingga bersama semua orang kami dapat membangun gaya hidup baru seturut dengan semangat–Mu.
Demi Kristus Tuhan kami. Amin.

Salam Veritas
Berkah Dalem
Sr. Albertine. OP

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *